AIRSPACE REVIEW – Nama “Profesor Jiang (Jiang Xueqin)” viral setelah dua dari tiga prediksinya di tahun 2024 sudah terbukti benar. Publik kini menantikan “ramalannya” yang satu lagi bahwa Amerika Serikat akan kalah dalam perang melawan Iran.
Dua ramalan pertama yang sudah terbukti benar adalah bahwa: Pertama, Donald Trump akan kembali menjadi Presiden AS (sudah terbukti). Kedua, AS akan menyerang Iran, dan terbukti dengan digelarnya Operation Epic Fury atas perintah langsung Presiden Donald Trump, yang dimulai pada 28 Februari 2026.
Prediksi yang ketiga, bahwa AS akan kalah dalam perang melawan Iran, saat ini perang AS-Israel vs Iran masih berlangsung, dengan indikasi terbaru menunjukkan bila Trump berniat akan segera menyudahi perang skala besar ini.
Melalui kanal YouTube-nya, Predictive History, Jiang menjabarkan mengapa AS akan kalah dari Iran.
Ia berargumen bahwa AS saat ini memang sedang memenangkan pertempuran awal, seperti serangan udara dan penghancuran infrastruktur Iran.
Namun, kata dia, seiring dengan itu AS sedang mengalami kekalahan dalam perang atrisi yang menimbulkan kelelahan jangka panjang.
Ia mengibaratkan serangan AS ke iran ini seperti Sicilian Expedition Athena kuno, yakni sebuah petualangan militer yang tampak hebat di awal tetapi akhirnya menghancurkan kekaisaran itu sendiri.
Poin kedua, Prof. Jiang menyoroti soal militer AS yang “salah desain”. Ia mengatakan bahwa militer AS sejatinya didesain untuk “Perang Dingin” yang melibatkan teknologi mahal, canggih, dan kompleks.
Sementara Iran menggunakan drone murah, seperti keluarga Shahed, dan rudal balistik yang diproduksi massal.
Secara hitungan matematis, AS harus menghabiskan rudal pertahanan seharga jutaan dolar untuk menjatuhkan drone seharga ribuan dolar.
Prof. Jiang menyebut hal itu sebagai “kebangkrutan logistik” karena AS akan kehabisan stok amunisi jauh lebih cepat daripada Iran.
Lalu yang tidak kalah penting, Prof. Jiang menyoroti “kekonyoloan besar” jika AS memutuskan untuk mengirim pasukan darat ke pegunungan Iran.
Medan geografis Iran yang ekstrem dan jalur suplai yang sangat panjang, jelas dia, akan membuat tentara AS terjebak dalam perang gerilya yang tidak bisa mereka menangkan, mirip dengan pengalaman di Afghanistan tetapi dalam skala yang jauh lebih mematikan.
Jiang menyoroti faktor geografi sebagai benteng sekaligus senjata Iran yang sutlit ditaklukkan pasukan AS.
Jika AS melakukan invasi darat, tandasnya, mereka akan masuk ke “kotak pembantaian”.
Jika AS hanya melakukan serangan udara, mereka tidak bisa menghentikan peluncuran rudal dari dalam bunker-bunker di bawah gunung. Hasilnya: AS terjebak dalam perang tanpa akhir dan tanpa ada “pintu keluar” yang jelas (No Exit Strategy).
Walau sering disebut sebagai “Nostradamus dari China” karena prediksi-prediksinya yang dianggap sangat akurat mengenai peta politik dunia tahun 2025–2026, sejatinya Jiang menggunakan analisis pola berulang dalam sejarah peradaban, terutama membandingkan AS dengan Athena kuno.
Ia menghitung langkah-langkah strategis antarnegara sebagai sebuah permainan logika, yang kemudian ia tuangkan melalui analisis data statistik dan perilaku massa dalam skala besar.
Atas semua prediksinya ini, memang tidak semua orang lantas percaya kepada “ramalannya” tersebut.
