Stok Rudal Arab Saudi Menipis, Sekutu Masih Ragu Berikan Bantuan Militer Langsung

PAC-3 dan THAAD_ Airspace ReviewUS Army
Sistem Pertahanan Udara PAC-3 dan THAAD AS.

AIRSPACE REVIEW – Arab Saudi dilaporkan kehabisan amunisi pencegat rudal dan mulai meminta bantuan militer serta diplomasi kepada sekutu regional dan Barat. Langkah ini diambil seiring memanasnya konflik dengan kelompok pemberontak Houthi dari Yaman yang kian mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah.

Riyadh telah menghubungi Prancis, Inggris, Pakistan, dan Mesir untuk meminta pengerahan dukungan pertahanan udara guna menangkis gelombang serangan rudal dan drone.

Upaya darurat ini dilakukan lantaran stok persenjataan milik Amerika Serikat —pemasok utama Arab Saudi— juga ikut menyusut akibat keterlibatannya dalam perang enam bulan melawan Iran.

Pada akhirnya, kondisi tersebut menempatkan Arab Saudi dalam posisi yang sangat sulit karena harus melindungi banyak objek vital sekaligus, mulai dari pangkalan militer, fasilitas pemerintahan, hingga infrastruktur minyak yang tersebar di berbagai daerah.

Seperti diketahui, Arab Saudi mengandalkan sistem pertahanan udara seperti sistem MIM-104 Patriot dan THAAD buatan Amerika Serikat.

Menarget Makkah?

Ketegangan kian memuncak setelah otoritas Saudi mengklaim berhasil mencegat drone Houthi yang mengarah ke Makkah dan menetapkan kota suci tersebut sebagai batas merah, seperti diberitakan Associated Press, Kamis.

Meskipun pihak Houthi membantah tuduhan menargetkan Makkah, mereka terus meningkatkan tekanan militer, termasuk merilis rekaman video yang mengklaim keberhasilan menembak jatuh pesawat tempur F-15 milik Kerajaan Saudi di Provinsi Marib serta merebut sejumlah pulau strategis di Selat Bab el-Mandeb.

Eskalasi pertempuran ini membawa dampak sistemik terhadap rantai pasokan energi global. Serangan beruntun terhadap jaringan pipa dan jalur pelayaran di Laut Merah serta Selat Hormuz memaksa harga minyak dunia melonjak hingga bertahan di atas 100 USD per barel.

Di tengah situasi yang genting, para sekutu internasional bersikap hati-hati dalam memberikan bantuan militer langsung.

Amerika Serikat sejauh ini memilih fokus pada pertukaran intelijen melalui CENTCOM dan mendukung komunikasi langsung dengan Houthi, sementara Inggris, Pakistan, dan Turki hanya menyatakan solidaritas diplomatik tanpa mengonfirmasi adanya pengerahan pasukan darat atau sistem pertahanan baru.

Bergeser ke Jalur Diplomasi

Mengingat minimnya sinyal bantuan militer terbuka dari sekutu Barat, fokus penanganan konflik kini bergeser ke jalur diplomasi.

Negara-negara seperti Oman dan Mesir memimpin upaya mediasi regional untuk meredakan ketegangan di Yaman, sementara Tiongkok turut mendesak dibukanya kembali jalur pelayaran vital dan menyatakan kesiapannya menjadi penengah.

Hingga saat ini, pihak pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanggapan resmi terkait penipisan amunisi pertahanan udaranya, di saat upaya de-eskalasi diplomatis terus dipacu untuk mencegah perang meluas di kawasan tersebut. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *