AIRSPACE REVIEW – Kementerian Pertahanan Inggris dilaporkan tengah melakukan uji coba integrasi sistem roket berpemandu APKWS (Advanced Precision Kill Weapon System) buatan BAE Systems pada jet tempur Eurofighter Typhoon.
Langkah ini diambil sebagai strategi menghadapi meningkatnya ancaman drone (UAV) global dengan solusi yang jauh lebih ekonomis.
Selama ini, jet tempur seringkali harus menggunakan rudal canggih seperti ASRAAM atau AMRAAM yang berharga jutaan dolar untuk menjatuhkan drone murah.
Dengan APKWS, biaya per tembakan dapat ditekan secara signifikan tanpa mengorbankan akurasi.
APKWS mengubah roket Hydra 70 yang “bodoh” (tidak berpemandu) menjadi amunisi pintar dengan menambahkan sistem pemandu laser modular.
Hal ini memungkinkan jet Typhoon mengunci dan menghancurkan target kecil yang bergerak cepat.
Karena ukurannya yang lebih kecil dibandingkan rudal udara ke udara standar, jet Typhoon dapat membawa jumlah amunisi yang lebih banyak dalam satu misi.
Keputusan ini dipicu oleh pelajaran dari konflik di Ukraina dan Timur Tengah, di mana penggunaan drone serbu (loitering munitions) telah mengubah lanskap peperangan udara.
Penggunaan roket berpemandu pada platform jet tempur supercepat seperti Typhoon menandai pergeseran taktis.
Inggris berupaya memastikan bahwa mereka tidak “bangkrut” dalam perang atrisi, di mana musuh bisa mengirimkan puluhan drone murah untuk menguras stok rudal mahal milik angkatan udaranya (RAF).
London berharap, uji coba ini diharapkan akan segera berlanjut ke tahap operasional penuh untuk memperkuat pertahanan udara Inggris dan sekutu NATO. (RNS)

