B-21 Raider tetap diterbangkan oleh dua pilot, faktor-faktor ini jadi penyebabnya

Northrop Grumman B-21 RaiderUSAF
Northrop Grumman B-21 Raider.

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) akhirnya mengambil keputusan resmi terkait tata cara pengoperasian pesawat pembom siluman masa depan mereka, B-21 Raider. Setelah sempat mempertimbangkan opsi radikal untuk menerbangkannya hanya dengan satu pilot, USAF secara resmi mengonfirmasi bahwa pesawat pengebom generasi keenam ini akan tetap diawaki oleh dua pilot, sama seperti pendahulunya, B-2 Spirit.

Keputusan ini menjadi sorotan penting di dunia militer, mengingat USAF sedang bersiap untuk mulai mengoperasikan pesawat pengebom tercanggih di dunia ini dalam waktu dekat.

Mengapa Muncul Opsi Satu Pilot?

Pada akhir tahun 2025, Komando Serangan Global Angkatan Udara (AFGSC) sempat merekomendasikan konfigurasi kru yang tidak biasa untuk B-21 Raider, yaitu satu pilot dan satu Weapons Systems Officer (WSO atau sering disebut Wizzo).

Rekomendasi tersebut memicu spekulasi besar bahwa B-21 Raider memiliki tingkat otomatisasi yang luar biasa tinggi dan didukung oleh teknologi kecerdasan buatan (AI) yang sangat canggih.

Kehadiran AI diproyeksikan bertindak sebagai “asisten virtual” yang mampu mengambil alih sebagian besar beban kerja teknis pesawat, sehingga satu pilot dirasa sudah cukup untuk menerbangkan maraton pembom siluman ini dalam misi global yang bisa berlangsung hingga puluhan jam.

Dua Pilot Opsi Paling Optimal

Meskipun teknologi otomatisasi pada B-21 sangat mutakhir, kepemimpinan Angkatan Udara AS akhirnya memilih jalur yang lebih aman dan teruji.

Berdasarkan hasil analisis mendalam terhadap kemampuan tingkat lanjut B-21, USAF menyimpulkan bahwa konfigurasi dua pilot adalah opsi paling optimal untuk mendukung profil misi pesawat tersebut.

Beberapa faktor melatarbelakangi keputusan tersebut. Pertama, ketahanan dalam misi berdurasi ekstrem.

Seperti diketahui, misi pengebom strategis AS sering kali melibatkan penerbangan lintas benua tanpa henti yang memakan waktu hingga 30 hingga 40 jam. Dalam skenario melelahkan seperti ini, memiliki dua pilot bersertifikat penuh sangat krusial untuk bergantian beristirahat dan menjaga kewaspadaan mental.

Kedua, faktor redundansi dan keselamatan. Jika satu pilot mengalami kendala medis atau kelelahan ekstrem di tengah wilayah udara musuh yang sangat diperebutkan (highly contested environment), pilot kedua dapat langsung mengambil kendali penuh tanpa membahayakan aset senilai miliaran dolar tersebut.

Ketiga, kompleksitas operasional. Menembus pertahanan udara modern yang padat memerlukan konsentrasi tinggi. Dua pilot dinilai memberikan pembagian tugas (workload) yang paling seimbang untuk memaksimalkan kemampuan bertahan hidup (survivability) pesawat.

Strategi Cerdas: Menyulap Wizzo Menjadi Pilot

Keputusan kembali ke format dua pilot ini memicu tantangan baru dalam pengelolaan bakat (talent management).

USAF tidak ingin kehilangan keahlian taktis mendalam dari komunitas WSO dan CSO (Combat Systems Officers) yang awalnya diproyeksikan mengisi kursi kedua B-21.

Sebagai solusinya, USAF meluncurkan program transisi pilot khusus. Melalui program ini, para WSO dan CSO terpilih yang memiliki pengalaman tempur kaya akan disekolahkan kembali untuk mendapatkan kualifikasi sebagai pilot sebelum ditugaskan di kokpit B-21 Raider.

Strategi ini memastikan bahwa keahlian taktis mereka dalam mengelola sistem persenjataan canggih tetap dapat dimanfaatkan di dalam kokpit, namun kini dengan kemampuan penuh untuk menerbangkan pesawat.

Masa Depan B-21 Raider

Meskipun opsi satu pilot resmi dibatalkan, bukan berarti teknologi AI dan otomatisasi di B-21 akan disia-siakan.

AI tetap akan diintegrasikan sebagai sistem pendukung untuk mengurangi beban kerja kru manusia, mendeteksi ancaman, dan mengoordinasikan taktik pertempuran.

Selain itu, cetak biru B-21 sejak awal dirancang untuk memiliki kemampuan optionally piloted (dapat diterbangkan tanpa pilot/otonom) di masa depan.

Konfigurasi dua pilot saat ini merupakan langkah awal yang realistis untuk memastikan pesawat pembom siluman ini siap menghadapi potensi konflik modern dengan kesiapan tertinggi.

Baca Juga: Studi Michell Institute: Tahun 2030 AS membutuhkan 200 pembom B-21 Raider dan 300 jet siluman F-47 untuk menghadapi kekuatan China

Dengan pengujian intensif yang terus berjalan di Pangkalan Udara Edwards, B-21 Raider diproyeksikan akan segera menjadi tulang punggung baru bagi armada pembom strategis Amerika Serikat.

So, kesimpulannya, AI memang bukan segala-galanya, meskipun harus diakui juga bahwa penggunaan kecerdasan buatan meningkatkan berbagai parameter keunggulan dan inilah yang menjadi salah satu kunci penguasaan pertempuran modern.

Faktor manusia tetap dibutuhkan dalam beberapa hal, setidaknya untuk saat ini, sebelum semuanya benar-benar robotik. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *