AS genjot produksi THAAD, Lockheed Martin mendapat kucuran kontrak Rp574 triliun
US ArmyAIRSPACE REVIEW – Pemerintah Amerika Serikat resmi memberikan kontrak berdurasi tujuh tahun senilai hingga 35 miliar dolar AS (sekitar Rp574 triliun) kepada Lockheed Martin.
Kontrak fantastis ini bertujuan untuk melipatgandakan kapasitas produksi pencegat rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), guna merealisasikan kesepakatan kerangka kerja yang telah ditandatangani pada 29 Januari 2026.
Kesepakatan diterbitkan berupa tindakan kontrak yang belum ditentukan (undefinitized contract action), sebuah mekanisme yang memungkinkan pengerjaan dimulai sebelum persyaratan akhir dan harga disepakati.
Oleh karena itu, angka 35 miliar dolar AS ini merupakan batas atas (ceiling) dan masih dapat dimodifikasi, dikurangi, atau tidak didanai sepenuhnya, tergantung pada alokasi anggaran dari Kongres AS.
Implementasi Strategi Baru Pentagon
Lockheed Martin menjelaskan bahwa kontrak ini merupakan salah satu transisi skala penuh pertama dari kesepakatan kerangka kerja menuju eksekusi di bawah Strategi Transformasi Pengadaan milik Departemen Perang AS.
Pendekatan baru ini dirancang untuk memberikan sinyal permintaan jangka panjang kepada produsen dan pemasok, sehingga mereka dapat berinvestasi pada kapasitas produksi sebelum pesanan pasti datang.
“Kontrak ini menandai pergeseran transformasional ke pengadaan tahun jamak (multiyear procurement),” ujar Tim Cahill, Presiden Lockheed Martin Missiles and Fire Control.
Selain THAAD, Pentagon juga telah mencapai kesepakatan serupa sejak Januari 2026 untuk pencegat PAC-3 MSE dan Rudal Serang Presisi (Precision Strike Missile).
Pada April 2026, Angkatan Darat AS bahkan telah memberikan kontrak terpisah senilai 4,76 miliar dolar AS kepada Lockheed Martin untuk percepatan produksi PAC-3 MSE.
Untuk mendukung target ini, Lockheed Martin mengandalkan investasi perusahaan sebesar lebih dari 9 miliar dolar AS yang direncanakan hingga tahun 2030.
Perusahaan baru-baru ini telah membangun Pusat Produksi Amunisi di Troy (Alabama), membuka fasilitas Interseptor Generasi Baru di Courtland (Alabama), dan mendirikan Pusat Akselerasi Amunisi di Camden (Arkansas).
Dampak Lanjutan Operation Epic Fury
THAAD merupakan satu-satunya sistem milik AS yang mampu menghadapi target baik di dalam maupun di luar atmosfer bumi.
Kebutuhan mendesak untuk melipatgandakan produksi ini dipicu oleh penggunaan interseptor THAAD secara intensif dalam Operation Epic Fury —kampanye udara AS terhadap Iran yang dimulai sejak 28 Februari 2026. Konflik tersebut telah memberikan tekanan besar pada inventaris pencegat AS.
Tingginya permintaan ini juga menguras unit THAAD yang berada di lapangan. Kantor berita Korea Selatan, Yonhap, melaporkan bahwa keenam peluncur dari baterai AS di Seongju sempat dipindahkan ke Pangkalan Udara Osan pada Maret 2026 sebelum akhirnya kembali ke pangkalan.
Langkah ini sempat memicu spekulasi bahwa militer AS berencana mengirim sistem THAAD tersebut ke Timur Tengah, meskipun Panglima Pasukan AS di Korea (USFK), Jenderal Xavier Brunson, menegaskan bahwa sistem tersebut tetap berada di Korea Selatan.
Tekanan pasokan ini tidak hanya berdampak pada THAAD, tetapi juga pada stok rudal Patriot.
Lembaga Royal United Services Institute memperkirakan bahwa AS dan negara-negara Teluk telah menembakkan lebih dari 1.800 rudal Patriot hanya dalam 16 hari pertama operasi.
Akibatnya, para pembeli di wilayah Baltik dan Skandinavia, termasuk Lithuania, telah diperingatkan mengenai potensi keterlambatan pengiriman senjata yang telah mereka kontrak. (RNS)
