Prof. Jiang prediksi Rusia bakal menang mutlak dalam perang dengan Ukraina di tahun ini

Prof Jiang prediksi Rusia menang mutlak dalam perang dengan UkrainaIstimewa

AIRSPACE REVIEW – Perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung lebih dari empat tahun sejak 24 Februari 2022, sangat melelahkan bagi kedua belah pihak. Tahun 2026 ini akan menjadi titik akhir dari perang yang kompleks tersebut dengan kemenangan mutlak diraih oleh Rusia.

Prof. Jiang Xueqin yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan, melalui metodologi “Predictive History” dan “Game Theory” yang ia gunakan, mengatakan prediksi kemenangan Moskow atas Kyiv tersebut dalam video di akun YouTube-nya.

Berbeda dengan analis militer konvensional yang fokus pada jumlah tank atau amunisi, Jiang menitikberatkan pada ketahanan sistemik dan pola sejarah berulang.

Jiang berargumen bahwa dalam perang atrisi yang menimbulkan kelelahan, Rusia memiliki keunggulan logistik dan sumber daya yang sulit ditandingi Barat dalam jangka panjang.

Jiang memprediksi Odessa akan menjadi target akhir yang krusial dan menjadi penentu kemenangan Rusia. Begitu kota ini jatuh, Ukraina secara de facto kehilangan akses ke Laut Hitam dan kapasitas ekonominya sebagai negara berdaulat akan runtuh.

Odessa adalah gerbang utama ekspor gandum dan mineral Ukraina ke pasar global. Tanpa akses ke Laut Hitam, kapasitas ekonomi Ukraina untuk mendanai negara dan militer dalam jangka panjang akan runtuh total.

Inilah yang disebut Jiang sebagai “kemenangan nyata” tanpa harus menduduki seluruh wilayah.

Kemenangan Rusia bukan lagi soal merebut Kyiv, melainkan memutus “napas” ekonomi Ukraina tersebut.

Begitu Odessa, yang menjadi pelabuhan strategis tersebut jatuh ke tangan Rusia, maka Ukraina secara otomatis menjadi negara yang terkunci daratan (landlocked) dan kehilangan kapasitasnya untuk bertahan sebagai negara yang berfungsi.

Dengan Odessa di tangan Rusia, Laut Hitam akan menjadi “danau Rusia”. Hal ini sekaligus akan melumpuhkan pengaruh NATO di wilayah perairan tersebut.

Rusia, kata Jiang, memilih bertempur dengan cara yang lambat untuk meminimalkan kerugian sendiri. Sementara bantuan teknologi dan finansial dari NATO dianggap tidak cukup untuk menggantikan kebutuhan pasukan Ukraina di lapangan.

Hal ini kemudian dikaitkan dengan kelelahan logistik NATO dan pergeseran fokus politik Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.

Rusia menggunakan taktik atrisi yang sangat lambat (Slow Burn) untuk meminimalkan korban di pihak mereka, sambil terus menguras sumber daya manusia dan material Ukraina.

Dengan strategi “Slow Burn” atau “Api dalam Sekam” ini, Rusia berhasil menguras cadangan alutsista NATO dan mental bertempur pasukan Ukraina.

Kemenangan nyata Rusia, tandas Jiang, diraih bukan melalui manuver Blitzkrieg (serangan kilat), melainkan melalui strategi melumpuhkan di saat biaya perang bagi Barat tidak lagi masuk akal secara politik dan ekonomi.

Rusia membiarkan konflik terus membara untuk menguras logistik Barat hingga titik nadir di tahun 2026 ini.

Dalam kuliah di saluran YouTube-nya tersebut, Prof. Jiang mengaitkan berakhirnya Perang Rusia-Ukraina ini dengan ketegangan di Timur Tengah.

Ia berargumen bahwa konflik AS-Iran, yang ia bandingkan dengan Ekspedisi Sisilia yang gagal bagi Athena, akan memaksa AS menarik sumber daya dari Ukraina.

Kemenangan Rusia akan terlihat nyata saat Ukraina dipaksa ke meja perundingan dengan posisi tawar yang sangat lemah, ujar Jiang.

Perundingan akan terjadi setelah dukungan militer AS benar-benar terpecah akibat eskalasi di Iran dan Timur Tengah.

Bagi Jiang, statistik kerugian material tidak relevan selama struktur kekuasaan di Moskow tetap solid dan Barat kehilangan kemauan politiknya.

Dalam kuliahnya yang bertajuk Why America Starts Losing Control in 2026″ dan wawancara dengan Prof. Glenn Diesen, Jiang menyatakan bahwa per April 2026 nanti dinamika perang di Ukraina akan dianggap “stabilized” atau sudah diputuskan (settled).

Ia memprediksi bulan April 2026 tersebut, saat kunjungan Trump ke China, sebagai momentum penting yang akan memperjelas arah kompromi besar (Grand Bargain) yang melibatkan Rusia, China, dan AS.

Lalu, benarkah prediksi Prof. Jiang ini? Yuk, mari kita nantikan saja. Sebentar lagi kan…. (RNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *