Apakah mungkin kapal induk Giuseppe Garibaldi bekas Angkatan Laut Italia dapat dimiliki Indonesia sebelum HUT TNI tahun 2026 ini?

Kapal induk Giuseppe Garibaldi ItaliaMarina Militare

AIRSPACE REVIEW – Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan kapal induk pertama milik Indonesia buatan Italia, Giuseppe Garibaldi, ditargetkan tiba di Indonesia sebelum HUT TNI pada 5 Oktober 2026.

Saat ini, kata Kasal, proses negosiasi oleh Kementerian Pertahanan RI dengan galangan kapal Italia Fincantieri yang memproduksi kapal induk ini, serta Angkatan Laut Italia (Marina Militare), masih berlangsung.

Kasal tidak menjelaskan secara rinci proses negoisasi dimaksud, seperti diberitakan Antara, kemarin.

Pertanyaan utama dari publik tentunya adalah apakah kontrak pembelian kapal induk bekas Angkatan Laut Italia ini telah selesai alias sudah berlaku efektif?

Sebelumnya diberitakan, Bappenas telah mengalokasikan Pinjaman Luar Negeri (PLN) sekitar 450 juta USD (Rp7,57 triliun) untuk pembelian kapal induk yang akan diubah fungsi menjadi kapal induk helikopter dan drone (UAV) ini.

Tenggat Waktu

Berbeda dengan membangun kapal induk baru yang membutuhkan waktu 5 hingga 10 tahun, kapal induk Giuseppe Garibaldi (C-551) adalah kapal yang sudah ada secara fisik.

— Sebelum lanjut, perlu dijelaskan, C-551 adalah standar penamaan kapal perang NATO, di mana huruf di depan angka menunjukkan peran atau jenis kapal tersebut. C singkatan dari Cruiser (Kapal Penjelajah). Ya memang, meskipun Giuseppe Garibaldi ini berfungsi sebagai kapal induk (Aircraft Carrier), secara teknis kapal ini diklasifikasikan sebagai Anti-Submarine Warfare Cruiser atau Aircraft-Carrying Cruiser saat pertama kali diluncurkan. Hal ini dilakukan karena alasan politik dan hukum di Italia pada masa itu agar tidak melanggar aturan pasca-perang mengenai kepemilikan kapal induk. Sementara Giuseppe Garibaldi diambil dari nama salah satu Pahlawan Nasional Italia –.

Lanjut. Italia secara resmi telah memensiunkan kapal induk Giuseppe Garibaldi dari misi aktifnya di Marina Militare pada Oktober 2024.

Artinya, kapal tersebut, saat ini, tidak sedang digunakan dalam misi aktif dan bisa segera masuk dok untuk pengecekan berikut perbaikan (refurbishment) tanpa mengganggu operasional Angkatan Laut Italia.

Laporan dari Fincantieri menyebut kapal ini masih dalam kondisi baik dan masih memiliki sisa masa pakai sekitar 15–20 tahun ke depan jika dirawat dengan benar.

Kapal induk Giuseppe Garibaldi mulai dibangun pada tahun 1981 dan resmi bertugas (commissioned) pada tahun 1985.

Apakah mungkin kapal ini bisa ditransfer kepemilikannya dengan cepat kepada Indonesia?

Menghitung sisa waktu dari sekarang hingga Oktober 2026, seperti dikatakan Kasal, maka tersisa kurang lebih delapan bulan lagi.

Dalam istilah militer, ada istilah yang disebut Hot Transfer, yaitu pengalihan aset dari satu negara ke negara lain di mana kapal, dalam kasus ini, masih dalam kondisi operasional atau baru saja berhenti beroperasi. Cara ini adalah yang paling mungkin dilakukan dalam kasus kapal induk Giuseppe Garibaldi.

Pengalaman sebelumnya, Indonesia melakukan pengadaan fregat KRI Brawijaya-320 yang juga dari Italia, memerlukan proses 8-12 bulan.

Saat itu KRI Brawijaya yang masih bernama Artigliere F-582, masih aktif dioperasikan oleh Angkatan Laut Italia dan dalam proses akan dipensiunkan. Proses awal negosiasi kapal ini dilakukan sekitar pertengahan tahun 2023 dan kontrak efektif tercapai sekitar kuartal pertama tahun 2024.

Setelah kontrak efektif, kapal langsung masuk ke galangan untuk proses “Indonesianisasi” guna penyesuaian sistem komunikasi dan pengecatan.

Selama kapal di galangan, sekitar 3-5 bulan, awak kapal (kru) TNI AL sudah berada di Italia untuk melakukan familiarization (pengenalan) sistem kapal.

Sehingga, untuk kapal induk Giuseppe Garibaldi pun demikian, proses yang kurang lebih sama bisa diterapkan.

Periode Februari – Maret 2026 dapat digunakan untuk finalisasi kontrak dan administrasi pinjaman luar negeri.

Kemudian April – Agustus 2026 untuk proses perbaikan kilat (refit), penggantian identitas (pengecatan lambung, pemasangan logo TNI AL, dan lainnya), serta pelatihan awak kapal Indonesia di Italia.

Bulan September 2026 dapat digunakan untuk pelayaran dari Italia ke Indonesia, ferry flight laut, yang biasanya memakan waktu sekitar 3-4 minggu.

Itu adalah hitung-hitungan di atas kertas dan bila semuanya berjalan lancar.

Memang, pengadaan kapal induk ini akan berpacu dengan waktu yang sangat ketat, bila targetnya kapal bisa diperlihatkan kepada publik di Indonesia pada HUT TNI tanggal 5 Oktober 2026.

Meski demikian, ada hal-hal yang bisa menjadi penghambat atau kendala dalam proses pengadaan kapal ini. Antara lain adalah jika Indonesia meminta perubahan sistem senjata atau radar yang terlalu drastis, proses integrasinya tentu akan memakan waktu lebih lama di galangan kapal.

Faktor kedua, mengoperasikan kapal induk jelas jauh lebih rumit daripada kapal perang biasa. TNI AL harus menyiapkan ratusan personel yang paham sistem navigasi dan operasional dek terbang dalam waktu singkat.

Yang disebutkan terakhir bisa saja pelatihannya menyusul karena kapal induk ini tentu tidak akan langsung dioperasikan dengan helikopter atau drone oleh TNI AL.

Untuk diketahui, dokumen Bappenas juga melaporkan adanya alokasi terpisah untuk pengadaan “pengawal” dan “isi” dari kapal induk ini, yaitu sebesar 550 juta USD (Rp9,26 triliun) untuk pengadaan helikopter angkut dan utilitas baru yang nantinya akan beroperasi dari dek Giuseppe Garibaldi.

Di Indonesia, penyiapan fasilitas untuk dukungan operasi kapal induk juga harus dipastikan kesiapannya. Hal ini berkaitan dengan logistik dan penganggaran juga tentunya.

Secara teknis, asalkan kontrak pembelian kapal induk ini bisa selesai dalam 1-2 bulan ke depan, cukup memungkinkan bagi kapal induk pertama Indonesia ini untuk ditampilkan pada HUT TNI tahun ini.

Catatannya ya itu tadi, perbaikan yang diminta Indonesia hanya bersifat minor atau berupa penyegaran sistem saja.

Namun bila di tengah jalan berkembang perubahan ini-itu, tambahan ini-itu, keinginan ini-itu, dan lain sebagainya, besar kemungkinan targetnya akan meleset.

Pertanyaan kedua, seberaga urgent sih memangnya menampilkan kapal baru di HUT TNI, bila penyiapan kapal dilakukan secara terburu-buru, yang berpotensi merugikan kita sebagai pembeli?

Apakah setelah upacara selesai, dan euforia berlalu, kemuidan kita kembali ke persoalan-persoalan pelik terkait perbaikan integrasi sistem kapal yang belum selesai sepenuhnya?

Kecuali bila semua sudah oke ya, ya tinggal gas lah… Berangkat! (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. Widya Satria Budhi berkata:

    Kok maksain ya, perlu tinjau ulang mengapa penggunanya yaitu AL Italia justru mengganti ITS Giuseppe Garibaldi (C551) dengan ITS Trieste (L9890) yang jauh lebih besar dan modern atau lebih serba guna karena memiliki dok untuk kapal pendarat di buritannya dan lain-lain dan lain-lain? 🤔

  2. IRS berkata:

    Mumpung kabar terbaru ini kapal hibah, apa mungkin biaya yg kabarnya sudah masuk anggaran buat upgrade? Tahun lalu juga sempat ada rencana salah satu galangan swasta untuk memodif kapal ini buat jadi drone carrier. Modelnya pakai twin island seperti Queen Elizabeth-class RN.

    Kalau nanti datang utuh dan habis parade langsung masuk galangan buat modifikasi, timeline kayaknya mencukupi. Kapan beroperasi penuh itu masalaha lain lagi.

  3. Purnama berkata:

    Apakah Indonesia mmg perlu punya kapal induk, mengingat Ind punya banyak pulau yg jaraknya relatif berdekatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *