Turki lanjutkan penggelaran S-400, sejumlah elemen mulai diaktifkan

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Turki melanjutkan penggelaran sistem pertahanan udara S-400 Triumf yang dibeli dari Rusia. Sejumlah elemen sistem ini pun telah diaktifkan dan mulai beroperasi.

Kepala Industri Pertahanan Kepresidenan Turki, Ismail Demir, mengatakan hal itu kepada media pada 8 Mei 2020.

“Proses penempatan S-400 dilanjutkan dan sejumlah sistem telah dioperasikan,” ujar Demir seperti diberitakan harian Milliyet.

Walaupun sistem ini dibeli dari Rusia, namun Demir memastikan bahwa Rusia tidak akan memiliki akses bebas ke penempatan sistem pertahanan udara ini. Turki memiliki aturan tersendiri mengenai hal ini.

“Meskipun perjanjian pengiriman S-400 mencakup ketentuan pelatihan (personel Turki), teknis pemeliharaan, dan dukungan teknis, personel Rusia tidak akan bisa mendapatkan akses yang diinginkan ke baterai S-400,” kata Demir seperti Airspace Review kutip dari TASS.

Sebelumnya, Juru Bicara Kepresidenan Turki Ibrahim Kalin pada 30 April lalu mengatakan, proses penempatan sistem pertahanan udara S-400 di negaranya sempat tertunda karena pandemi virus corona.

Namun sekarang, kata dia, proses penempatan itu akan dilanjutkan lagi sesuai rencana.

Sementara itu dilaporkan, Juru Bicara Departemen Pertahanan Amerika Serikat Morgan Ortagus mengatakan, AS sangat prihatin dengan upaya Turki melanjutkan penggelaran S-400 dan membuat sistem pertahanan berbasis rudal darat ke udara itu menjadi aktif.

S-400 Triumf (NATO: SA-21 Growler) atau yang sebelumnya berkode S-300PMU-3 adalah sistem pertahanan udara jarak jauh yang dikembangkan pada era 1990-an oleh Biro Desain Pusat Almaz. Sistem ini merupakan peningkatan dari keluarga S-300.

S-400 masuk ke layanan militer Rusia pada 2007. Sistem pertahanan udara ini disebut-sebut sebagai senjata strategis yang sangat berbahaya. Sangat beralasan apabila Amerika Serikat (AS) melakukan ancaman terhadap negara-negara mitra yang membeli S-400 dari Rusia.

AS pun telah menerapkan sanksi kepada Turki karena membeli S-400 dari Rusia. Salah satu sanksi yang diterapkan adalah mengeluarkan Ankara dari program jet tempur siluman F-35 Lightning II.

Selain Turki, China adalah negara yang lebih dulu telah membeli dan memiliki S-400 Triumf. Berikutnya, India segera menerima pengiriman S-400 yang dibelinya dari Rusia.

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *