Serangan udara AS hancurkan pesawat angkut strategis buatan Rusia di Kerman
CENTCOM AIRSPACE REVIEW – Eskalasi konflik di wilayah Iran tenggara mencapai titik baru setelah militer Amerika Serikat meluncurkan serangan presisi yang menargetkan infrastruktur logistik vital di Bandara Ayatollah Hashemi Rafsanjani, Kerman.
Komando Pusat AS (CENTCOM) pada 12 Maret 2026 mengatakan, serangan tersebut berhasil menghancurkan satu Ilyushin Il-76, pesawat angkut jet berat bermesin empat rancangan Rusia yang menjadi aset strategis paling berharga dalam jaringan distribusi militer Iran.
Citra satelit dan rekaman video yang dirilis pasca-serangan sempat memicu perdebatan di kalangan pengamat militer internasional.
Pada citra beresolusi rendah, tanda pada bagian sirip vertikal ekor pesawat memperlihatkan kombinasi warna yang sangat mirip dengan skema identitas angkatan udara Rusia. Hal ini sempat memunculkan spekulasi mengenai keterlibatan langsung aset Moskow di pangkalan tersebut.
Namun, setelah dilakukan analisis forensik visual terhadap skema cat kokpit dan nomor registrasi, dipastikan bahwa pesawat yang hancur adalah varian Il-76 yang dioperasikan oleh militer Iran.
Meskipun berbendera Iran, pesawat ini tetap membawa identitas teknis Rusia yang kental, mengingat seluruh rantai produksi dan desain dasarnya berasal dari biro desain Ilyushin.
Kehadirannya di apron berdampingan dengan Lockheed C-130 Hercules dan P-3F Orion menunjukkan betapa beragamnya asal-usul armada udara Iran.
Il-76 merupakan mahakarya aviasi militer Rusia yang dirancang khusus untuk misi logistik di medan yang paling tidak bersahabat sekalipun.
Bagi Iran, kehilangan satu unit pesawat ini adalah kerugian yang sulit ditambal. Pesawat ini ditenagai oleh empat mesin turbofan Soloviev D-30KP yang menghasilkan daya dorong sekitar 12.000 kgf masing-masing, memungkinkannya lepas landas dengan berat maksimum mencapai 170 ton.
Dalam varian Il-76MD, pesawat ini mampu mengangkut muatan seberat 40 hingga 47 ton dengan jangkauan operasional mendekati 5.000 km.
Lantainya yang diperkuat didesain khusus untuk mengangkut kendaraan lapis baja, sistem artileri, hingga komponen rudal balistik.
Dilengkapi dengan roda pendaratan multi-bogie yang kokoh, Il-76 mampu beroperasi di landasan pacu yang pendek atau permukaan semi-siap, menjadikannya sangat efektif di medan gurun Iran yang keras.
Keberlangsungan operasional armada Il-76 di Iran merupakan manifestasi dari kegigihan teknis di tengah tekanan sanksi internasional.
Selama puluhan tahun, Teheran dipaksa untuk mengembangkan ekosistem pemeliharaan mandiri guna merawat mesin dan struktur badan pesawat yang kian menua.
Tanpa akses ke suku cadang asli dari Rusia secara leluasa, teknisi Iran melakukan kanibalisasi komponen serta modifikasi avionik domestik di fasilitas perawatan Bandara Mehrabad.
Hancurnya satu unit operasional di Kerman bukan hanya berarti kehilangan fisik pesawat, tetapi juga ribuan jam kerja teknis dan sumber daya yang telah dikerahkan untuk menjaga “raksasa” Rusia ini tetap mampu mengudara.
Selama ini, sanksi Barat telah menutup akses Iran terhadap pesawat angkut berat seperti Boeing C-17 atau Airbus A400M, sehingga setiap unit Il-76 yang tersisa memiliki nilai strategis yang tak ternilai harganya. (RNS)
