AS pangkas drastis dukungan pesawat dan kapal perang di NATO, Eropa terguncang dan dipaksa mandiri
Istimewa AIRSPACE REVIEW — Sebuah gelombang kejutan diplomatik dan militer melanda benua Eropa setelah Amerika Serikat secara resmi mengumumkan rencana pengurangan besar-besaran kontribusi militernya terhadap Aliansi Atlantik Utara (NATO).
Kebijakan ini disampaikan langsung oleh Alexander Velez-Green, utusan khusus dari Menteri Perang AS Pete Hegseth, dalam sebuah pertemuan tertutup dengan para pejabat tinggi Eropa di markas besar NATO, Brussels.
Langkah mendadak dari pemerintahan Donald Trump ini memaksa negara-negara Eropa untuk segera merombak total strategi pertahanan konvensional mereka.
Rencana restrukturisasi kekuatan yang pertama kali diungkap oleh majalah Jerman, Der Spiegel, dan dikonfirmasi oleh Reuters ini mengincar pos-pos krusial dalam NATO Force Model, yaitu model pasukan reaksi cepat aliansi.
Berdasarkan cetak biru tersebut, Washington bakal memotong komitmen jet tempurnya hingga sepertiga atau sekitar 33 persen, serta memangkas armada pesawat pembom strategisnya hingga setengahnya.
Tidak hanya di udara, pengurangan signifikan juga terjadi di sektor laut melalui pengurangan jumlah kapal perusak (destroyer).
Bahkan, langkah yang paling mengejutkan bagi sekutu Eropa adalah keputusan AS untuk menghapus sepenuhnya kontribusi kapal selam dari daftar bantuan darurat NATO.
Selain armada tempur utama, Pentagon juga memangkas drastis dukungan logistik udara yang selama ini menjadi tulang punggung operasi aliansi.
AS akan mengurangi keterlibatan pesawat pengisi bahan bakar di udara (aerial refueling) serta drone pengintai tak berawak.
Kehilangan ini menjadi pukulan telak bagi Eropa, mengingat selama ini mereka sangat bergantung pada keunggulan teknologi pengintaian dan logistik jarak jauh milik AS.
Tanpa dukungan tersebut, kemampuan militer Eropa untuk meluncurkan operasi udara secara mandiri dan cepat dipastikan bakal pincang.
Para pejabat pertahanan Eropa dilaporkan sangat terkejut, bukan hanya karena skala pemangkasan yang masif, melainkan juga karena urgensi dan tenggat waktu yang sangat mendesak dari Washington.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa langkah ini bukan berarti mereka meninggalkan Eropa sepenuhnya.
Washington berjanji akan tetap mempertahankan payung pencegahan nuklir (nuclear deterrence) untuk melindungi aliansi dari ancaman eksternal, namun menuntut Eropa untuk memikul tanggung jawab penuh atas pertahanan darat, laut, dan udara mereka sendiri.
Ada dua alasan strategis utama di balik keputusan radikal ini. Pertama, Pentagon membutuhkan fleksibilitas taktis yang lebih besar untuk menggeser aset-aset tempur canggihnya ke kawasan Indo-Pasifik demi membendung kekuatan militer China yang kian agresif.
Kedua, kebijakan ini sejalan dengan doktrin pembarian beban (burden-sharing) yang diusung Trump. Presiden AS ini sejak lama mengkritik negara-negara kaya Eropa karena dianggap terlalu mengandalkan anggaran wajib pajak Amerika untuk keamanan mereka sendiri.
Pengumuman ini menjadi alarm keras bagi masa depan geopolitik Eropa. Detail teknis mengenai reorganisasi militer ini rencananya akan dipaparkan lebih lanjut oleh utusan AS pada konferensi pembentukan pasukan NATO mendatang.
Kini, negara-negara Eropa berpacu dengan waktu untuk menambal kekosongan tersebut dengan merombak anggaran belanja militer, mempercepat pengadaan alutsista mandiri, dan mengonsolidasikan kekuatan internal demi menghadapi lanskap keamanan baru yang tidak lagi dimanjakan oleh kehadiran Pentagon. (RNS)
