Iran Pamerkan Puing Jet F-15E AS dan Drone Hermes 900 Israel di Pangkalan Bawah Tanah

Iran pamerkan puing F-15E AS dan drone Hermes 900 IsraelIRGC
Iran pamerkan puing F-15E AS dan drone Hermes 900 Israel.

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi memamerkan puing-puing jet tempur F-15E Strike Eagle AS dan drone Israel yang diklaim berhasil ditembak jatuh selama berlangsungnya Operasi Epic Fury.

Berdasarkan analisis independen terhadap foto dan rekaman video yang dirilis oleh media pemerintah Iran, tanda visual dan karakteristik struktural pada bangkai pesawat tersebut mengonfirmasi keberadaan F-15E milik Angkatan Udara AS (USAF).

Pesawat militer dari Skuadron Tempur ke-494 di bawah Wing Tempur ke-48 tersebut dilaporkan hilang dan jatuh pada 3 April 2026 saat menjalankan misi serangan udara di wilayah Iran. Insiden ini tercatat sebagai salah satu kerugian operasional paling signifikan bagi militer Amerika Serikat sepanjang kampanye udara tersebut.

CSAR Terbesar

Jatuhnya F-15E USAF memicu salah satu misi Pencarian dan Penyelamatan Tempur (CSAR) terbesar yang pernah dilancarkan militer Amerika Serikat dalam beberapa dekade terakhir.

Pilot pesawat berhasil ditemukan dan dievakuasi beberapa jam setelah melontarkan diri dari kokpit. Namun, Perwira Sistem Senjata (Weapon Systems Officer) sempat terisolasi di dalam wilayah Iran selama kurang lebih dua hari sebelum akhirnya berhasil diselamatkan oleh pasukan khusus AS melalui operasi berisiko tinggi yang didukung puluhan jet tempur, pengawasan intelijen, serta pesawat pengisi bahan bakar di udara.

Baca di Sini: Nah! Michael Bay akan filmkan kisah dramatis penyelamatan terbesar pilot F-15E AS yang jatuh di pegunungan Iran

Selain potongan Strike Eagle, pameran bawah tanah tersebut juga menampilkan komponen yang menurut pemerintah Iran berasal dari jet tempur F-35I Adir dan F-16I Sufa milik Angkatan Udara Israel, serta klaim penembakan jatuh sekitar 30 unit drone MQ-9 Reaper.

Meski demikian, para pengamat militer internasional mencatat bahwa sebagian besar klaim terkait pesawat Israel dan puluhan drone Reaper tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, mengingat keterbatasan akses teknis untuk memeriksa nomor seri dan dokumen resmi kerugian operasional pihak Washington maupun Tel Aviv.

Hermes 900 Israel

Salah satu alutsista yang paling menarik perhatian para ahli dalam pameran ini adalah drone pengintai Hermes 900 nomor lambung 923 milik Israel yang berada dalam kondisi hampir utuh.

Pihak IRGC mengklaim berhasil menetralkan drone tersebut melalui operasi perang elektronik (EW), bukan melalui intersepsi rudal konvensional.

Kondisi fisik yang sangat terawat ini berpotensi memberikan akses intelijen teknis bagi Iran untuk mempelajari arsitektur elektronik, tautan data (data link), sensor, hingga komputer misi platform tersebut, meskipun efektivitas pembedahan teknologi ini diperkirakan tetap dibatasi oleh mekanisme enkripsi otomatis dan sistem perlindungan data yang terpasang pada drone.

Benteng Bawah Tanah

Penyelenggaraan pameran di dalam pangkalan terlindungi di bawah tanah ini menegaskan kembali strategi doktrin militer Iran yang kian mengandalkan benteng bawah tanah untuk menyimpan rudal balistik, drone, dan pusat komando.

Langkah ini dirancang untuk menjaga daya tahan operasional dan kemampuan pembalasan Iran di tengah potensi ancaman serangan udara presisi tingkat tinggi dari lawan-lawannya.

Lebih dari sekadar ajang unjuk piala perang, pameran ini berfungsi sebagai instrumen perang informasi untuk membangun narasi ketahanan nasional, sekaligus memicu diskusi internasional mengenai dinamika kerentanan jet tempur modern di dalam ruang udara yang dilindungi oleh sistem pertahanan udara dan peperangan elektronik yang terintegrasi. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *