Contoh Brasil, beli Gripen hasilkan 21.000 pekerjaan baru di dalam negeri

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Indonesia dikabarkan akan mengakuisisi 36 pesawat tempur Rafale dari Perancis. Pertanyaan sederhana, bentuk ofset seperti apa yang akan didapatkan oleh Indonesia yang dapat menciptakan tambahan lapangan pekerjaan baru?

India dan Brasil mensyaratkan dalam setiap pembelian alutsista, selain ada transfer teknologi, kedua negara mendapatkan keuntungan dengan terciptanya lapangan pekerjaan baru di sektor-sektor pendukung industri pesawat di dalam negeri masing-masing.

India dengan membeli 36 unit Rafale dari Perancis, mendapatkan pekerjaan pembuatan 2.500 komponen kokpit pesawat jet pribadi Falcon 2000 berikut perakitannya di negeri mereka.

Falcon 2000DRAL

Pembuatan dan perakitan komponen kokpit pesawat Falcon 2000 dilaksanakan di India melalui pabrik joint-venture Dassault Reliance Aerospace Ltd (DRAL) di kompleks Bandara Internasional Nagpur. Pabrik ini dibangun 1,5 tahun usai India menandatangani pembelian Rafale pada September 2016.

India menandatangani pembelian 36 Rafale tahun 2016 senilai 8,7 miliar dolar AS (USD). Seluruh pesawat akan diterima India pada 2022, yang artinya dibutuhkan waktu selama tujuh tahun sejak penandatanganan kontrak efektif dilaksanakan.

Rafale untuk India dibuat dengan komposisi tempat duduk tunggal dan tandem. Pesawat ini memiliki panjang 15,27 m, rentang sayap 10,9 m, serta tinggi 5,34 m.

Pesawat dengan bobot terbang maksimum (MTOW) 24.500 kg ini ditenagai oleh dua mesin Snecma M88-2 turbofan dengan kekuatan dorong 50,04 kN/mesin (atau 75 kN/mesin saat afterburner).

Rafale mampu terbang hingga kecepatan maksimum 1,9 Mach dengan radius tempur mencapai 1.850 km.

Salah satu kelebihan Rafale di antaranya adalah mampu membawa rudal udara ke udara jarak jauh MBDA Meteor dengan jarak jangkau tembakan lebih dari 100 km terhadap sasarannya.

Rafale mampu membawa 9 ton beragam persenjataan untuk melaksanakan misi omnirole atau berbagai peran.

Berikutnya, Hindustan Aeronautics Limited (HAL) dari India dan Safran Aircraft Engines dari Prancis, belum lama ini telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk merakit dan memproduksi komponen mesin Smecma M88 yang digunakan Rafale di India.

Rafale IndiaIAF

Lima pesawat Rafale pesanan India diterbangkan langsung dari Perancis.

Berdasarkan MoU tersebut, HAL dan Safran akan merakit dan membuat komponen mesin Smecma M88 untuk kelompok tambahan Rafale pada setiap pesawat yang diproduksi di India.

Transfer teknologi dari Safran kepada HAL juga akan dilakukan berkaitan dengan pengembangan mesin yang memiliki kekuatan dorong lebih dari 110 kN tersebut.

Intinya, pembelian 36 Rafale oleh India dari Perancis dibarengi dengan keuntungan yang didapat oleh New Delhi dengan terciptanya lapangan pekerjaan tambahan. Walaupun, untuk pembelian 36 Rafale ini, India tidak mendapatkan peluarng untuk memproduksi pesawat ini di dalam negeri, seperti halnya India yang membeli ratusan Su-30MKI dari Rusia bisa memproduksinya di HAL.

Gripen Brasil hasilkan 21.000 pekerjaan baru di dalam negeri

Sekarang mari kita tinjau apa yang didapatkan Brasil dari pembelian Gripen Next Generation (Gripen E/F) dari Saab, Swedia.

Sama dengan India, Brasil juga meminta transfer teknologi dan pembuatan sebagian komponen di dalam negeri. Hebatnya lagi, Saab sebagai produsen pesawat ini memberikan izin pembuatan sebagian jumlah Gripen NG pesanan Brasil untuk diproduksi di Brasil.

