Gebrakan baru RAF: Kendalikan drone bertaring Meteor langsung dari kokpit Typhoon
RAFAIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) tengah menyiapkan langkah modernisasi paling ambisius untuk armada jet tempur Eurofighter Typhoon mereka. Inggris berencana mengubah peran Typhoon dari sekadar jet tempur multiperan menjadi sebuah platform pusat komando udara yang mampu mengendalikan sekawanan drone tempur tak berawak (Collaborative Combat Aircraft/CCA) secara real-time.
Langkah strategis ini diambil untuk menjaga keunggulan serta relevansi daya gempur udara Inggris di tengah medan pertempuran modern yang semakin kompleks. Upaya ini juga sekaligus menjembatani masa transisi hingga hadirnya jet tempur generasi keenam, Tempest, melalui program Global Combat Air Programme (GCAP).
Memimpin Formasi Drone
Dalam konsep operasional baru ini, jet tempur Typhoon tidak lagi beraksi sendirian, melainkan memimpin formasi drone pendamping yang dikenal sebagai loyal wingmen. Salah satu skenario paling canggih yang tengah dikembangkan adalah melengkapi drone-drone tersebut dengan rudal udara ke udara jarak jauh MBDA Meteor.
Nantinya, Typhoon akan memanfaatkan jaringan sensor canggihnya untuk mengidentifikasi dan mengunci posisi musuh dari jarak jauh, sementara drone di barisan depan bertindak sebagai eksekutor yang meluncurkan rudal.
Taktik ini tidak hanya memperluas jangkauan tempur dan kapasitas amunisi dalam satu misi, tetapi juga menjaga agar pesawat berawak tetap berada di luar zona bahaya.
Radar AESA Generasi Terbaru
Untuk merealisasikan peran baru tersebut, perusahaan pertahanan Leonardo UK mengusulkan pemasangan radar AESA (Active Electronically Scanned Array) generasi terbaru yang mengadopsi teknologi GCAP.
Radar ini menawarkan jangkauan deteksi yang lebih luas, ketahanan tinggi terhadap perang elektronik, serta kemampuan melacak banyak target sekaligus.
Pengalaman terbang pilot juga ditingkatkan secara signifikan melalui perombakan ruang kokpit yang dilengkapi layar panoramik besar dan integrasi kecerdasan buatan (AI).
Kehadiran AI memungkinkan pilot membagikan instruksi dan tugas secara praktis tanpa harus mengendalikan setiap drone secara manual, sehingga sistem otomasi yang akan mengeksekusi keputusan taktis di lapangan.
Storm Fighter
Drone kolaboratif yang dikembangkan dalam program Storm Fighter ini dirancang untuk mengemban berbagai peran spesifik, mulai dari pengintai terdepan, pengganggu sistem radar musuh, hingga platform penembak amunisi tambahan.
Kementerian Pertahanan Inggris sendiri telah menggelontorkan investasi sebesar 300 juta pounsterling untuk mempercepat pengembangan proyek ini, dengan target menggelar uji coba penerbangan sebelum akhir dekade.
Baca di Sini: Tebus kegagalan Proyek Mosquito, Inggris luncurkan program loyal wingman Storm Fighter
Melalui modernisasi berskala besar ini, RAF optimistis dapat mengoperasikan Typhoon setidaknya hingga dekade 2040-an sebagai pusat kendali udara masa depan yang adaptif dan mematikan. (RNS)