Kelompok analis Barat, nisalnya, menganggap argumennya Jiang terlalu menyederhanakan kekuatan militer AS yang begitu masif dan terlalu berpihak pada efektivitas proksi Iran.
Sebagian kritikus, seperti dari The Free Press, bahkan menyebut Jiang sering memasukkan unsur teori konspirasi global dalam penjelasannya mengenai sejarah rahasia dan tatanan dunia baru.
Siapakah Jiang?
Jiang Xueqin, lahir di Guangdong, China pada tahun 1976, namun ia berkebangsaan Kanada, karena sejak kecil ia dibawa keluarganya bermigrasi ke Toronto.
Tahun 1999, Jiang lulus dengan gelar sarjana di bidang Sastra Inggris.dari universitas bergengsi di AS, Yale University.
Ia kemudian menghabiskan banyak waktunya sebagai pendidik di China, dan menjabat posisi senior seperti Wakil Kepala Sekolah di Shenzhen Middle School dan Direktur Divisi Internasional di Peking University High School.
Jiang pernah menjadi editor pendidikan untuk The New York Times edisi bahasa Mandarin dan menulis untuk media global seperti The Wall Street Journal serta The Chronicle of Higher Education.
Sejak tahun 2022 hingga sekarang (2026), Prof. Jiang Xueqin tercatat mengajar di Moonshot Academy. Sekolah ini merupakan institusi pendidikan inovatif di Beijing yang berfokus pada kurikulum masa depan.
Di sana, ia mengajar mata pelajaran Sejarah dan Filsafat, yang menjadi fondasi utama bagi metode Predictive History miliknya.
Selain mengajar di akademi tersebut, Jiang lebih banyak dikenal melalui peran-peran sebagai kreator “Predictive History. Ia mengelola kanal YouTube-nya sendiri sebagai platform utama untuk membagikan riset geopolitik dan sejarah struktural.
Karena prediksi geopolitiknya yang viral, terutama mengenai konflik AS-Iran dalam Operation Epic Fury, ia sering diundang sebagai pakar di berbagai kanal berita independen seperti Breaking Points dan Dialogue Works.
Penting untuk dicatat bahwa gelar “Profesor” yang melekat pada Jiang Xueqin lebih merupakan sapaan kehormatan atau gelar fungsional sebagai pendidik senior, bukan gelar akademik profesor tetap (tenured professor) dari universitas tertentu.
Meskipun gelar resmi yang ia miliki adalah B.A. (Bachelor of Arts) dalam bidang Sastra Inggris dari Yale University, dan tidak memiliki gelar Ph.D., kedalaman analisisnya dalam bidang sejarah dan filsafat sering kali membuat audiens global dan media menyapanya sebagai “Profesor”.
Dalam setiap analisisnya, Jiang menggunakan pendekatan Game Theory dan Structural History yang biasanya diajarkan di tingkat pascasarjana.
Media internasional seperti NDTV, Hindustan Times, dan kanal Breaking Points sering menyematkan gelar tersebut saat mewawancarainya sebagai pakar strategi.
Sebelum di Moonshot Academy, Jiang memiliki riwayat posisi senior di institusi pendidikan elit di Tiongkok, seperti di Shenzhen Middle School sebagai salah satu tokoh kunci dalam reformasi pendidikan internasional di sana.
Lalu ia pernah menjabat sebagai Program Director di Divisi Internasional SMA yang berafiliasi dengan Peking University (PKU).
Ia juga pernah menduduki posisi pimpinan (Deputy Principal) di sekolah yang berafiliasi dengan Tsinghua. (RNS)


Gak salah juga. Kalau target AS menginvasi Iran ya bonyok, kecuali AS punya naggaran perang gak berseri dan negara otoriter seperti Russia, China atau Iran ynag ranyatnya gak bileh protes terkait penggunaan uang pajak. Tapi kenyataannya kan gak begitu. Vietnam, Irak dan Afghanistan jadi bukti bahwa AS sering dikalahkan oleh warganya sendiri terkait jumlah tentara yang tweas dan penggunaan anggaran perang ynag berlebihan.