Eropa “tutup pintu”: Susul Spanyol, Italia larang pangkalan udaranya digunakan oleh AS untuk menyerang Iran

B-52H Stratofortress USAFUSAF

AIRSPACE REVIEW – Aliansi Barat kini berada di persimpangan jalan yang menegangkan. Setelah Spanyol, kini giliran Italia yang mengambil langkah tegas dengan melarang pangkalan udaranya digunakan oleh Amerika Serikat untuk misi menyerang Iran.

Langkah berani ini bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan sinyal kuat bahwa Eropa mulai enggan terseret ke dalam api konflik di Timur Tengah.

Ketegangan memuncak di Pangkalan Udara Sigonella di mana otoritas Italia mendapati pesawat militer AS mencoba menggunakan fasilitas tersebut tanpa izin resmi.

Alih-alih melakukan koordinasi matang, rencana penerbangan dilaporkan baru dikirim saat pesawat sudah berada di udara —sebuah pelanggaran protokol yang fatal.

Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto menandaskan misi tersebut di luar perjanjian bilateral, yang biasanya hanya untuk logistik dan misi NATO.

“Tolak! Italia tidak akan menjadi batu loncatan bagi serangan ofensif tanpa persetujuan eksplisit pemerintah,” tegasnya.

Penolakan Italia dan Spanyol menciptakan efek domino yang memusingkan bagi Pentagon di mana pesawat pengebom seperti B-52 Stratofortress yang berangkat dari Inggris kini harus memutar jauh melintasi Atlantik atau mengelilingi Afrika Utara.

Rute yang lebih panjang ini memaksa penggunaan armada tanker KC-135 dan KC-46 secara masif, meningkatkan biaya operasional dan risiko kelelahan kru.

Presiden AS Donald Trump tidak tinggal diam. Dengan retorika khasnya, ia mengkritik tajam para sekutu yang dianggap “setengah hati”.

Trump menegaskan bahwa negara-negara yang enggan membantu secara militer harus siap bertanggung jawab penuh atas keamanan energi mereka sendiri di tengah ancaman di Teluk.

Pengamat menilai, penolakan oleh Spanyol dan Italia mengungkap retakan nyata dalam aliansi Barat. Eropa tidak lagi sekadar menjadi “pengikut” setia kebijakan luar negeri Washington.

Dengan mengadopsi sikap yang lebih independen, Italia dan Spanyol secara langsung mengubah peta kekuatan dan strategi militer AS di kawasan tersebut dalam bulan-bulan mendatang. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *