Mimpi buruk baru Kyiv: Drone Geran-2 Rusia kini bawa ‘anak’ untuk serangan jarak jauh
Ukraine MoD AIRSPACE REVIEW – Sebuah temuan menggegerkan datang dari unit pertahanan udara Darknode Ukraina pada pertengahan Maret 2026.
Dalam sebuah misi penghalauan malam hari, mereka berhasil melumpuhkan drone Geran-2 (versi Rusia dari Shahed-136 Iran) yang telah dimodifikasi secara drastis untuk mengangkut dua drone FPV (First-Person View) pada bagian sayapnya.
Meski drone “induk” tersebut berhasil ditembak jatuh sebelum sempat melepaskan muatannya, puing-puing yang ditemukan menjadi bukti nyata bahwa Rusia tengah menguji sistem serangan dua tahap yang menggabungkan navigasi otonom jarak jauh dengan serangan terminal berpemandu operator.
Secara teknis, Geran-2 yang memiliki rentang sayap 2,5 m dan jangkauan operasional hingga 2.000 km ini kini tidak lagi hanya membawa hulu ledak statis, melainkan berfungsi sebagai kendaraan pengantar untuk menyusupkan ancaman presisi jauh ke belakang garis depan yang selama ini sulit dijangkau oleh drone kecil.
Langit di atas Ukraina kini menyimpan ancaman yang jauh lebih licin dan mematikan seiring dengan munculnya taktik baru tersebut.
Modifikasi ini secara efektif mengubah fungsi Geran-2 dari sekadar proyektil peledak menjadi kapal induk udara mini yang mampu menyusupkan “anak-anaknya” melewati garis pertahanan.
Integrasi teknologi ini menciptakan skenario yang sangat mengkhawatirkan bagi sistem pertahanan udara di kota-kota besar Ukraina.
Selama ini, drone FPV hanya menjadi momok di parit-parit garis depan karena keterbatasan baterai dan sinyal yang pendek.
Namun, dengan menumpang pada punggung Geran-2, drone-drone lincah ini dapat diantar melintasi perbatasan hingga mencapai titik-titik vital seperti depot logistik atau pusat komando yang sebelumnya dianggap relatif aman.
Begitu sampai di koordinat target, Geran-2 akan melepaskan drone FPV tersebut untuk melakukan serangan presisi tinggi yang sulit diprediksi oleh radar.
Metode serangan berlapis ini tidak hanya meningkatkan daya hancur, tetapi juga mengacaukan kalkulasi pertahanan udara.
Jika sebelumnya mereka hanya perlu fokus menjatuhkan satu objek besar yang terbang lurus, kini mereka harus menghadapi ancaman yang bisa pecah menjadi beberapa unit kecil yang mampu bermanuver ekstrem di detik-detik terakhir.
Biaya yang dikeluarkan Rusia untuk modifikasi ini pun tergolong sangat murah dibandingkan dengan penggunaan rudal jelajah, namun dampak psikologis dan kerusakan yang ditimbulkan bisa setara.
Serangan pun kini bisa datang secara tiba-tiba dari arah yang sama sekali tidak terduga di kedalaman wilayah kedaulatan Ukraina.
Kemunculan “induk drone” Geran-2 menandai babak baru dalam perlombaan senjata tanpa awak yang semakin canggih di medan tempur modern.
Dengan memanfaatkan kerangka Geran-2 yang murah dan melimpah, Rusia mencoba mengeksploitasi setiap celah dalam cakupan sensor lawan.
Bagi Kyiv, fenomena ini adalah sinyal bahwa perlindungan wilayah udara tidak lagi cukup hanya dengan memburu drone besar, melainkan juga harus bersiap menghadapi kawanan drone kecil yang kini memiliki kaki lebih panjang untuk menjangkau jantung pertahanan mereka. (RNS)

