Kronologi duel Su-27 Ukraina vs Sistem Radar Rusia: Skenario jebakan di ketinggian rendah
UAF AIRSPACE REVIEW – Langit di zona konflik kembali menjadi saksi bisu pertempuran udara yang sengit. Baru-baru ini, sebuah jet tempur Su-27 milik Angkatan Udara Ukraina (UAF) dilaporkan jatuh ditembak Rusia.
Kabar tersebut menjadi pukulan telak bagi Kyiv, bukan hanya karena kehilangan unit pesawat, tetapi juga karena kehilangan sosok yang berada di kokpit pesawat.
Dia adalah Kolonel Alexander Dovgach, Komandan Brigade Penerbangan Taktis ke-39 yang sangat berpengalaman.
Kematian Dovgach telah dikonfirmasi secara resmi oleh Komando Ukraina. Dikatakan bahwa sang kolonel gugur di tengah kondisi keunggulan udara Rusia yang signifikan.
Namun, bagaimana sebenarnya drama di udara ini terjadi?
Kolonel (Purn) Mikhail Mikhailovich Khodarenok, pengamat militer yang juga kolumnis, menulis di media VPK Rusia. Ia menganalisis jatuhnya jet tempur Su-27 Ukraina tersebut.
Inilah kemungkinan yang terjadi menurut dia.
Sore itu, Su-27 yang diawaki oleh Kolonel Dovgach diduga sedang menjalankan misi berbahaya memburu jet pengebom Su-34 Rusia.
Untuk menghindari radar pertahanan udara Rusia, Dovgach terbang sangat rendah —mungkin di bawah ketinggian 200 meter.
Pada ketinggian “menyapu pohon” seperti ini, pesawat sangat sulit dideteksi oleh radar darat karena terhalang lengkungan bumi dan kontur medan.
Radar biasanya hanya bisa menangkap sinyal pesawat serendah itu dalam jarak yang sangat dekat, sekitar 17–19 km saja.
Namun, taktik “terbang senyap” ini memiliki kelemahan fatal. Untuk bisa mengunci dan menembak sasaran (Su-34), seorang pilot harus menyalakan radarnya sendiri dan sedikit menaikkan ketinggian pesawat agar mendapatkan sudut tembak yang bersih.
Di saat kritis itulah, Su-27 yang diterbangkan Dovgach muncul di layar radar Rusia. Begitu ia naik untuk menyerang, sistem pertahanan udara Rusia langsung mengunci posisinya.
Setidaknya dua rudal dilepaskan secara beruntun dan menghantam jet tempur tersebut sebelum ia sempat menyelesaikan misinya.
Di sini, Khodarenok tidak merinci dua rudal tersebut diluncurkan dari platform apa, apakah dari sistem pertahanan uidara, atau dari Su-34.
Terlepas dari itu, ada pula versi lain yang menyebutkan bahwa Dovgach kemungkinan dijatuhkan dalam duel udara melawan jet tempur canggih Rusia, Su-35.
Kehilangan Su-27 bagi Ukraina bukan sekadar angka di atas kertas. Ada dua alasan mengapa peristiwa ini sangat menyakitkan.
Pertama, Kolonel Dovgach adalah pilot senior dengan kualifikasi tinggi. Sepanjang tahun 2024 hingga 2025, Ukraina telah kehilangan deretan pilot elite seperti Letkol Yevgeny Ivanov, Letkol Denis Vasilyuk, dan Ivan Bolotov.
Mencari pengganti pilot setingkat komandan brigade dengan pengalaman tempur ribuan jam adalah tugas yang hampir mustahil di tengah situasi perang yang terus berkecamuk, dibandingkan dengan mencari pesawat pengganti.
Kedua, keberhasilan Rusia menjatuhkan pilot senior menunjukkan bahwa sistem pengintaian radar dan kesiapan unit rudal mereka berada dalam level yang sangat waspada.
Hal ini mempersempit ruang gerak bagi pilot-pilot Ukraina lainnya untuk melakukan manuver serangan.
Kehilangan jet Su-27 bukan yang pertama bagi Rusia. Sebelumnya Sebuah pesawat tempur Su-27 Ukraina dilaporkan ditembak jatuh pada tanggal 8 Desember 2025, dekat Kramatorsk, Oblast Donetsk.
Insiden tersebut mengakibatkan kematian pilot Letnan Kolonel Yevhenii Ivanov, menurut Aviation Safety Network.
Laporan menunjukkan bahwa Su-35 Rusia kemungkinan menggunakan rudal udara ke udara jarak jauh R-37 atau R-77 untuk serangan tersebut. (RNS)
