Kejutkan Barat, Iran mulai produksi kembali rudal balistik pascaserangan udara

Rudal Balistik IranReuters

AIRSPACE REVIEW – Evaluasi terbaru dari intelijen Amerika Serikat dan Israel menunjukkan bahwa industri pertahanan Iran ternyata tidak selumpuh yang diperkirakan sebelumnya.

Republik Islam tersebut dilaporkan telah mendirikan kembali lini produksi untuk rudal balistik dan sistem persenjataan utama lainnya pascaserangan udara skala besar beberapa waktu lalu.

Menurut laporan dari Mako.co.il dan CNN yang mengutip sumber intelijen, Teheran kini telah mengaktifkan kembali sebagian dari rantai produksi militernya.

Penilaian ini mematahkan klaim Barat sebelumnya yang sempat menyebut bahwa kompleks industri pertahanan Iran telah lumpuh total akibat pengeboman oleh AS dan Israel.

Seorang pejabat senior Israel mengonfirmasi bahwa Iran memulai kembali produksi terbatas untuk sistem persenjataan “paling krusial”.

Proses ini memanfaatkan komponen-komponen yang selamat dari serangan, memperbaiki infrastruktur yang rusak, serta mengoptimalkan fasilitas militer yang luput dari target.

Selain memproduksi rudal balistik baru, Iran juga tengah memulihkan sistem peluncur (launcher), rudal pertahanan udara, serta drone ofensif.

Teheran bahkan mengaktifkan kembali rudal dan sistem peluncur cadangan yang sebelumnya disimpan di dalam jaringan terowongan bawah tanah yang sempat terblokir selama konflik.

Para pejabat intelijen Israel awalnya memperkirakan Iran akan membutuhkan waktu lama untuk bangkit.

Namun kini, mereka memprediksi Iran mampu memulihkan jaringan drone ofensifnya dalam hitungan bulan, dan meningkatkan kapasitas produksi rudal balistik secara signifikan dalam waktu satu tahun, atau bahkan lebih cepat.

Kecepatan pemulihan ini diakui melampaui semua prediksi dan garis waktu (timeline) yang sempat diperkirakan oleh komunitas intelijen Barat.

Sumber CNN menyebutkan bahwa pemulihan kilat ini kemungkinan besar mendapat sokongan dari sekutu asingnya, seperti Rusia dan China.

Selain itu, dampak kerusakan dari serangan udara AS dan Israel ternyata tidak sedahsyat yang diperkirakan semula.

Beberapa fasilitas industri pertahanan Iran hanya mengalami kerusakan ringan, bahkan sebagian lainnya sama sekali tidak tersentuh oleh serangan.

Meskipun pada Maret 2026 militer AS sempat menghancurkan bengkel kerja utama di pabrik rudal balistik Karaj serta fasilitas bahan bakar padat di Shahrud, kemampuan adaptasi militer Iran terbukti membuat lini produksi mereka kembali berputar lebih cepat dari dugaan di atas kertas. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *