Sinyal Damai dari Moskow, Putin Undang Zelensky Berunding Langsung: Perang Segera Berakhir?
AFP, NewsweekAIRSPACE REVIEW – Sebuah terobosan diplomasi berpotensi terjadi dalam konflik di Eropa Timur setelah Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin menyatakan kesiapannya untuk melakukan perundingan langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Moskow. Pihak Kremlin mengonfirmasi bahwa seluruh jaminan keamanan dan kondisi yang diperlukan akan disediakan secara penuh apabila pemimpin Ukraina tersebut bersedia datang ke ibu kota Rusia untuk bernegosiasi.
Tawaran tersebut mengemuka setelah Presiden Finlandia Alexander Stubb dan Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre menggelar pembicaraan telepon berdurasi 90 menit dengan Putin. Percakapan intensif ini diinisiasi oleh kedua pemimpin Nordik setelah melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan pihak Ukraina.
Tujuan utamanya adalah menyampaikan pesan langsung dari Kyiv serta membuka jalan bagi rencana perundingan trilateral mendatang yang melibatkan perwakilan Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat di Abu Dhabi.
Asisten Presiden Rusia, Yury Ushakov, membeberkan isi pembicaraan tersebut kepada media pemerintah TASS. “Pemimpin kami menegaskan kembali bahwa jika Zelensky benar-benar ingin mengadakan negosiasi langsung, dia harus datang ke Moskow, di mana semua kondisi yang diperlukan, termasuk yang berkaitan dengan keamanannya, akan disediakan untuknya,” ujar Ushakov.
Ia juga menambahkan bahwa diskusi berlangsung cukup mendalam. “Percakapan telepon itu, saya bisa katakan, sangat menyeluruh dan substansial,” tambahnya seperti diberitakan AOL hari ini.
Langkah diplomasi ini menjadi kontak langsung pertama yang diketahui antara para pemimpin negara Nordik tersebut dengan Putin sejak Rusia meluncurkan invasi berskala besar pada Februari 2022.
Mengingat Finlandia dan Norwegia berbatasan langsung dengan Rusia, Stubb menekankan pentingnya dialog ini bagi masa depan kawasan. “Kami adalah negara tetangga Rusia. Hasil dari perang ini akan berdampak langsung pada keamanan kami dan Eropa secara lebih luas. Mengakhiri perang membutuhkan diskusi langsung,” tegas dia.
Senada dengan Stubb, Støre juga memaparkan dampak fatal jika perang terus berlanjut tanpa ada upaya de-eskalasi. “Perang ini membawa biaya manusia dan material yang sangat besar. Penderitaan dan kehancuran yang terjadi akan berdampak hingga antargenerasi. Dalam panggilan telepon tersebut, kami menekankan pentingnya de-eskalasi,” kata Støre.
Kepentingan Rusia Secara Penuh
Meski terbuka terhadap ide negosiasi, pihak Kremlin menyampaikan kepada kedua pemimpin Nordik bahwa setiap kesepakatan damai yang langgeng harus memperhitungkan kepentingan Rusia secara penuh.
Sumber yang dekat dengan Kremlin mengindikasikan bahwa Rusia tidak akan berkompromi terhadap tujuannya untuk menguasai seluruh wilayah Donbas di Ukraina. Selain itu, Putin juga menuding kebijakan Uni Eropa dan NATO sebagai pihak yang memperpanjang durasi konflik.
Usai melakukan pembicaraan dengan Putin, Stubb dan Støre langsung menghubungi Presiden Volodymyr Zelensky untuk memberikan taklimat singkat mengenai hasil diskusi mereka. Merespons laporan tersebut, Zelensky menyerukan agar segera ada langkah-langkah nyata menuju de-eskalasi, terutama yang berkaitan dengan perlindungan sektor energi dan infrastruktur vital Ukraina.
Di sisi lain, inisiatif mandiri dari Finlandia dan Norwegia ini menuai reaksi dari internal Uni Eropa. Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, menyampaikan kritik terbuka terhadap aksi kedua pemimpin Nordik tersebut karena dianggap bergerak tanpa adanya koordinasi Eropa yang lebih luas.
Frederiksen menegaskan kembali pentingnya menjaga persatuan dan konsistensi di antara negara-negara Eropa dalam menyikapi konflik Rusia-Ukraina.
Hampir Lima Tahun Berlangsung
Perang Rusia-Ukraina pecah pada 24 Februari 2022 ditandai dengan penyerbuan oleh Moskow terhadap Ukraina di bawah komando Presiden Vladimir Putin dengan dalih “Operasi Militer Khusus”. Pada fase awal pertempuran, pasukan Rusia bergerak cepat menembus pertahanan Ukraina dari berbagai poros, termasuk upaya merebut ibu kota Kyiv, namun perlawanan gigih tentara Ukraina yang didukung persenjataan Barat berhasil memukul mundur pasukan Moskow dari wilayah utara pada musim semi 2022.
Konflik kemudian bergeser ke wilayah timur dan selatan, di mana pada September 2022 Rusia secara sepihak mengklaim aneksasi atas empat wilayah Ukraina, yaitu Donetsk, Luhansk, Zaporizhzhia, dan Kherson. Sepanjang akhir 2022 hingga 2023, Ukraina sempat meluncurkan serangan balasan besar-besaran yang merebut kembali kawasan Kharkiv dan Kherson, sebelum pertempuran berubah menjadi perang artikulasi dan parit yang relatif statis.
Memasuki tahun 2024 hingga 2026, peta konflik semakin kompleks akibat dinamika politik global dan perang ekshaustif yang menguras pasokan amunisi serta infrastruktur kedua negara. Rusia terus menekan sektor industri energi Ukraina lewat serangan rudal dan drone, sementara Ukraina melancarkan serangan balasan ke fasilitas logistik serta target militer di dalam wilayah Rusia.
Berbagai upaya perundingan, mulai dari forum Istanbul pada 2022 hingga pertemuan tingkat tinggi pasca-pergantian kepemimpinan AS di awal 2025, mengalami kebentuan akibat perbedaan mendasar terkait status wilayah yang diduduki dan jaminan keamanan masa depan Ukraina.
Setelah hampir lima tahun berlangsung, apakah dorongan terbaru dari pemimpin Nordik dan format dialog trilateral di Abu Dhabi ini akan menjadi fase diplomasi paling krusial bagi akhir perang yang sangat melelahkan dan menghancurkan beragam aset kedua negara ini? Semoga. (RNS)
