Heboh! Pesawat tanpa awak rahasia AS diduga mendarat darurat di Yunani
Colin Throm/AWST AIRSPACE REVIEW – Warga dan pengamat penerbangan di dekat Pangkalan Udara Larissa, Yunani, baru-baru ini dikejutkan oleh pemandangan yang tidak biasa.
Sebuah pesawat misterius dengan bentuk sayap menyatu (flying wing) mendarat di sana. Diduga kuat, pesawat asing tersebut adalah RQ-180 —salah satu drone pengintai paling rahasia milik Amerika Serikat.
Awalnya, media lokal di Yunani mengira pesawat tersebut adalah pengebom siluman B-2 Spirit karena bentuknya yang mirip.
Namun, setelah diamati lebih teliti oleh para ahli, pesawat ini memiliki perbedaan detail pada bagian sayap.
Bentuknya justru lebih mirip dengan rancangan drone pengintai jarak jauh yang selama ini keberadaannya sangat dirahasiakan oleh Pentagon.
Menurut laporan dari sumber militer setempat, seperti dikutip The War Zoen, pesawat canggih ini terpaksa mendarat di Larissa karena mengalami kerusakan mesin atau masalah teknis.
Kabarnya, drone tersebut akan tetap berada di pangkalan tersebut sampai tim teknisi berhasil memperbaikinya.
RQ-180 adalah drone siluman yang dirancang untuk terbang sangat tinggi dan dalam waktu yang sangat lama.
Angkatan Udara AS (USAF) hampir tidak pernah membahas drone ini secara publik.
Jika benar itu adalah RQ-180, ini adalah salah satu momen langka di mana publik bisa melihat penampakannya dengan cukup jelas di luar wilayah Amerika Serikat.
Para ahli meyakini, teknologi pada drone ini merupakan “sepupu” dari B-21 Raider, pesawat pengebom nuklir terbaru Amerika.
Kemunculannya di Yunani menunjukkan bahwa drone ini kemungkinan besar sudah dioperasikan secara aktif untuk misi pengintaian di wilayah strategis, seperti Eropa atau Timur Tengah.
Hingga saat ini, USAF maupun Pentagon belum memberikan komentar resmi mengenai identitas pasti pesawat tersebut. Namun, foto-foto yang beredar sudah cukup membuat dunia militer heboh.
Pengganti SR-71 Blackbird?
RQ-180 dirancang Northrop Grumman sebagai drone pengintai tak berawak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) dengan kemampuan siluman tingkat tinggi.
Tugas utama UAV atau drone ini adalah menjalankan misi Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (ISR), yaitu mengumpulkan data intelijen di wilayah yang dijaga ketat oleh sistem pertahanan udara lawan.
Berbeda dengan MQ-9 Reaper yang mudah terdeteksi radar, RQ-180 dibuat untuk menyusup ke ruang udara musuh tanpa terlihat.
RQ-180 diyakini berfungsi sebagai node komunikasi rahasia, menghubungkan jet tempur siluman seperti F-22 dan F-35 dengan pusat komando.
Desain “Flying Wing” seperti halnya pengebom B-2 Spirit atau B-21 Raider) berfungsi untuk meminimalisir pantulan radar dari segala arah.
Drone jenis High-Altitude Long-Endurance (HALE) ini dapat terbang di ketinggian ekstrem, di atas 60.000 kaki, dan mampu bertahan di udara selama puluhan jam.
Sayapnya cenderung sangat ramping dan lebar (high aspect ratio), yang memberikan efisiensi bahan bakar maksimal untuk jangkauan antarbenua.
Banyak analis menyebut RQ-180 adalah jawaban modern untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan pesawat mata-mata legendaris SR-71 Blackbird, namun dengan pendekatan siluman, bukan kecepatan tinggi.
Meskipun keberadaannya “rahasia umum”, USAF jarang sekali mengakui unit mana yang mengoperasikannya, meski pangkalan di Beale AFB, California, dan Guam sering dikaitkan dengan drone ini. (RNS)

