Gantikan peran helikopter intai OH-58D yang menua, AD Taiwan pilih drone hibrida JUMP 20 berkemampuan VTOL
Kyle Baskin AIRSPACE REVIEW – Angkatan Darat Taiwan sedang bersiap untuk membentuk unit pesawat nirawak khusus di dalam brigade penerbangannya, sebagai bagian dari rencana restrukturisasi kekuatannya secara bertahap.
Menurut laporan United Daily News, Brigade Penerbangan ke-601, ke-602, dan ke-603 masing-masing diharapkan membentuk unit operasi dengan drone JUMP 20.
Kehadiran drone baru ini dimaksudkan untuk mengambil alih peran akuisisi dan penunjukan target yang sebelumnya dilakukan oleh OH-58D Kiowa Warrior, yang telah beroperasi selama lebih dari dua dekade.
Laporan tersebut juga menyatakan bahwa misi dukungan tembakan yang saat ini dilakukan oleh OH-58D diharapkan akan beralih ke program helikopter UH-60M Black Hawk varian bersenjata dalam dua tahun ke depan.
Selanjutnya drone-drone tersebut akan bertugas mendukung misi helikopter serang UH-60M, khususnya sebagai penunjuk target laser untuk serangan rudal AGM-114 Hellfire terhadap target darat dan maritim.
Mengenai JUMP 20 adalah drone hibrida berukuran sedang, memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat vertikal, sehingga tak bergantung pada landasan pacu dan terbang jelajah seperti pesawat sayap tetap konvensional.
Drone yang dirancang dan diproduksi oleh AeroVironment dari Amerika Serikat ini muatan misi 13,5 kg, dengan jangkauan operasi 185 km atau daya tahan 13 jam di udara.
Untuk spesifikasinya, JUMP 20 berdimensi panjang 2,9 m, rentang sayap 5,7 m dan berat lepas landas maksimum (MTOW) 97,5 kg.
Platform ini cocok untuk misi pengintaian garis depan, pengawasan berkelanjutan, dan penunjuk sasaran laser.
JUMP 20 bertugas mengidentifikasi dan melacak target, kemudian memberikan panduan laser untuk rudal Hellfire yang diluncurkan dari helikopter serang UH-60M.
Perubahan operasional ini menjawab kebutuhan utama di medan perang: memperluas jangkauan sensor sekaligus mengurangi risiko bagi awak helikopter.
Penggunaan drone untuk penunjuk target memungkinkan helikopter berawak untuk tetap berada lebih jauh dari wilayah udara yang aman, sambil tetap menggunakan senjata berpemandu presisi. (RBS)

