BPPT: Elang Hitam, nama pemberian dari Menristek/Kepala BRIN

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Banyak orang penasaran dan bertanya, mengapa drone jenis MALE (Medium Altitute Long Endurance) buatan Indonesia diberi nama “Elang Hitam”. Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) atau Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) pada umumnya memang dirancang dapat terbang lama di udara, bahkan mampu terbang hingga 24 jam seperti spesifikasi rancangan Elang Hitam ini.

Kalau kita perhatikan, burung Elang dengan warna hitam menyiratkan suatu keindahan, namun juga keangkeran dan keganasan. Paruh dan cakarnya tajam. Ia melayang-layang di udara dengan senyap, membentangkan sayapnya lebar-lebar, dan tiba-tiba bisa meluncur menangkap mangsanya dengan ganas.

Elang Hitam (Ictinaetus malayensis) merupakan jenis burung pemangsa dari suku Accipitridae dan satu-satunya anggota genus Ictinaetus. Dinamai demikian karena warna bulunya yang seluruhnya berwarna hitam. Walaupun, ada juga jenis elang lain yang juga bulunya berwarna hitam.

Elang Hitam berukuran besar dengan panjang sekira 70-80 cm dan berat hingga 1,6 kg. Sayap dan ekornya panjang. Saat terbang, ia akan merentangkan sayapnya yang berukuran hingga 182 cm sehingga tampak gagah.

Di bawah terik matahari, bayangan rentangan sayapnya akan tampak di permukaan yang dilintasinya. Burung ini tersebar luas di kawasan Benua Asia, mulai dari India, Sri Lanka di kawasan Asia Selatan hingga ke kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia. Burung ini terdapat banyak di Sulawesi dan Maluku.

Mungkin, bisa jadi seperti itu tebakan filosofinya. Yang jelas, pemberi nama pasti punya maksud tertentu.   

Pemberian Menristek/Kepala BRIN

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengatakan, nama Elang Hitam (Black Hawk) bagi PTTA/PUNA  MALE Nasional, merupakan pemberian langsung dari Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang P.S Brodjonegoro.

BACA  Boeing Disiram Rp 53 Triliun untuk Air Force One Baru

Dalam pidatonya saat acara “Roll Out Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) MALE” di Hanggar Rotary Wing PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Bandung pada Senin, 30 Januari 2019, ia memberitahukan hal itu kepada para hadirin.

“Bapak Menteri sangat mendukung hilirisasi teknologi PUNA MALE ini. Bahkan saking antusiasnya, beliau sampai memberikan nama Elang Hitam,” ungkap Hammam menerangkan.

Hammam Riza
Rangga Baswara Sawiyya Kepala BPPT Hammam Riza.

Lebih lanjut Hammam meyakini, Indonesia mampu mandiri dalam memproduksi alutsista, melalui peran teknologi dan inovasi di era revolusi industri 4.0. Pemerintah, ujarnya, berupaya mendorong pengimplementasian teknologi dalam segala sektor, termasuk bidang pertahanan.

Menjaga Kedaulatan NKRI

Dalam rilis berita di lamannya, BPPT menguraikan, sebagai institusi pemerintah yang berfokus pada bidang kaji terap teknologi, BPPT turut ambil bagian menyukseskan cita-cita pemerintah.

Inovasi dalam bidang pertahanan ini dihadirkan melalui pengembangan PUNA/PTTA MALE. Wahana yang diyakini mampu terbang tanpa henti selama 24 jam ini memiliki pengendalian multiple UAV secara bersamaan (simultan).

Konsep operasi MALE memungkinkannya untuk melakukan pengawasan dalam menjaga kedaulatan NKRI, baik di wilayah darat maupun laut melalui pantauan udara. Penjagaan dari udara ini diyakini sangat efisien dan mampu meminimalisir risiko kehilangan jiwa karena dioperasikan tanpa pilot. 

Hal ini dilakukan seiring peningkatan ancaman yang terjadi di daerah perbatasan, serta kasus lainnya seperti terorisme, penyelundupan, pembajakan, hingga pencurian Sumber Daya Alam (SDA) diantaranya illegal logging dan illegal fishing.

“Kebutuhan pengawasan dari udara yang efisien dan kemampuan muatan (payload) yang lebih besar dan jangkauan radius terbang yang jauh secara kontinyu menjadi kebutuhan yang harus diantisipasi,” kata Hammam.

BACA  Dua Bomber Berkemampuan Nuklir China Bikin Taiwan Merasa Tegang

Lebih jauh, Kepala BPPT menekankan bahwa PTTA/PUNA MALE ini merupakan inovasi karya anak bangsa.

“Pesawat Terbang Tanpa Awak MALE ini hasil rancang bangun, rekayasa dan produksi anak bangsa,” ujarnya menegaskan.

MALE Elang Hitam
Rangga Baswara Sawiyya Peluncuran PUNA MALE Elang Hitam di PT Dirgantara Indonesia, Bandung.

Konsorsium PTTA

Inisiasi pengembangan PUNA MALE, kata Hammam, telah dimulai  sejak 2015 silam oleh Balitbang Kementerian Pertahanan (Kemhan). Hal ini ditandai melalui kesepakatan rancangan, kebutuhan dan tujuan (DR&O) PUNA MALE yang akan dioperasikan oleh TNI, khususnya TNI Angkatan Udara.

Untuk PUNA MALE, ujarnya, proses perancangan dimulai dengan kegiatan preliminary design, basic design dengan pembuatan dua kali model terowongan angin pada 2016 dan 2018. Setelah itu, proyek dilanjutkan dengan pembuatan engineering document and drawing tahun 2017 melalui anggaran dari Balitbang Kemhan dan BPPT.

Pada 2017, perjanjian bersama dibentuk dengab adanya Konsorsium Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA MALE). Anggotanya terdiri dari Kemhan RI yaitu Ditjen Pothan dan Balitbang, BPPT, TNI AU (Dislitbangau), Institut Teknologi Bandung/ITB (FTMD), BUMN melalui PT Dirgantara Indonesia serta PT LEN Industri. Selanjutnya tahun 2019 ini, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) pun masuk sebagai anggota konsorsium tersebut.

2 prototipe tahun 2020

Sebanyak dua prototipe akan dibuat pada 2020 yang direncanakan untuk diterbangkan dan uji kekuatan struktur di BPPT.

BACA  Rusia undang 90 negara untuk berpartisipasi di Army Games 2020

Sementara untuk proses sertifikasi produk militer, dimulai  tahun ini dan diharapkan sudah mendapatkan sertifikat tipe dari Pusat Kelaikan Kementerian Pertahanan RI (IMAA) pada akhir 2021.

Pengintegrasian sistem senjata pada prototype PUNA MALE ini juga akan dilakukan mulai tahun 2020 dan diharapkan pula mendapatkan sertifikasi tipe produk militer pada tahun 2023.

Hammam Riza
Rangga Baswara Sawiyya Sosok prototipe PUNA Elang Hitam diperlihatkan secara resmi.

Mengacu pada rilis berita dari BPPT, PTTA/PUNA MALE Elang Hitam memiliki radius operasi sejauh 250 km (LOS), ceiling (ketinggian terbang maksimum) 7.200 m, dan endurance (lama terbang) 30 jam.

Untuk dimensinya, Elang Hitam memiliki panjang 8,3 meter dan bentangan sayap 16 m.

Jalan masih panjang

Menyimak apa yang dilakukan pemerintah melalui Kementerian Pertahanan, BPPT, PT DI, dan instansi-instansi lainnya yang terlibat dalam Konsorsium PTTA MALE, kita layak berharap pengembangan pesawat tanpa awak (drone) ini dapat menumbuhkan kebanggaan pada upaya menghasilkan produk industri strategis dalam negeri.

Seperti telah diulas dalam tulisan lain di Airspace Review mengenai PUNA Elang Hitam di antara para pesaingnya, tantangan yang dihadapi oleh tim pengembang tentu masih besar. Minimal adalah untuk membuktikan bahwa prototipe ini bisa terbang dan melakukan misi-misi awal sebagaimana rancangannya.

Ke depan, Elang Hitam akan dikembangkan ke versi kombatan. Ini juga suatu tantangan tersendiri di mana teknologi yang diintegrasikan akan lebih kompleks lagi.

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *