Borong 18 Yak-130M, Vietnam Jadi Pelanggan Ekspor Pertama Jet Serang Ringan Rusia

Yak-130M _Dubai Airshow 2025 _ Roni Sontani _3RNS/AR
Jet serang ringan Yak-130M ditampilkan di Dubai Airshow 2025.

AIRSPACE REVIEW – Vietnam secara resmi terungkap sebagai pelanggan ekspor perdana untuk pesawat serang ringan dan latih tempur Yak-130M buatan Rusia. Kepastian komitmen ini dipublikasikan setelah Direktur Utama Pabrik Penerbangan Irkutsk, Andrei Soynov, mengumumkan kesepakatan pengadaan sebanyak 18 unit pesawat di sela-sela kunjungan Presiden Vladimir Putin ke fasilitas produksi tersebut pada 24 Juli 2026.

Penandatanganan kontrak ini tergolong sangat cepat karena mengemuka hanya 29 hari setelah penerbangan perdana prototipe Yak-130M pada 25 Juni 2026. Seperti diberitakan sebelumnya, pesawat ini sukses mengudara selama 50 menit hingga ketinggian 2.000 meter dan kecepatan 600 km/jam di bawah kendali pilot uji Alexander Guskov dan Andrey Voropayev.

Total Menjadi 30 Unit

Komitmen awal Vietnam yang dieksekusi saat fase pengujian penerbangan baru berjalan sembilan kali sorties ini menunjukkan keputusannya untuk mengamankan lini produksi ekspor mendahului penyelesaian seluruh rangkaian uji coba negara Rusia yang dijadwalkan berlangsung hingga Desember 2028.

Langkah pengadaan 18 unit Yak-130M ini menguatkan total akumulasi pembelian platform Yakovlev oleh Vietnam menjadi 30 unit. Sebelumnya, Angkatan Udara Vietnam telah memesan 12 unit Yak-130 versi dasar pada tahun 2019, meski dua armada di antaranya mengalami insiden kecelakaan saat penerbangan latihan masing-masing pada 6 November 2024 dan 28 Januari 2026.

Dengan sisa 10 unit yang masih beroperasi aktif, penambahan 18 unit varian terbaru ini akan melonjakkan total kekuatan armada operasional menjadi 28 unit, membentangkan struktur kekuatan udara hingga ke tingkat resimen penuh.

Strategi ini memungkinkan Vietnam membagi alokasi operasional secara efisien: armada Yak-130 awal difokuskan untuk pelatihan penerbang tingkat lanjut, sementara armada Yak-130M baru diproyeksikan langsung untuk memperkuat pertahanan udara lokal, patroli wilayah, dan penanganan ancaman udara modern.

Teknologi Canggih

Secara teknis, Yak-130M mempertahankan kerangka udara (airframe) serta sepasang mesin turbofan AI-222-25 dari varian pendahulunya, namun memodifikasi dan mengganti lebih dari 50 persen sistem peralatan elektronik (avionik) di dalam kokpit.

Baca Juga: Gendong radar baru dan rudal presisi, jet tempur “Two-in-One” Yak-130M terbang perdana

Peningkatan paling krusial terletak pada integrasi radar Active Electronically Scanned Array (AESA) tipe BRLS-130R. Penyematan radar AESA ini memberikan kemampuan pencarian dan pelacakan target mandiri secara independen, sebuah fitur yang sebelumnya tidak dimiliki Yak-130 versi standar yang sangat bergantung pada panduan stasiun radar darat atau pengamatan visual.

Selain radar, Yak-130M dilengkapi sistem penargetan elektro-optik SOLT-130K yang mengombinasikan kanal televisi, infra-merah, dan penanda laser untuk identifikasi target pasif, paket perlindungan diri peperangan elektronik President-S130 untuk mendeteksi ancaman rudal musuh, serta sistem komunikasi taktis KSS-130 guna pertukaran data jaringan (data link) secara real-time.

Persenjataan Mematikan

Transformasi avionik tersebut berdampak langsung pada variasi persenjataan yang dapat diusung. Varian Yak-130M tidak lagi terbatas pada muatan bom tanpa pemandu dan latihan jarak dekat, melainkan mampu mengoperasikan rudal udara ke udara jarak pendek R-74M berpemandu infra-merah serta rudal jarak jauh melebihi jarak pandang visual (Beyond Visual Range/BVR) tipe R-77-1 berpemandu radar aktif.

Untuk misi serangan darat dan permukaan, pesawat ini dipersenjatai dengan muatan presisi berpemandu satelit dan laser, bom konvensional berbobot 50 hingga 500 kg, pod roket, hingga pod kanon internal.

Meskipun kapasitas muatan tempurnya disesuaikan menjadi 2.500 kg (sedikit di bawah batas maksimum Yak-130 standar sebesar 3.000 kg) akibat penambahan bobot modul sensor dan radar, kapasitas ini dinilai sangat mencukupi untuk mendukung operasional misi serangan ringan maupun patroli pencegahan ancaman udara dengan biaya operasional yang jauh lebih murah dibandingkan mengoperasikan jet tempur kelas berat.

Baca Juga: Rusia meningkatkan kemampuan peran tempur Yak-130M untuk menangkal UAV dan USV

Salah satu fokus operasional utama yang dibebankan kepada Yak-130M adalah kemampuan melakukan intersepsi terhadap kendaraan udara tak berawak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) dan kapal permukaan tanpa awak (Unmanned Surface Vessel/USV). Dalam skenario penanganan drone berukuran sedang hingga besar, proses intersepsi dimulai dari deteksi awal oleh radar pengawas darat yang kemudian memancarkan data target melalui sistem KSS-130 ke pesawat.

Konfigurasi kokpit dua kursi (two-seater) menjadi keunggulan tersendiri, di mana penerbang di kursi depan berkonsentrasi pada navigasi penerbangan, sementara awak di kursi belakang mengoperasikan radar BRLS-130R dan sensor SOLT-130K untuk mengunci target sebelum melepaskan rudal R-77-1 atau R-74M.

Baca Juga: Yak-130M, jet latih-tempur debutan di Dubai Airshow yang menjanjikan lima fitur unggulan

Di sisi lain, dari segi performa terbang, pesawat berbobot lepas landas maksimum 10.290 kg ini tetap mengandalkan kecepatan maksimum Mach 0,9 (950–960 km/jam), ketinggian jelajah hingga 12.500 meter, serta jarak jelajah jangkauan pindah (ferry range) mencapai 2.265 km dengan tangki bahan bakar cadangan.

Pelengkap Armada Su-27/30

Integrasi Yak-130M tidak dirancang untuk menggantikan peran jet tempur utama Angkatan Udara Vietnam seperti Su-30MK2, melainkan bertindak sebagai elemen penunjang strategis. Dengan kecepatan yang kurang dari separuh kecepatan supersonik Su-30 dan muatan tempur yang lebih terbatas, nilai ekonomis Yak-130M terletak pada kemampuannya menyerap beban tugas-tugas rutin, seperti patroli udara lokal, eskort konvoi, dan bantuan tembakan udara dekat, sehingga jam terbang (flight hours) jet tempur Su-30 dapat dihemat khusus untuk misi kedaulatan jarak jauh dan pertahanan wilayah maritim utama.

Pembelian ini memperluas fleksibilitas operasional Vietnam sekaligus menghadirkan tantangan integrasi baru, mulai dari kesesuaian jaringan data KSS-130 dengan sistem armada Su-27/Su-30 yang sudah ada, persiapan fasilitas pemeliharaan modul radar AESA, hingga manajemen persenjataan rudal BVR baru sebelum pengiriman unit pertama dijadwalkan bergulir pada akhir 2028. (AF)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *