Kurangi ketergantungan pada asing, Korea Selatan membangun sendiri mesin untuk jet tempur nirawak
Via X AIRSPACE REVIEW – Hanwha Aerospace daru Korea Selatan baru saja meluncurkan program bersama dengan Korea Aerospace Administration (KASA) guna mengembangkan mesin turbofan kelas 4.500 pon untuk pesawat nirawak buatan dalam negeri.
Rencana investasi total menelan biaya sekitar 500 juta USD di seluruh portofolio propulsi drone yang lebih luas, dengan target penyelesaian diharapkan pada tahun 2029.
Mesin ini dirancang khusus untuk Pesawat Tempur Kolaboratif (CCA) dan platform tak berawak lainnya, dan menjadi mesin pertama yang dikembangkan secara penuh di Korea Selatan, mengurangi ketergantungan pada produk asing.
Mesin tersebut adalah tipe turbofan high-bypass (THB) yang memprioritaskan efisiensi bahan bakar daripada daya dorong yang tinggi.
THB ini menghasilkan daya dorong yang lebih efisien pada kecepatan jelajah subsonik daripada desain jenis turbofan low-bypass (THB) yang dioptimalkan untuk penerbangan supersonik.
Untuk CCA yang beroperasi bersama jet tempur berawak pada kecepatan jelajah misi, efisiensi tersebut secara langsung berarti lebih banyak waktu di angkasa, jangkauan yang lebih jauh, dan biaya operasional lebih rendah. .
Selain untuk program CCA, mesin ini juga dapat diadaptasi untuk jet bisnis kecil dan pesawat komersial lainnya.
Dalam pengembangannya, Hanwha Aerospace akan menerapkan manufaktur aditif dan metode produksi canggih lainnya untuk mempersingkat siklus pengembangan dan mengurangi biaya.
Saat ini industri kedirgantaraan Korea Selatan secara aktif mengembangkan CCA sebagai pendamping pesawat tempur berawaknya, dengan mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI).
Korean Air Aerospace Division (KAL-ASD) tengah mengembangkan LOWUS (Low Observable Wingman UAV System), sebuah jet tempur pendamping (Loyal Wingman) yang dirancang bersama Badan Pengembangan Pertahanan (ADD).
Lalu Korea Aerospace Industries (KAI) juga tengah mengembangkan MUCCA (Multirole Utility and Collaborative Combat Aircraft) untuk beroperasi bersama dengan jet tempur FA-50 Fighting Eagle dan KF-21 Boramae yang juga diproduksi oleh KAI. (RBS)
