Drone Laut Squire Muncul Dalam Latihan Perang AS: Seaglider Otonom Penembus Radar
RegentAIRSPACE REVIEW – Perusahaan teknologi pertahanan REGENT Craft mengumumkan keberhasilan uji coba drone laut otonom terbarunya, Squire, dalam ajang latihan militer tingkat tinggi bertajuk “Silent Swarm” di Michigan, Amerika Serikat.
Drone berteknologi Seaglider ini berhasil mencuri perhatian publik internasional setelah merampungkan simulasi perang elektronik (electronic warfare) selama 13 hari hingga akhir Juli lalu.
Kehadiran Squire dalam ajang tersebut menjadi bukti lompatan besar dalam pengembangan alutsista tanpa awak (uncrewed systems), khususnya untuk mendukung operasi militer modern di wilayah perairan dan kawasan pesisir.
Tiga Peran Vital Perang Elektronik
Selama latihan yang berlangsung dari 13 hingga 24 Juli tersebut, drone Squire Seaglider diuji dalam berbagai skenario medan tempur elektromagnetik yang kompleks.
Pengujian ini memanfaatkan gabungan wilayah darat, udara, dan perairan terpadu di Northern Lower Peninsula serta Alpena Combat Readiness Training Center, Michigan.
Disponsori oleh Kantor Sekretaris Pertahanan untuk Riset dan Rekayasa AS melalui divisi Quantum and Battlefield Information Dominance dan dipimpin oleh Naval Surface Warfare Center Crane, latihan ini melibatkan berbagai instansi strategis mulai dari Garda Nasional Michigan, Naval Information Warfare Center Atlantic, NOAA, C5ISR Center Angkatan Darat, hingga Air Force Test Center.
Fokus utama dari pengujian ini adalah mengukur ketahanan serta efektivitas drone terhadap berbagai spektrum sinyal, mencakup sinyal radar, sistem komunikasi, navigasi, inframerah, hingga teknologi energi terarah (directed energy).
Dalam simulasi tersebut, Squire secara impresif berhasil menjalankan tiga peran vital perang elektronik sekaligus, yaitu serangan elektronik (electronic attack), perlindungan elektronik (electronic protection), dan dukungan perang elektronik (electronic warfare support).
Terbang Rendah di Atas Permukaan Laut
CEO sekaligus co-founder REGENT, Billy Thalheimer, menegaskan bahwa Latihan Silent Swarm menjadi kesempatan emas untuk menunjukkan kemampuan nyata drone otonom Squire kepada para pemangku kepentingan pertahanan utama di lingkungan yang relevan secara operasional.
Salah satu keunggulan utama yang membuat Squire dijuluki sebagai Seaglider penembus radar adalah desain teknologisnya yang memanfaatkan efek permukaan atau Wing-in-Ground-Effect (WiGE) dalam kategori USA-V (Uncrewed Seaglider Autonomous Vessel/Vehicle).
Squire dirancang untuk mampu terbang sangat dekat dengan permukaan air, yakni hanya setinggi satu rentang sayapnya.
Posisi terbang yang amat rendah ini memungkinkannya melintas di bawah jangkauan radar line-of-sight musuh, menjadikannya sarana siluman yang sangat ideal untuk misi infiltrasi maupun pengintaian.
Info Lainnya: Regent Craft dari AS dan UEA kembangkan Seaglider Viceroy untuk keperluan sipil dan militer
Secara spesifikasi, drone ini mampu melaju hingga kecepatan 70 knot atau sekitar 130 km/jam jam, memiliki jangkauan operasional lebih dari 100 mil laut (185 km), serta sanggup membawa kapasitas muatan hingga 23 kg untuk kebutuhan misi intelijen, pengawasan, logistik taktikal, hingga pencarian dan penyelamatan.
Pengembangan Squire didukung oleh kontrak senilai 15 juta dolar AS dari Korps Marinir AS (USMC), serta kemitraan riset resmi dengan Komando Operasi Khusus AS (USSOCOM) dan Pusat Riset Penjaga Pantai AS.
Sejak penerbangan pertamanya pada bulan April lalu yang disusul simulasi evakuasi medis di laut lepas, uji coba dalam Silent Swarm semakin mengukuhkan posisi Squire sebagai drone otonom masa depan yang siap diintegrasikan ke dalam armada militer. (RW)
