Beredar video penembakan drone Geran-2 Rusia oleh F-16 Ukraina, suara orang di darat: Bajingan! Dia bisa menghancurkannya, keren sekali!
Via X AIRSPACE REVIEW – Beberapa jam yang lalu, beredar cuplikan video penembakan sebuah drone Geran-2 (Shahed-136) Rusia oleh sebuah jet F-16 Fighting Falcon Ukraina.
Tidak disebutkan kapan peristiwa itu terjadi dan di mana lokasinya. Namun yang jelas video tersebut tentunya menandai bahwa penembakan dilakukan setelah Ukraina mengoperasikan jet tempur buatan Amerika Serikat, sumbangan dari beberapa negara anggota NATO.
Akun OSINTdefender, salah satu yang mengunggah video tersebut di X, menuliskan keterangan bahwa sebuah pesawat tempur F-16AM Angkatan Udara Ukraina menembak sebuah pesawat tak berawak Shahed-136 Rusia mengunakan meriam putar M61A1 Vulcan di suatu tempat di atas Ukraina.
Cuplikan video diawali dengan kemunculan drone Geran-2 dengan suaranya yang khas.
Drone itu tampak datang dari arah depan orang yang merekamnya menggunakan ponsel. Drone muncul di atas dua bangunan kayu, seperti rumah kecil atau gudang, biasa disebut Saray yang fungsinya untuk menyimpan kayu bakar atau peralatan kebun.
Di sekitarnya tedapat vegetasi hutan seperti pohon-pohon Alder atau Birch. Tampaknya ini adalah sebuah perkampungan kecil di pinggir hutan di Ukraina.
“Letyt’, suka, handon!” terdengar ucapan orang yang merekam video kemunculan drone Geran-2 tersebut. Dalam bahasa Indonesia artinya adalah “Dia terbang, bajingan, sialan!”
Beberapa detik kemudian, terdengar suara ledakan di udara. Ya, drone Rusia itu tibap-tiba meledak di udara menghasilkan api, asap hitam, dan puing-puing yang berjatuhan.
Setelah itu terlihat sebuah jet F-16 muncul. Pesawat tempur generasi keempat itu bergemuruh terbang menanjak di belakang drone Geran-2 (dalam video terlihat seperti terbang di bawah puing-puing drone).
Memang, juga terlihat di mana F-16 tersebut tampak terbang lebih rendah dari drone Rusia saat melakukan penembakan itu. Namun bisa jadi ini karena sudut pengambilan video dari bawah.
Saat terjadi ledakan, si perekam video sepertinya kaget dan kamera pun bergoyang sejenak mengarah ke objek lain, namun segera kembali lagi ke objek udara.
Mungkin orang akan bertanya, bila penembakan menggunakan kanon M61A1 Vulcan pastinya akan terdengar brrrttt…. dari rentetan suara tembakan peluru dengan kecepatan 100 tembakan per detik (6.000 tembakan/menit) itu.
Suara ledakan keras yang terdengar, kemungkinan besar adalah suara dari ledakan amunisi yang dibawa oleh drone Shahed-136. Drone kamikaze ini membawa hulu ledak seberat 30-50 kg.
Ketika terkena tembakan, seluruh muatan amunisi tersebut meledak sekaligus, menghasilkan suara yang jauh lebih keras daripada suara tembakan meriam dari jarak yang lebih jauh.
Faktor kedua, karena jet tersebut terbang dengan kecepatan tinggi dan berada pada ketinggian tertentu, suara rentetan meriam sering kali teredam oleh suara mesin jet itu sendiri atau jarak yang jauh dari si perekam video.
Lagi pula, dalam pertempuran udara ke udara melawan target kecil seperti drone, pilot F-16 biasanya hanya melepaskan “short burst” atau rentetan sangat singkat, kurang dari satu detik, demi menghemat peluru yang dibawa pesawat.
“Molodets, zayebashyv!” terdengar lagi suara si perekam video, yang artinya, “Hebat, dia berhasil menghancurkannya!”
“Krutyak!” yang artinya “Keren sekali!”
“Khloptsi, molodtsi!“, yang artinya “Kalian hebat, kawan-kawan!”. Kata-kata pujian ini ditujukan oleh si perekam video kepada pilot atau tim pertahanan udara Ukraina.
Rekaman video penembakan drone Geran-2 Rusia oleh jet tempur F-16 Ukraina, hanyalah sebuah cuplikan dari perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung selama empat tahun.
Puluhan ribu atau ratusan ribu rekaman video lainnya menjadi saksi dari sengitnya perang modern dengan model ancaman baru, khususnya drone.
Munculnya serangan drone cukup merepotkan, sehingga jet tempur canggih fly-by-wire F-16 pun pada akhirnya dikerahkan untuk melawan drone menggunakan senjata internalnya.
“Krutyak!” (RNS)

Overkill?