Grasshopper, Drone Kargo Jarak Jauh Sekali Pakai yang Dipesan USAF
Dzyne TechnologiesAIRSPACE REVIEW – Laboratorium Penelitian Angkatan Udara AS (AFRL) telah memberikan kontrak kepada Dzyne Technologies senilai 6 juta USD untuk melanjutkan pengembangan sistem pasokan udara otonom jarak jauh Grasshopper.
Upaya ini menandai Angkatan Udara AS (USAF) untuk menentukan apakah drone kargo sekali pakai dapat digunakan secara rutin di masa perang.
Pekerjaan proyek ini difokuskan pada jangkauan dan daya tahan lama, integrasi muatan modular, navigasi otonom di lingkungan dengan keterbatasan GPS atau tanpa GPS.
Dikembangkan Sejak 2021
Sekitar lima tahun lalu, Pusat Inovasi Cepat AFRL melakukan uji penerbangan operasional pertama di Dugway Proving Ground, Utah, tepatnya pada Oktober 2021.
Setelah itu, beberapa versi tanpa mesin dari Grasshopper dikerahkan, pesawat luncur tersebut dapat dilepaskan lebih jauh dari target dan tetap mencapainya.
Pada tahun 2024–2025, uji terbang menunjukkan bahwa Grasshopper dapat dijatuhkan dari pesawat berawak seperti C-130 Hercules, kemudian menghidupkan mesinnya untuk terbang sendiri jarak jauh.
Muatan Hingga 500 Pon
Keluarga Grasshopper baik yang memiliki mesin atau tanpa mesin dapat membawa muatan 500 pon atau setara 226,7 kg.
Varian drone tanpa mesin memiliki panjang 3,66 m, tinggi 1,47 m, dan rentang sayap 6,10 m, serta dapat mencapai kecepatan 176 km/jam.
Setelah dilepaskan dari pesawat induk, sayap lipat terbentang, pesawat luncur beralih ke penerbangan otonom, menavigasi menuju tujuan yang telah diprogram sebelumnya, dan memasuki penurunan akhir sebelum mendarat menggunakan parasut.
Sedangkan versi terbaru, Long-Range Grasshopper (LRG) panjangnya bertambah menjadi 4,06 m, dan tingginya menjadi 1,52 m.
Massa tambahan tersebut untuk membawa mesinnya, bahan bakar, dan sistem terkait yang dibutuhkan untuk mengubah tahap akhir dari meluncur menjadi penerbangan bertenaga lebih dengan jangkauan 500 mil laut. (RBS)
