Azerbaijan akan membeli persenjataan canggih Rusia

Azerbaijan Armed Forces_1

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Azerbaijan akan mengembangkan kerja sama militer-teknis dengan Rusia dan telah mengajukan permintaan untuk membeli persenjataan canggih Rusia.

Hal itu dikatakan langsung oleh Presiden Azerbaijan yang juga Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Azerbaijan Ilham Aliyev dalam sebuah wawancara dengan majalah Pertahanan Nasional Rusia seperti dimuat pada 24 September lalu.

Dikatakan, sejumlah produk pertahanan terbaru Rusia telah dikaji dan akan segera diakuisisi.

“Kami melakukan pekerjaan yang baik (dengan Rusia) di semua arah, termasuk kerja sama militer-teknis. Tentu, kami melihat produk baru dan sekarang kelompok teknis sudah memeriksa kemampuan baru dan kami telah mengajukan beberapa permintaan dan kerja sama dengan Rusia dan hal ini akan berkembang lebih jauh,” kata Aliyev mengaitkan hal itu pada konflik baru-baru ini yang terjadi di Nagorno-Karabach.

Seperti diketahui, dalam konflik Nagorno-Karabach, pasukan Azerbaijan dan Armenia secara luas menggunakan peralatan militer Soviet dan Rusia selama konflik berlangsung.

Pada Parade Kemenangan yang diadakan pada 10 Desember 2020 di Azadliq Square di Baku, Azerbaijan sistem penyembur api berat TOS-1A, Smerch MRLS, sistem peluru kendali antitank self-propelled Khrizantema-S, MSTA-S self-propelled howitzer, tank tempur utama T-72 dan T-90S, kendaraan tempur infanteri BMP-3, kendaraan lapis baja beroda pengangkut BTR-82A, sistem pertahanan udara Buk dan S-300 dan lainnya ditampilkan.

Demikian juga dengan helikopter Mi-17 dan Mi-35 serta jet tempur MiG-29 dan Su-25.

Beberapa dari sistem tersebut, menurut laporan media, digunakan selama konflik di Nagorno-Karabach.

TOS-1A yang digunakan oleh tentara Azerbaijan ditampilkan di banyak video dalam konflik tersebut. Sistem ini menghancurkan target melalui efek suhu tinggi dan tekanan berlebih.

Azerbaijan juga dilaporkan menggunakan tank tempur utama T-90 dalam serangan daratnya.

Di sisi lain, media juga melaporkan keberhasilan penggunaan sistem perang radio-elektronik yang dikembangkan oleh Rusia terhadap kendaraan udara tak berawak asal Turki, yaitu Bayraktar TB-2.

Foto-foto menunjukkan drone Bayraktar yang hancur, tetapi tidak ada tanda-tanda mereka terkena tembakan darat.

Sistem Krasukha dan Pole-21 EW juga dilaporkan digunakan.

Pole-21 digunakan untuk melindungi objek-objek penting yang strategis dari rudal jelajah, UAV, dan bom udara berpemandu melalui peralatan supresi radio yang mengikatnya ke satelit global dan sistem navigasi radio.

Sementara stasiun Krasukha-4 EW dirancang untuk melawan radar serangan udara, pengintaian, dan pesawat tak berawak.

Kemampuan stasiun jamming aktif broadband dikatakan memungkinkan untuk secara efektif menangani semua stasiun radar udara modern.

RNS

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *