Kapal pendaratan Matilda 1 pesanan Korps Marinir AS mulai diuji coba, dapat membawa muatan 550 ton
SeaTransport Group AIRSPACE REVIEW – SeaTransport Group dari Australia, baru-baru ini telah memulai uji coba laut SLV (Stern Landing Vessel) Matilda 1, menjelang penggunaannya oleh militer Amerika Serikat berdasarkan perjanjian sewa selama tiga tahun.
Kontrak sewa ini telah diatur melalui Sealease, afiliasi dari SeaTransport. Kapal tersebut diharapkan memulai aktivitas di perairan Australia utara dan wilayah sekitarnya sebelum digunakan lebih luas di kawasan Indo-Pasifik.
Kapal pendaratan ini dirancang untuk membawa logistik langsung ke pantai dengan kedalaman dangkal, dan memiliki kapasitas dan jangkauan yang jauh lebih tinggi daripada kapal pendaratan tradisional.
Matilda 1 memiliki panjang keseluruhan 73 m dan bobot mati sekitar 1.500 ton. Luas dek kargonya mencapai 670 m/segi, dengan muatan hingga 550 ton.
Kapal dapat membawa total 84 kontainer ISO 20 kaki (tumpuk ganda), lalu 20 unit JLTV (Kendaraan Taktis Ringan Gabungan), 18 peluncur roket HIMARS, 16 unit truk MTVR 6×6, dan 12 Kendaraan Tempur Amfibi (ACV).
Dilaporkan, kapal dengan sistem propulsi diesel elektrik ini memiliki jangkauan operasional hingga 4.000 mil laut dan sanggup beroperasi pada kondisi laut level 4.
Konsep kapal SLV telah hadir sekitar 30 tahun lalu di Australia, untuk operasi pertambangan terpencil dan komunitas pesisir. Kapal digunakan mengangkut penumpang, kendaraan, ternak, kontainer, dan kargo curah.
Sedangkan untuk konfigurasi militer, kapal telah mendapatkan pelat penguat untuk menahan garis pantai berbatu serta pantai berpasir.
Bahan bakar disimpan dalam wadah terisolasi dipasang di kompartemen tahan guncangan yang dilengkapi dengan sistem pemadam kebakaran mandiri.
Tambahan lainnya adalah dek penerbangan di belakang superstruktur untuk sistem pesawat nirawak, atau dek penerbangan diperpanjang untuk operasi helikopter dengan mengorbankan fleksibilitas kargo.
Korps Marinir AS (USMC) mulai mengeksplorasi konsep SLV pada tahun 2020 dalam program Force Design 2030 untuk mencari wahana penghubung yang lebih kecil dibanding kapal amfibi tradisional berdimensi besar, untuk mendukung Resimen Pesisir Marinir di lingkungan pertempuran. (RBS)

