Mampu lumpuhkan drone serat optik, sishanud TOLGA buatan Turkiye bikin Yunani berpikir dua kali
MKE AIRSPACE REVIEW – Sistem pertahanan udara jarak dekat (CIWS) terbaru buatan Turkiye, TOLGA, dilaporkan berhasil mencuri perhatian besar dari media-media Yunani.
Kehadiran sistem defensif mutakhir yang dikembangkan oleh perusahaan pertahanan Makine ve Kimya Endüstrisi (MKE) ini dinilai bakal memaksa Athena untuk menghitung ulang strategi perang drone mereka di kawasan Aegea dan Mediterania Timur.
Sorotan utama pers Yunani tertuju pada integrasi Senjata Elektromagnetik Berdaya Tinggi (HPeM) ke dalam sistem TOLGA, yang dipamerkan dalam lingkup Latihan Militer EFES 2026.
Langkah inovatif Ankara ini dipandang sebagai jawaban taktis paling mematikan dalam menghadapi tren peperangan drone modern.
Media Yunani mengulas TOLGA sebagai solusi antidrone berlapis yang dirancang khusus untuk menetralisasi UAV mini/mikro, drone FPV (First-Person View), serta drone kamikaze.
Sistem HPeM yang tertanam pada TOLGA bekerja dengan cara memancarkan pulsa elektromagnetik untuk merusak komponen elektronik internal target secara instan.
Menariknya, media Yunani menggarisbawahi bahwa sistem pengacak (jammer) konvensional biasanya mandul saat menghadapi drone yang dikendalikan lewat kabel serat optik.
Namun, kehadiran teknologi berbasis HPeM seperti TOLGA menawarkan pendekatan berbeda yang mampu memutus ancaman drone jenis tersebut tanpa memedulikan sistem pemandunya.
Sebagai sistem pertahanan, TOLGA mengombinasikan radar seluler, sensor elektro-optik, sistem peperangan elektronik, dan elemen penghancur kinetik di bawah satu komando terpadu.
Sistem ini sangat fleksibel dalam menggunakan persenjataan, mulai dari kaliber 35 mm, 20 mm, hingga 12,7 mm.
Amunisi khusus yang digunakannya mampu menciptakan efek partikel padat berupa “dinding pembatas” di udara untuk melumpuhkan drone seketika.
Keberhasilan TOLGA dalam uji coba menggunakan amunisi asli di Konya, di mana sistem ini dengan akurasi tinggi merontokkan drone FPV dan drone sayap tetap (fixed-wing), menjadi poin yang paling mencemaskan bagi para analis militer di Athena.
Laporan media setempat menambahkan bahwa TOLGA diproyeksikan untuk bertugas di lapisan ketinggian sangat rendah dalam arsitektur pertahanan udara terintegrasi Turkiye yang dikenal sebagai Çelik Kubbe (Steel Dome).
Karena sifatnya yang defensif dan fleksibel, TOLGA dapat dengan mudah diintegrasikan pada kendaraan taktis 4X4, platform lapis baja, hingga kapal perang.
Selain TOLGA, media Yunani juga mengamati teknologi buatan ASELSAN, seperti sistem kontra-taktis elektromagnetik EJDERHA (termasuk varian EJDERHA/AD 200 dan EJDERHA/AD 210) yang memiliki kemampuan serupa dalam melumpuhkan UAV.
Secara keseluruhan, analisis media Yunani menunjukkan ketegangan taktis baru.
Investasi masif Ankara pada teknologi pertahanan elektronik berbiaya rendah namun masif ini dinilai berhasil menciptakan perimbangan kekuatan baru, yang membuat setiap strategi ofensif menggunakan drone di kawasan tersebut harus dipikirkan kembali secara matang. (PN)
