Loncatan pertahanan, Australia sukses merakit batch pertama rudal GMLRS
Lockheed Martin AIRSPACE REVIEW – Australia mencatatkan sejarah baru dalam kedaulatan industri militernya. Bekerja sama dengan raksasa kedirgantaraan Lockheed Martin, Negeri Kanguru resmi memproduksi batch pertama rudal Guided Multiple Launch Rocket System (GMLRS) di fasilitas Port Wakefield, Australia Selatan.
Langkah ini bukan sekadar simulasi, melainkan persiapan menuju uji coba penembakan langsung (live-fire) yang dijadwalkan berlangsung di Woomera Test Range dalam waktu dekat.
Ini bukan hanya soal merakit mesin perang, tapi soal membuktikan bahwa standar industri Australia setara dengan “standar emas” Amerika Serikat.
Seperti dilaporkan Janes, personel Pemerintah AS memantau langsung proses produksi untuk memastikan rudal buatan Port Wakefield memiliki presisi dan kualitas yang identik dengan versi asli AS.
Proyek ini berfungsi sebagai ajang pelatihan bagi tenaga kerja lokal untuk menguasai teknologi senjata canggih, sekaligus menguji sistem perizinan ekspor komponen yang rumit.
Melalui rencana Guided Weapons and Explosive Ordnance (GWEO) 2024, Australia berambisi mengurangi ketergantungan impor dengan memproduksi komponen rudal secara mandiri di dalam negeri.
Departemen Pertahanan Australia kini tengah mengevaluasi perusahaan-perusahaan lokal yang mampu memproduksi suku cadang spesifik GMLRS.
Jika berhasil, Australia tidak hanya akan menjadi konsumen, tetapi juga pusat manufaktur rudal strategis di kawasan Indo-Pasifik.
Kegiatan ini merupakan langkah besar dalam membangun keterampilan tenaga kerja Australia dan memastikan akses kedaulatan terhadap teknologi pertahanan masa depan, ungkap juru bicara Departemen Pertahanan Australia.
Diluncurkan dari Dua Platform
GMLRS adalah roket permukaan ke permukaan yang dipandu menggunakan GPS dan sistem navigasi inersia.
Roket ini biasanya diluncurkan dari dua platform utama, yakni M142 HIMARS dan M270 MLRS.
Versi standar rudal GMLR mencapai lebih dari 70 km, sementara varian terbaru ER (Extended Range)bisa menjangkau hingga 150 km.
Berkat panduan GPS, roket ini memiliki tingkat kesalahan (Circular Error Probable/CEP) yang sangat kecil, biasanya kurang dari 5 meter dari titik target.
Hulu ledak rudal ini umumnya menggunakan unitari (ledakan tunggal seberat sekitar 90 kg) untuk menghancurkan struktur bangunan.
Pilihan lainnya adalah Alternative Warhead (AW) yang menyebarkan ribuan fragmen tungsten untuk target personel atau kendaraan ringan tanpa meninggalkan ranjau yang tidak meledak.
Selama ini GMLRS didominasi oleh produksi Amerika Serikat. Dengan memproduksi sendiri di Australia, maka rantai pasokan lebih aman jika terjadi konflik di kawasan Indo-Pasifik. Sebab, Australia tidak perlu menunggu pengiriman dari AS yang jauh melintasi samudra.
Karena standar produksinya sama dengan AS, roket buatan Australia bisa langsung digunakan oleh pasukan AS atau sekutu lainnya di kawasan tersebut. (RNS)

