Jerman perkenalkan Cobra 600: Inovasi radikal ‘Taksi Rudal’ jarak jauh penggendong IRIS-T

Taksi Rudal Cobra 600 buatan Diehl Defence Jerman dipamerkan di ILA Berlin 2026X/@GarethJennings3
Taksi Rudal Cobra 600 buatan Diehl Defence Jerman dipamerkan di ILA Berlin 2026.

AIRSPACE REVIEW – Produsen senjata terkemuka asal Jerman, Diehl Defence, bersama perusahaan rintisan kedirgantaraan Polaris Raumflugzeuge, memperkenalkan Cobra 600 di ajang ILA Berlin 2026 yang saat ini sedang berlangsung.

Ini adalah drone yang mampu membawa rudal udara ke udara jarak pendek IRIS-T untuk kemudian meluncurkannya dari posisi yang tepat ke sasaran, menjadikannya sebagai ‘Taksi Rudal’ jarak jauh.

Inovasi radikal dalam dunia pertahanan modern ini lahir untuk menjawab ancaman udara yang kini tidak hanya datang dari jet tempur canggih bernilai jutaan dolar, melainkan dari kawanan drone kamikaze murah dan rudal jelajah yang menguras logistik sistem pertahanan udara konvensional.

Dipamerkan untuk pertama kalinya di ILA Berlin (Berlin Air Show), Cobra 600 —yang juga dikenal sebagai Airborne Launching and Attack System (AirLAS)— dircancang untuk memperluas jangkauan payung pertahanan udara di darat.

Terbang Hingga Jarak 400 Km

Seperti dilaporkan TWZ, ide utama di balik pengembangan Cobra 600 adalah efisiensi jangkauan (range extension).

Selama ini, sistem pertahanan udara berbasis darat (GBAD) seperti IRIS-T SLS atau SLM memiliki keterbatasan jangkauan geografis.

Rudal IRIS-T yang diluncurkan dari darat pada sistem SLS, misalnya, hanya memiliki jangkauan sekitar 8 mil (13 km).

Sementara drone Cobra 600, yang bertindak sebagai peluncur bergerak, dapat membawa rudal IRIS-T terbang hingga sejauh 250 mil (sekitar 400 km) dari landasan pacunya.

Dengan membawa rudal langsung ke area konflik atau mendekati vektor target sebelum dilepaskan, Cobra 600 mengubah sistem pertahanan udara jarak pendek/menengah menjadi pencegat jarak jauh yang sangat ditakuti.

Dapat Digunakan Secara Berulang

Cobra 600 mengadopsi desain sayap delta (delta planform) yang dimodifikasi, mirip dengan konsep flying-wing (sayap terbang) dengan penstabil vertikal di ujung sayapnya.

Desain aerodinamis yang efisien ini dikembangkan secara khusus oleh Polaris Raumflugzeuge, yang memang memiliki rekam jejak dalam merancang pesawat ruang angkasa (spaceplane).

Untuk tenaga penggeraknya, model yang dipamerkan menggunakan dua mesin mikro-turbojet JetCat-P1000-PRO, yang masing-masing menghasilkan daya dorong maksimal 20 pon.

Namun, badan drone ini memiliki slot tambahan untuk menampung hingga empat mesin jet.

Desain purwarupa dengan empat mesin menunjukkan bahwa jet-jet mikro tersebut akan ditanam di dalam bodi (buried in the airframe) dengan saluran udara (intake) yang lebih panjang untuk meminimalkan deteksi radar atau sensor panas musuh.

Yang menarik lagi, berbeda dengan drone sekali pakai pada umumnya, Cobra 600 dilengkapi dengan roda pendaratan tiga titik (retractable wheeled tricycle landing gear) yang dapat dilipat.

Artinya, drone ini dirancang untuk lepas landas dan mendarat kembali di landasan pacu konvensional maupun darurat (seperti bentangan jalan raya) sehingga dapat digunakan kembali (reusable) dalam berbagai skenario operasional.

Terkoneksi dengan Sistem Darat

Cobra 600 tidak beroperasi secara mandiri. Drone ini tidak memiliki sensor radar internal yang besar. Sebagai gantinya, ia “ditambat” secara digital melalui datalink (dan opsi komunikasi satelit seperti Starlink untuk operasi di luar batas pandang) ke sistem radar pertahanan udara di darat.

Skenario pertempurannya dapat digambarkan sebagai berikut. Pertama, radar darat mendeteksi dan mengidentifikasi ancaman udara musuh.

Operator darat kemudian mengarahkan Cobra 600 menuju koordinat target tiga dimensi.

Dengan menggunakan kemampuan Lock-On-After-Launch (LOAL), rudal IRIS-T dapat ditembakkan bahkan sebelum mengunci target secara visual. Rudal mengandalkan panduan inersia di awal penerbangan.

Begitu mendekati target, pencari inframerah (imaging infrared seeker head) pada hidung rudal IRIS-T akan aktif, mengunci target secara mandiri, dan menghancurkannya.

Selain terintegrasi dengan sistem darat, Polaris menyatakan bahwa di masa depan, Cobra 600 juga dapat diintegrasikan dengan platform pesawat terbang maupun lingkungan maritim (kapal perang).

Pelajaran dari Perang Ukraina

Pengembangan Cobra 600 yang masif sejak dimulai tahun lalu tidak lepas dari pelajaran berharga dari perang di Ukraina. Baik Ukraina maupun Rusia saat ini terus memutar otak untuk menciptakan pertahanan udara berlapis yang efektif namun murah.

Rusia diketahui mulai memodifikasi drone Shahed-136 (Geran-2) miliknya dengan memasang rudal udara ke udara tua R-60 atau peluncur rudal panggul (MANPADS) Igla untuk menghalau helikopter pencegat Ukraina.

Namun, modifikasi Rusia tersebut dinilai kurang efektif karena keterbatasan kelincahan drone Shahed yang menggunakan mesin baling-baling biasa dan kesadaran situasional yang buruk.

Cobra 600 hadir sebagai versi yang jauh lebih superior, lebih besar, ditenagai jet, dan mengusung rudal mutakhir IRIS-T yang telah terbukti di medan perang (combat-proven) di Ukraina.

Solusi Ekonomis untuk Ancaman Modern

Meskipun kecepatan dan kelincahan drone Cobra 600 tidak bisa menandingi kecepatan jet tempur berawak atau rudal pertahanan udara jarak jauh khusus (seperti Patriot), platform ini menawarkan keuntungan ekonomi yang signifikan.

Biaya produksi drone ini jauh lebih murah dibandingkan memproduksi rudal permukaan ke udara jarak jauh yang sangat mahal.

Cobra 600 dapat melakukan patroli udara tempur (combat air patrols) di zona berbahaya, bertindak sebagai pos peluncur terdepan tanpa membahayakan nyawa pilot, dan siap mengeliminasi target-target seperti drone musuh maupun rudal jelajah.

Saat ini, Cobra 600 telah menyelesaikan uji terbang pertamanya dengan membawa replika rudal (dummy).

Proyek yang awalnya didanai secara mandiri oleh Diehl Defence ini kini dikabarkan telah menarik minat dan investasi dari beberapa negara yang ingin memperkuat sistem pertahanan udara masa depan mereka. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *