Duet tanker YY-20A dan jet siluman J-20 memberikan PLAAF keunggulan udara jarak jauh

Tanker YY-20 mengisi bahan bakar di udara ke J-20PLAAF
Tanker YY-20 mengisi bahan bakar di udara ke J-20.

AIRSPACE REVIEW – China secara terbuka telah memperlihatkan video mengenai kemampuan untuk memperluas jangkauan tempur jet siluman J-20 dengan melakukan pengisian bahan bakar di udara lewat pesawat tanker YY-20A.

Rekaman yang dirilis pada 28 Juni oleh saluran media sosial militer China tersebut, menyoroti kemampuan kekuatan udara jarak jauh Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF) terutama untuk beroperasi di wilayah Pasifik Barat.

Demonstrasi ini menandakan bahwa jet tempur tercanggih China semakin mampu beroperasi lebih jauh dari pangkalan di daratan utamanya, sehingga mempersulit perencana militer Amerika Serikat (AS) dan sekutunya untuk memperoleh superioritas udara dan proyeksi kekuatan di wilayah tersebut.

Rekaman tersebut secara khusus menunjukkan dua pesawat tempur J-20 menerima bahan bakar dari satu pesawat tanker YY-20A, sekaligus dengan jelas memperlihatkan alat pengisian bahan bakar udara yang jarang terlihat, menggarisbawahi kematangan jaringan tempur siluman yang didukung oleh pesawat tanker.

Dengan menggabungkan kemampuan pengamatan rendah dengan daya tahan dan persistensi operasional yang lebih besar, PLAAF sedang membangun kemampuan kekuatan udara jarak jauh yang lebih fleksibel.

Duet Maut

Pesawat pengisian bahan bakar udara YY-20A merupakan turunan dari platform pesawat angkut berat Y-20 yang dikembangkan dan diproduksi oleh pabrik pesawat Xian.

Kehadirannya memberikan PLAAF kemampuan baru untuk mendukung pesawat tempur, pembom, dan pesawat misi khusus di luar batas kapasitas bahan bakar internal mereka.

Sedangkan J-20 adalah pesawat tempur siluman operasional tercanggih yang diproduksi oleh pabrik pesawat Chengdu.

Jet tempur generasi kelima ini dirancang untuk pertempuran udara tingkat tinggi dan intersepsi jarak jauh.

J-20 yang didukung oleh pesawat tanker YY-20A dapat tetap berpatroli lebih lama, menjangkau area operasi yang lebih jauh, menghemat bahan bakar untuk manuver kecepatan tinggi atau keterlibatan tempur, dan kembali ke pangkalan dengan margin keselamatan yang lebih besar. (RBS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *