Jejak rahasia Perang Dingin di balik misi drone siluman RQ-180 di langit Iran

RQ-180 White BatIstimewa

AIRSPACE REVIEW – Operasi pengintaian Amerika Serikat di wilayah udara yang sangat dijaga ketat, seperti Iran, kini menjadi sorotan setelah munculnya laporan mengenai peran drone siluman terbaru, RQ-180.

Namun, kecanggihan drone ini ternyata memiliki akar sejarah pada program rahasia era Perang Dingin yang selama puluhan tahun terkubur dalam kerahasiaan.

Menurut laporan The War Zone, eksistensi drone siluman RQ-180 bukanlah teknologi yang muncul tiba-tiba.

Drone ini dianggap sebagai pewaris spiritual dari konsep yang dikembangkan sejak masa lalu untuk menembus sistem pertahanan udara Uni Soviet yang paling canggih.

Disoroti bahwa upaya AS untuk melakukan pengintaian di wilayah “terlarang” telah dimulai sejak dekade lalu melalui program-program seperti RA-5C Vigilante atau konsep awal drone siluman yang lebih canggih.

Fokus utama dari program-program rahasia ini adalah menciptakan platform yang tidak hanya sulit dideteksi oleh radar, tetapi juga mampu bertahan lama di area musuh tanpa dukungan jet tempur pelindung.

RQ-180, yang sering dijuluki sebagai “Great White Bat” karena bentuk sayapnya yang unik, dirancang untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh pensiunnya jet supersonik SR-71 Blackbird.

Jika Blackbird mengandalkan kecepatan, RQ-180 mengandalkan kemampuan siluman (low observability) yang ekstrem untuk beroperasi di wilayah dengan ancaman tinggi (Anti-Access/Area Denial – A2/AD).

Penggunaan RQ-180 di atas Iran dipandang sebagai langkah strategis karena beberapa alasan teknis.

Pertama untuk pemantauan fasilitas nuklir di mana Iran diklaim AS memiliki situs nuklir yang terkubur jauh di bawah tanah dan dijaga oleh sistem pertahanan udara S-300 serta radar buatan dalam negeri.

Keduia, tidak seperti drone MQ-9 Reaper yang lebih mudah untuk ditembak jatuh, seperti yang terjadi di Yaman, RQ-180 dapat terbang di ketinggian yang sangat tinggi dengan tanda radar yang nyaris nol.

Ketiga, drone buatan Nortrhop Grumman ini berfungsi sebagai “pintu masuk” data yang mampu mengirimkan informasi intelijen tanpa terdeteksi, memberikan gambaran akurat bagi komando militer AS tanpa memicu eskalasi perang terbuka.

Analisis ini menekankan bahwa RQ-180 adalah puncak dari evolusi panjang yang dimulai dari “proyek hitam” (black projects) di Area 51.

Drone ini tidak hanya bertugas mengambil foto, tetapi juga berperan sebagai simpul komunikasi bagi jet tempur generasi kelima seperti F-22 dan F-35 di lingkungan di mana sinyal satelit mungkin terganggu.

Hingga saat ini, Angkatan Udara AS (USAF) masih sangat tertutup mengenai detail spesifikasi RQ-180.

Namun, kemunculannya di pangkalan-pangkalan strategis seperti Guam dan laporan aktivitasnya di dekat perbatasan Iran mengonfirmasi bahwa era baru pengintaian siluman telah dimulai, menandai sebuah era yang sebenarnya telah dipersiapkan sejak puncak persaingan senjata antara AS dan Uni Soviet. (RNS)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *