Overload dengan pesanan yang harus diselesaikan, HAL mundur dari persaingan jet tempur generasi kelima AMCA India
Vayu Aerospace Review AIRSPACE REVIEW – Perusahaan kedirgantaraan milik negara India, Hindustan Aeronautics Limited (HAL), telah mundur dari persaingan untuk mengembangkan jet tempur generasi ke-5 buatan dalam negeri di bawah program Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA).
Langkah ini diambil hal karena beban kerja perusahaan yang terlalu besar (overload) dengan banyaknya pesanan yang sudah ada dan demi menjaga komitmen pengiriman sesuai jadwal
Sumber yang mengetahui keputusan tersebut mengatakan bahwa beban kerja HAL saat ini, terutama tanggung jawabnya dalam program Tejas Light Combat Aircraft (LCA) dan kontrak manufaktur helikopter besar, memainkan peran kunci dalam keputusan pengunduran diri HAL tersebut.
Dengan beberapa proyek pertahanan bernilai tinggi yang sudah berjalan, keputusan pengunduran diri HAL tersebut juga didorong oleh pemerintahan India.
Saat ini, HAL sedang memproduksi Helikopter Tempur Ringan (LCH) tambahan dan platform penting lainnya untuk Angkatan Bersenjata India. HAL harus menyelesaikan tanggung jawabnya tersebut hingga dekade berikutnya.
Dengan keluarnya HAL dari persaingan, program AMCA telah membuka pintu lebih lebar bagi produsen pertahanan swasta untuk bersaing.
Tiga perusahaan dalam konsorsium besar yang bersaing untuk pengembangan AMCA adalah: Tata Advanced Systems Limited (TASL), Konsorsium L&T – BEL – Dynamatic, dan Konsorsium Bharat Forge – BEML – Data Patterns.
Di antara ketiganya, Tata Group (TASL) dianggap memiliki keunggulan karena pengalamannya sebelumnya dalam membangun jalur perakitan akhir pesawat untuk pesawat angkut C295 bekerja sama dengan Airbus Defence and Space.
Konsorsium yang terpilih nantinya akan bekerja sama dengan Badan Pengembangan Aeronautika (ADA) untuk mengembangkan lima prototipe AMCA pada tahun 2031.
Pemenang dari kompetisi ini akan mendapatkan kontrak senilai 15.000 crore rupee (1,8 Miliar USD) atau sekitar Rp28 triliun untuk membangun 5 prototipe pertama.
Setelah pengujian dan sertifikasi berhasil, Angkatan Udara India diharapkan akan memesan sekitar 120 pesawat AMCA nantinya.
Keluarnya HAL menandakan pergeseran bertahap dalam ekosistem manufaktur pertahanan India, dengan pemain swasta mengambil alih tanggung jawab tingkat platform yang lebih besar dan kompleks.
Pada saat yang sama, HAL tetap menjadi pusat kesiapan pertahanan India melalui program pesawat tempur, helikopter, dan pesawat terbang yang sedang berjalan, memastikan keberlanjutan pasokan pertahanan yang penting.
Terkait AMCA, Angkatan Udara India (IAF) menginginkan jet tempur ini memiliki kemampuan supercruise, yaitu terbang di atas kecepatan suara tanpa perlu menggunakan afterburner yang boros bahan bakar dan panas.
Pesawat akan menggunakan mesin buatan Safran dari Prancis. Diharapkan AMCA dapat terbang dengan kecepatan maksimum lebih dari Mach 2,15 dan jangkauan operasional sekitar 3.240 km dengan tambahan tangki eksternal untuk misi feri.
Untuk avionik dan sensor, AMCA akan dilengkapi dengan radar Uttam, yaitu radar buatan domestik yang mampu melacak banyak target secara bersamaan dengan resolusi tinggi.
Pesawat juga akan dilengkapi dengan sistem EOTS (Electro-Optical Targeting System), yaitu sensor infra-merah jarak jauh untuk mendeteksi pesawat musuh tanpa memancarkan radar.
Pesawat juga akan dilengkapi dengan sistem bantuan pilot untuk memprioritaskan target dan mendiagnosis kerusakan pesawat secara otomatis. (RNS)
