USAF berencana borong 130 tiang senjata baru untuk B-52H: Menuju operasional satu abad
Lockheed MartinAIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara AS (USAF) dilaporkan tengah menjajaki rencana jangka panjang untuk memodernisasi armada pengebom legendaris B-52H Stratofortress.
Langkah terbaru yang sedang dikaji adalah pengadaan hingga 130 unit komponen penopang senjata canggih di sayap pesawat atau yang disebut sebagai Advanced Wing Weapons Pylon (AWWP).
Proyek AWWP dirancang untuk menggantikan sistem penopang lama, yakni Improved Common Pylon (ICP).
Berdasarkan catatan militer, ICP yang saat ini masih digunakan pada sayap B-52H pertama kali didesain pada tahun 1959 dan mulai digunakan sejak era 1960-an.
Modernisasi Senjata Masa Depan
Penggantian dudukan senjata ini bukan sekadar peremajaan komponen usang, melainkan bagian dari strategi besar USAF untuk menyesuaikan kemampuan B-52H dengan lanskap pertempuran modern.
Struktur penopang baru yang lebih kokoh dan canggih sangat dibutuhkan agar pengebom ini mampu membawa persenjataan berat generasi terbaru, termasuk rudal jelajah hipersonik dan rudal jarak jauh (Long Range Standoff weapons).
Sebagai informasi, armada B-52H saat ini tengah menjalani rangkaian modernisasi paling masif dalam sejarahnya.
Selain pembaruan pada sistem radar dan kokpit digital, pesawat-pesawat ini juga sedang dalam proses pergantian mesin lama ke mesin F130 besutan Rolls-Royce.
Setelah seluruh proses modifikasi ini selesai, varian pesawat pengebom yang telah diperbarui tersebut akan diberi nama baru, yaitu B-52J.
Mengangku Muatan Tempur 32 Ton
Boeing B-52H Stratofortress merupakan varian terakhir dan satu-satunya versi dari keluarga legenda pengebom strategis B-52 yang masih aktif dioperasikan oleh USAF.
Memulai debut terbangnya pada era Perang Dingin, pesawat raksasa ini dirancang khusus untuk membawa senjata nuklir maupun konvensional dalam jangkauan global tanpa perlu sering mengisi bahan bakar di darat.
Ketangguhan struktur udara (airframe) serta kapasitas angkutnya yang luar biasa membuat pesawat berkode “BUFF” (Big Ugly Fat Fellow) ini tetap menjadi tulang punggung triad nuklir Amerika Serikat selama lebih dari enam dekade.
Dari segi performa teknis, varian B-52H ditenagai oleh delapan mesin turbofan Pratt & Whitney TF33 yang jauh lebih efisien dan senyap dibandingkan mesin turbojet pada varian-varian awal.
Desain sayap yang melengkung lebar memungkinkannya mengangkut beban muatan tempur hingga 32 ton (70.000 pon) di dalam ruang bom internal maupun gantungan bawah sayap.
Dengan kapasitas bahan bakar yang sangat besar, B-52H mampu menjelajah lebih dari 14.000 km tanpa mengisi bahan bakar di udara, memberikan kemampuan penetrasi strategis yang sangat disegani di berbagai palagan konflik global.
Menuju Operasional Satu Abad
Fleksibilitas dalam mengadopsi teknologi modern menjadi alasan utama mengapa B-52H tidak kunjung pensiun.
Meskipun sistem pertahanan ekor berupa senapan mesin putar 20 mm miliknya telah dicopot pada pertengahan 1990-an untuk efisiensi, aspek ofensifnya terus ditingkatkan melalui integrasi rudal jelajah canggih, bom pintar berpemandu GPS (JDAM), hingga persiapan sebagai platform peluncur rudal hipersonik.
Sistem avionik, radar, dan ruang kokpitnya juga terus dimodernisasi agar tetap mampu beroperasi secara mulus di lingkungan pertempuran modern yang berbasis jaringan (network-centric warfare).
Program peningkatan yang dilakukan oleh USAF adalah untuk meremajakan armada B-52H yang tersisa menjadi varian baru, B-52J.
Upgrade krusial ini mencakup penggantian delapan mesin lamanya dengan mesin Rolls-Royce F130 yang baru, modernisasi radar radar berbasis platform F/A-18E/F Super Hornet, serta perbaikan sistem digital secara menyeluruh.
Dengan rangkaian peningkatan masif ini, pesawat pengebom yang telah melewati berbagai generasi ini diproyeksikan akan terus mengudara hingga melampaui tahun 2050, mencatatkan sejarah unik sebagai pesawat militer pertama yang beroperasi aktif selama hampir satu abad. (RNS)
