Turkiye, Arab Saudi, dan Pakistan Bentuk Aliansi Pertahanan Bersama
TRTWorldAIRSPACE REVIEW – Turkiye, Arab Saudi, dan Pakistan secara resmi menandatangani aliansi pertahanan trilateral yang memuat klausul pertahanan bersama, di mana serangan terhadap salah satu negara anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Kesepakatan bersejarah ini ditandatangani oleh Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di Mekkah pada awal Agustus 2026.
Langkah strategis ini diambil di tengah ketegangan kawasan Timur Tengah yang terus meningkat pasca-meletusnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada Februari lalu. Sejak saat itu, Arab Saudi dan sejumlah negara Teluk kerap menjadi sasaran serangan beruntun dari Iran beserta milisi sekutunya.
Sebelum penandatanganan pakta ini berlangsung, Pemerintah Arab Saudi sempat mengeluarkan peringatan resmi mengenai potensi ancaman serangan dari kelompok pro-Iran di Irak serta milisi Houthi dari Yaman.
Respons Dingin Iran
Menanggapi pakta pertahanan tersebut, pihak Teheran meresponsnya secara dingin. Anggota parlemen Iran, Ibrahim Rezaei, menyatakan bahwa perjanjian di atas kertas bersama Turkiye dan Pakistan tidak akan memberikan jaminan keamanan nyata bagi Arab Saudi, sebagaimana dukungan unilateral dari Amerika Serikat selama bertahun-tahun juga gagal memberikan perlindungan mutlak.
Baca Juga: Aliansi militer menguat, Belarus jadi “bengkel utama” sistem pertahanan udara Pantsir Rusia
Presiden Erdogan menegaskan kepada Reuters bahwa penderitaan dan krisis kawasan mendorong lahirnya kerja sama ini, yang ditegaskannya bersifat murni defensif dan tidak ditujukan untuk memusuhi negara tertentu.
Meski demikian, rincian detail mengenai kewajiban militer antaranggota masih dirahasiakan oleh ketiga belah pihak.
Terbuka Bagi Negara Lain untuk Bergabung
Kerja sama pertahanan trilateral ini sendiri sejatinya telah dimatangkan melalui proses negosiasi yang berlangsung selama hampir satu tahun, dan pihak Turkiye membuka pintu bagi negara-negara kawasan lainnya untuk bergabung di masa mendatang.
Pakta pertahanan bersama ini memperkuat pilar kerja sama militer yang sebenarnya telah terjalin lama di antara ketiga negara. Pakistan selama berdekade telah membantu pelatihan personel militer serta bantuan teknis pertahanan bagi Arab Saudi.
Baca Juga: Perkuat pertahanan sahabat: Pakistan kerahkan 18 jet tempur ke Arab Saudi
Bahkan pada Mei lalu, Pakistan mengerahkan sekitar 8.000 prajurit ke wilayah Arab Saudi beserta jet tempur JF-17, drone, dan sistem pertahanan udara HQ-9 buatan China.
Sementara itu, Turkiye dan Pakistan juga aktif memproduksi kapal perang serta pesawat latih bersama. Hubungan Ankara dan Riyadh pun kian erat sejak 2023 melalui kontrak pembelian drone tempur Turkiye dalam jumlah besar, yang berlanjut pada penguatan pakta pertahanan regional yang bercita-cita membangun struktur keamanan terpadu di kawasan. (ME)