Embraer dan Saab berkolaborasi mendirikan perusahaan patungan Saab Aeronáutica Montagens (SAM), pabrik aerostruktur pertama Saab di luar Swedia yang akan memproduksi komponen-komponen pesawat tempur Gripen E/F untuk Angkatan Udara Brasil (FAB). Untuk diketahui, di FAB selanjutnya Gripen E/F mendapatkan kode baru sebagai F-39 Gripen.

Pabrik tersebut berada di São Bernardo do Campo, sebuah kota di daerah metropolitan São Paulo, Brasil.

Saab menyiapkan gedung seluas 5.000 meter persegi yang akan dioperasikan oleh SAM. Pada tahap awal, Saab menguasai 90% saham SAM, sedangkan 10% lainnya dimiliki oleh Akaer, perusahaan industri lokal Brasil dan juga Embraer.

Setelah diproduksi, komponen-komponen Gripen tersebut selanjutnya akan dikirim ke fasilitas perakitan akhir pabrik Embraer di Gavião Peixoto, São Paulo, Brasil dan ke Linköping, Swedia.

Kerucut ekor dan badan pesawat Gripen E merupakan struktur pertama yang diproduksi di SAM.

Berikutnya adalah rem aerodinamis, badan pesawat bagian belakang, kotak sayap, dan badan pesawat bagian depan Gripen F.

Gripen E brasilVia Cavok

Tidak hanya untuk memenuhi produksi pesawat Gripen E/F yang dipesan Brasil, SAM nantinya juga akan memproduksi komponen Gripen untuk pesanan negara lain, termasuk pesanan Swedia sendiri.

Pada April 2020, Saab menyatakan akan memproduksi Gripen E/F di Brasil apabila Kolombia tertarik dan jadi membeli pesawat ini. Setahun sebelumnya, Kolombia menyatakan minatnya untuk membeli 15 Gripen terdiri dari 12 Gripen E dan 3 Gripen F.

CEO Saab Micael Johansson mengatakan kepada media di Brasil bahwa Brasil dan Kolombia bertetangga dan hubungan kedua negara sangat baik.

“Oleh karenanya, produksi Gripen E/F dapat dilaksanakan di Brasil bekerja sama dengan Saab,” ujarnya saat itu.

Kolombia sendiri masih mengkaji sejumlah pesawat tempur baru yang akan diakuisisi dan baru menyatakan minatnya.

Pada 24 Oktober 2014, Brasil dan Swedia menandatangani kontrak pembelian 36 Gripen E/F (Next Generation) senilai 39,3 miliar SEK (5,44 miliar dolar AS). Terdiri dari 28 pesawat Gripen E dan 8 Gripen F. Pesawat akan dikirimkan ke AU Brasil mulai tahun 2019 hingga 2024.

Sebanyak 15 pesawat akan dirakit di Brasil. Perusahaan-perusahaan Brasil juga ikut dilibatkan dalam produksi Gripen ini.

Brasil menambah anggaran hampir satu miliar dolar AS terkait permintaan khusus penggunaan wide area display (WAD), yaitu tampilan layar sentuh berukuran 19 x 18 inci di kokpit Gripen E/F sebagai pengganti kokpit model lama.

Defesa

September 2015, kontrak efektif ditandatangani sekaligus pembayaran uang muka. Satu bulan setelah itu, grup pertama insinyur Brasil mulai menjalani kursus transfer teknologi di Swedia.

Memasuki 2018, pesawat pertama Gripen NG untuk FAB mulai diproduksi di Linköping.

Pada 26 Agustus 2019, penerbangan perdana Gripen NG untuk FAB dilaksanakan di Linköping. Lalu pada 10 September 2019, pesawat pertama Gripen NG memulai serangkaian penerbangan uji di Swedia.

Pada 23 Oktober 2020, FAB secara resmi menerima pesawat Gripen E (berubah kode menjadi F-39E di FAB) pertama dari Saab Swedia. Upacara penerimaan dilaksanakan bersamaan dengan peringatan Hari Penerbangan Brasil saat itu.

Direktur Jenderal SAM, Marcelo Lima pada 9 Mei 2018 mengatakan, SAM akan memroduksi enam komponen struktural utama jet Gripen Angkatan Udara Brasil.

Komponen tersebut meliputi kerucut ekor (tail cone), rem aerodinamis (aerodynamic brakes), kotak sayap (wing box), serta badan depan (front fuselage) pesawat untuk versi kursi tunggal maupun ganda, serta badan belakang (rear fuselage) untuk pesawat versi kursi tunggal.

Pabrik ini mulai beroperasi pada 2020  di mana pada 2024 jumlah karyawan diproyeksikan berjumlah minimal 200 orang.

Kepala Area Bisnis Saab Aeronautics, Jonas Hjelm, mengatakan dilaksanakannya produksi komponen-komponen pesawat Gripen E/F di Brasil merupakan bagian dari transfer teknologi (ToT) program Gripen dengan Brasil.

“Berdasarkan pelatihan teoretis dan praktis para insinyur dan para perakit pesawat Brasil di Linköping kami dapat membangun jalur produksi yang sangat berkualitas di SAM, mengikuti standar yang kami miliki di pabrik kami di Swedia,” jelas Hjelm saat itu.

SAM memiliki lebih dari 70 karyawan yang berkualifikasi tinggi. Lebih dari setengahnya telah berpartisipasi dalam Program ToT di Swedia. Mereka adalah para karyawan yang telah menyelesaikan pelatihan dan kembali ke Brasil untuk memulai produksi  Gripen di Negeri Bola itu.

Berita terbaru pada Februari 2021 menyebutkan, proyek pengadaan 36 pesawat tempur Saab Gripen NG untuk Angkatan Udara Brasil (FAB), bersama dengan pengembangan pengetahuan di bidang penataan dan teknologi, dapat menghasilkan sekitar 21 ribu pekerjaan di seluruh rantai ekonomi Brasil.

Saab

Informasi ini disampaikan oleh Brigadir Mayor Valter Borges Malta, Presiden Komite Koordinasi Program Pesawat Tempur (COPAC) yang diwawancarai CB Poder, anak perusahaan TV Brasília beberapa hari lalu.

Disebutkan, transfer teknologi yang dihasilkan dari penelitian dirgantara tersebut bahkan bisa diturunkan untuk industri medis, seperti dalam pengembangan sensor optik untuk diagnostik.

Malta menambahkan, COPAC memiliki sekitar 10 proyek yang sedang dikembangkan dan menjelaskan bahwa proyek F-39 terlaksana sesuai jadwal yang telah ditentukan meski terjadi kesulitan akibat pandemi COVID-19.

Seluruh pesawat F-39 Gripen akan diterima oleh FAB pada 2027. Artinya ada rentang 12 tahun dari sejak kontrak pertama ditandatangani oleh Brasil dan Swedia. Memang, Gripen E/F dapat dikatakan sebagai pesawat baru, bukan produksi seri lama C/D yang dapat dibuat lebih cepat. F-39 harus melalui serangkaian pengujian yang panjang sebelum resmi masuk seri produksinya.

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012

Indonesia telah memiliki Undang Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan yang telah dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2014 tentang Mekanisme Imbal Dagang dan Pengadaan Alat Peralatan Pertahanan Keamanan (Alpalhankam) dari Luar Negeri.

Dikatakan bahwa offset dan kadungan lokal merupakan persyaratan utama dalam setiap pengadaan Alpalhankam dari luar negeri.

Ofset dan kandungan lokal merupakan mandatori dan harus dilaksanakan dalam setiap pengadaan Alhankam khususnya produk yang dari luar negeri serta harus dijalankan oleh segenap pelaksana pengadaan di Kemhan, Mabes TNI, Mabes TNI termasuk juga Polri.

UU Nomor 16 Tahun 2012 mempersyaratkan, besaran ofset dan kandungan lokal dalam setiap pengadaan Alhankam produk luar negeri adalah minimal 35 persen dengan catatan tambahan yaitu adanya peningkatan sebesar 10 persen setiap lima tahun.

Hal ini sesungguhnya merupakan peluang yang besar yang harus dimanfaatkan oleh semua pihak yang terlibat dalam sistem pengadaan termasuk pelaku industri pertahanan. Sehingga, pelaksanaan kebijakan ofset dan kandungan lokal dapat memberikan manfaat yang besar bagi kemajuan industri pertahanan dalam negeri sekaligus menambah lapangan pekerjaan baru.

Kerja sama antara pelaksanaan pengadaan dan industri pertahanan yang difasilitasi oleh pemangku kebijakan dengan dibantu oleh pemerintah tentu menjadi kunci utama bagi keberhasilan pelaksanaan ofset dan kandungan lokal.

Melihat dua contoh pengadaan jet tempur Rafale oleh India dan Gripen oleh Brasil yang sama-sama berjumlah 36 unit, kiranya Indonesia juga bisa mendapatkan keuntungan setimpal apabila pembelian 36 Rafale dari Perancis berhasil diwujudkan.

Roni Sont

7 Replies to “Contoh Brasil, beli Gripen hasilkan 21.000 pekerjaan baru di dalam negeri”

  1. Yg jadi masalah, dokatnya ada gak. Lah yg dulu aja minta tukaran komoditi, padahal 1.2 M… sekarng yg 8 M, hrga pesawat 2.5 x lipat, gimana bayarnya. Kita hrs realistislah, mash banyk yg diprioritaskan, dan gak mungkin bisa membuat efek gentar ke S’pore n Ostrali. Bisa ditekan via NATO atau tdk diijinkan Amrik

  2. Walaupun ada keuntungan beli 36 unit, kalau lihat kasus India, jumlah tersebut belum cukup buat perakitan lokal. Saya rasa jumlah tersebut belum bisa bikin balik modal pembuatan assembly line baru.

    Kasus Gripen NG di Brasil berbeda. Bisa dilihat bahwa pembuatan assembly line tersebut dengan harapan ada tambahan pesanan dari negara Amerika Selatan lain. Apalagi kalau pesanan AU swedia dimasukan. Artinya output total dari pabrik di Brasil bisa lebih dari seratus pesawat.

    Coba bisa pesan Rafale lebih dari 36. Siapa tahu bisa pakai hanggar KF-X/IF-X di PT DI buat bikin assembly line sambil menunggu proyek tersebut kelar.

  3. Gripen bukan panutan
    Contoh argentina yg mau beli FA50 terganjal embargo sucad HUD dari inggris.. akhirnya batal..
    TNI bila ambil gripen kebayang kalo di embargo sucadnya sama mamarika misal mesin 414 nya.. kaya mesin bayraktar di embargo.. mending turki bisa bikin mesin rotax sendiri.. lah kita mau bikin engine jet?..
    Pilihannya ambil yg pro non blok.. sakarepmu mau di pake apa abis d beli.. ga ad main embargo..
    Tak gentar macam turki..

    Lanjutin ajah 36 rafale buat skadud 1, 16 dan 12.. duitnya cari dr semangat obrak abrik dana koruptor.. F16 skadud 16 geser ke eltari..

    lanjut juga SU35 dengan avionik nato dari thales integrasi dengan MBDA meteor.. biar makin gagah tarung jarak dekat maupun jauh..

    11 su35 baru dan 5 SU27 ex skadud 11 simpan di madiun.. buat skadron intercept..

    Tambah 5 SU34 buat lengkapin SU30 di skadud 11 untuk skadron pembom dan EW..

    Bravo TNI

  4. Kalo baca cara berpikirnya para inisiator IFX….mereka terlalu bergantung pada pencapaian teknologi korsel, dan terlalu naif beranggapan bahwa dlm join production ini adalah urusan bilateral antara RI-Korsel….padahal pemegang ke 20 teknologi kunci yg tersemat pd KFX/IFX adalah milik amerika dan amerikalah penentu negara mana yg berhak atas akses ke teknologi kunci tsb dan berapa besar porsinya !!!

    Ke 4 teknologi kunci lainnya yg tidak diberikan akses oleh amrik akhirnya menggunakan teknologi korea (radar aesa, ew, irst….1 lagi lupa) yg belum matang teknologinya ☝️

    Lantas…..apakah kita belum kapok dijadikan kelinci percobaan bagi teknologi korea (yg belum matang tsb)….atau jangan2 memang hanya bisa pasrah demi impian instant bisa membangun pespur secara mandiri 🤔

  5. Emang kalo beli ngeteng jangan cerita muluk2 TOT…negara produsen pun akan berpikir 12x ngasihnya karena ga ngasih keuntungan yg sepadan buat mereka…kasus Su 27/30 India dan China mereka belinya lebih dari 200 br minta opsi bikin didalam negeri ini br masuk akal hitung2 an bisnisnya…ini jg akuisisi Rafale blm jelas skema pendanaanya…apakah APBN ada duitnya, atau ada kredit eksport…let’s see….Tp kalo jadi datang bisa kita test tuh Rafale head to head sama flanker tetangga di utara yg suka iseng2 nerobos wilayah kita…biar kayak Turki ama Yunani yg makanan hari2 gertak2 an pespurnya di perbatasan mereka di Mediterania

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *