Pemberontak Myanmar Serang Pesawat Tempur Yak-130 Milik Junta Menggunakan Drone FPV
Via X/ThomasVLingeAIRSPACE REVIEW – Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF) Myanmar berhasil menyerang sebuah pesawat latih dan serang ringan Yak-130 buatan Rusia milik Angkatan Udara junta militer Myanmar menggunakan drone FPV (First-Person View).
Serangan tersebut terjadi di pangkalan udara Tada-U, yang berlokasi di sebelah selatan Mandalay.
Tangkapan layar dari video rekaman pemberontak yang diunggah oleh jurnalis Thomas van Linge di platform X pada 10 September, memperlihatkan detik-detik drone menghantam bagian hidung pesawat.
Area frontal tersebut menyimpan berbagai sistem elektronik penting serta kontrol navigasi penerbangan.
Mengakuisisi 20 Yak-130
Yak-130 merupakan pesawat jet dua kursi buatan Biro Desain Yakovlev asal Rusia. Selain berfungsi memasilitasi pelatihan pilot pesawat tempur, jet ini juga dapat dikerahkan untuk misi serangan darat.
Antara tahun 2017 hingga 2021, Myanmar menerima total 20 unit Yak-130 dari Rusia secara bertahap, dan tercatat telah kehilangan setidaknya satu atau dua unit sebelumnya.
Sejak kudeta militer pada 2021, junta militer Myanmar intensif mengoperasikan Yak-130 sebagai jet tempur ringan untuk melancarkan serangan udara dengan rudal tanpa pemandu dan bom, baik ke posisi pasukan pemberontak maupun sasaran sipil.
PDF sendiri merupakan sayap bersenjata dari Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) Myanmar yang dibentuk untuk melawan rezim junta militer.
Info Lainnya: Myanmar resmikan pengoperasian jet tempur Su-30SME di angkatan udaranya
Insiden ini berdampak signifikan pada operasional penerbangan di wilayah tersebut, di mana Pangkalan Udara Tada-U berbagi fasilitas dengan Bandara Internasional Mandalay.
Akibat serangan drone bunuh diri ini, otoritas setempat terpaksa menutup bandara terbesar kedua di Myanmar tersebut selama dua hari guna alasan keamanan dan pemeriksaan infrastruktur.
Penggunaan drone FPV oleh pasukan pemberontak ini menandai pergeseran taktik yang semakin canggih dalam konflik bersenjata di Myanmar.
Kemampuan kelompok oposisi untuk menembus pertahanan pangkalan udara utama dan merusak aset militer bernilai tinggi menunjukkan ancaman nyata yang makin memojokkan armada udara milik junta militer. (PN)
