Uji RCS sukses: Boeing jadikan MQ-28 Ghost Bat sebagai ‘hantu digital’ pendamping E-7A Wedgetail

MQ-28 Ghost Bat dan E-7A WedgetailBoeing

AIRSPACE REVIEW – Teknologi siluman kini bukan lagi sekadar monopoli jet tempur berawak generasi kelima. Keberhasilan Boeing dalam memvalidasi performa siluman pada drone MQ-28 Ghost Bat melalui serangkaian uji Radar Cross Section (RCS), sukses mengubah pesawat tempur otonom ini menjadi ‘hantu digital’ sejati.

Di medan perang modern, UAV tersebut kini siap bertindak sebagai pelindung tak terlihat di samping pesawat komando E-7A Wedgetail.

Kunci utama mengapa Ghost Bat layak dijuluki ‘hantu digital’ terletak pada Penampang Lintas Radar atau disingkat RCS tadi yang sangat rendah.

RCS adalah ukuran objektif seberapa besar sebuah objek memantulkan gelombang elektromagnetik kembali ke antena radar musuh.

Semakin kecil nilai RCS, semakin sulit pesawat tersebut untuk dideteksi dan dikunci (lock-on) oleh sistem pertahanan udara lawan.

Untuk mencapai tingkat kesenyapan radar ini, Boeing melakukan pengujian RCS komprehensif di dalam kamar uji khusus (test chamber).

Perusahaan menjelaskan, pengujian dilakukan dari berbagai sudut geometris yang krusial bagi sebuah pesawat tempur.

Pengujian azimuth (hidung ke ekor), dilakukan guna memastikan bodi melancip dan sudut sayap MQ-28 mampu membelokkan gelombang radar horizontal menjauh dari antena pengirim.

Kemudian pengujian elevasi (pitch), yaitu uji pantulan radar saat pesawat mendongak atau menunduk, mengantisipasi radar musuh yang berada di darat maupun jet tempur lawan yang terbang lebih tinggi.

Selanjutnya adalah uji rotasi (roll) untuk menganalisis profil siluman pesawat ketika melakukan manuver miring yang ekstrem.

Keberhasilan uji RCS ini mengonfirmasi bahwa geometri desain, metode produksi, dan material pelapis khusus pada MQ-28 efektif meminimalkan deteksi radar.

Hasilnya, jarak deteksi radar musuh menyusut drastis, memberikan keunggulan taktis yang menentukan.

Pendamping E-7A Wedgetail

Dengan kemampuan silumannya, MQ-28 tidak ditugaskan bekerja sendirian, melainkan diselaraskan dengan konsep Manned-Unmanned Teaming (MUM-T).

Dalam skenario ini, MQ-28 bertindak sebagai kepanjangan tangan yang tak terlihat bagi pesawat radar raksasa berawak, E-7A Wedgetail, selain juga sebagai “Loyal Wingman” bagi jet tempur berawak.

Sebagai pesawat Airborne Early Warning and Control (AEW&C), E-7A memiliki radar superkuat yang berfungsi sebagai otak komando di udara.

Namun, karena ukurannya yang besar, Wedgetail memiliki RCS yang tinggi dan kerap menjadi target utama rudal jarak jauh musuh.

Di sinilah peran Ghost Bat sebagai ‘hantu digital’ masuk ke dalam formasi untuk melakukan misi-misi penting.

Misi tersebut antara lain adalah penyusupan tanpa terdeteksi. Berkat RCS-nya yang sangat rendah, MQ-28 dapat terbang jauh ke depan menembus wilayah udara yang diperebutkan (contested environment).

Penyusupan ini untuk memetakan kekuatan musuh tanpa memicu alarm pertahanan udara. Sementara itu di belakang, Wedgetail dapat tetap aman mengorbit di luar jangkauan tembak lawan.

Dengan perpaduan ini, juga memungkinkan integrasi data secara instan. Dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) tingkat lanjut, data target yang ditangkap oleh sensor MQ-28 langsung dikirim kembali ke E-7A Wedgetail lewat jaringan komunikasi data yang aman.

Dalam uji coba interoperabilitas udara yang dilakukan Boeing di Australia, sistem otonom cerdas ini tidak hanya berbagi data, tetapi juga berhasil mengoordinasikan taktik pertempuran.

MQ-28 yang dipasangkan dengan E-7A dan jet tempur F/A-18F Angkatan Udara Australia (RAAF) terbukti mampu mengeksekusi misi dan menembak jatuh target udara secara otonom.

Melalui keberhasilan uji RCS ini, Boeing tidak sekadar memproduksi drone tempur, melainkan telah berhasil membentuk MQ-28 Ghost Bat menjadi ‘hantu digital’ yang mematikan.

Pengembangan Sejak 2017

Sejak memulai pengembangannya pada tahun 2017 dan sukses melakukan penerbangan perdana di tahun 2021, program MQ-28 Ghost Bat terus menunjukkan kemajuan yang pesat.

Hingga saat ini, drone tempur otonom ini telah mencatatkan lebih dari 150 uji terbang serta berbagai demonstrasi misi penting dalam kondisi operasional harian yang intensif.

Salah satu pencapaian krusialnya adalah pembuktian kemampuan penyebaran taktis secara cepat ke lokasi-lokasi baru yang asing, termasuk uji coba penempatan di Pangkalan Udara RAAF Tindal serta penyelesaian tiga uji terbang operasional internasional pertamanya di Point Mugu, California, guna memvalidasi ketahanan operasi di wilayah sekutu.

Kombinasi MQ-28 Ghost Bat dengan E-7A Wedgetail menandai lompatan besar dalam doktrin pertempuran udara masa depan, di mana risiko terhadap nyawa pilot dapat ditekan seminimal mungkin tanpa mengurangi daya gempur pasukan. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *