Dalam 10 hari Operasi Epic Fury, AS berhasil menenggelamkan 50 kapal Iran dan menghancurkan 5.000 target serangan lainnya

AS kerahkan pengebom B-1B dalam menyerang IranUSAF

AIRSPACE REVIEW – Komando Pusat/Tengah AS (CENTCOM) pada 10 Maret 2026 melaporkan pasukan AS telah menghancurkan 5.000 target di Iran dalam 10 hari pertama Operasi Epic Fury, yang digelar sejak 28 Februari.

Di antara target yang dihancurkan, termasuk 50 kapal Angkatan Laut Iran/Komando Garda Revolusi, termasuk kapal induk drone Shahid Bagheri dan korvet rudal Shahid Soleimani.

CENTCOM menegaskan, pasukan AS memokuskan serangan pada lokasi yang menimbulkan ancaman langsung, termasuk pusat komando dan kendali, gedung markas besar Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), situs intelijen IRGC, lokasi rudal balistik, dan instalasi rudal anti-kapal, di antara lainnya.

Ironisnya, media melaporkan serangan AS juga mengenai gedung sekolah yang menyebabkan lebih 160 siswi meninggal dunia.

CENTCOM memaparkan, lebih dari 30 jenis aset militer AS mendukung operasi yang sedang berlangsung. Aset-aset ini terdiri dari pesawat pembom strategis, jet tempur, pesawat serang, drone, sistem pertahanan rudal, unit angkatan laut, dan alat pengawasan, ditambah dengan pesawat pengisian bahan bakar dan kargo serta teknologi komunikasi dan antidrone khusus.

Untuk pertama kali, Satuan Tugas Scorpion Strike (TFSS) melakukan penggunaan tempur pertama dari drone Sistem Serangan Tempur Tak Berawak Berbiaya Rendah (LUCAS) dalam operasi militer besar-besaran ini.

Wakil Menteri Kesehatan Iran, Ali Jafarian, melaporkan bahwa serangan udara oleh pasukan AS dan Israel telah mengakibatkan kematian dan cedera warga sipil di seluruh Iran dan menyebabkan asap beracun dari pemboman fasilitas minyak menyebar ke Teheran.

Berbicara kepada Al Jazeera, Jafarian mengatakan setidaknya 1.255 orang telah tewas di seluruh negeri, termasuk 200 anak-anak dan 11 petugas kesehatan.

Sementara itu, militer AS melaporkan satu lagi anggota militernya tewas dalam pertempuran selama operasi ini, sehingga total korban tewas dalam pertempuran menjadi tujuh orang.

Menteri Perang AS, Pete Hegseth, dalam rogram 60 Minutes CBS, menyatakan akan ada lebih banyak korban di militer AS akibat perang pemerintahan Trump di Iran setelah para pejabat mengkonfirmasi jumlah korban tewas telah mencapai tujuh orang.

Pekan lalu, NATO meningkatkan postur pertahanan rudal balistik di seluruh aliansi setelah mencegat rudal yang diidentifikasi diluncurkan dari Iran menuju Turkiye.

Negara-negara Teluk juga meminta sistem pertahanan udara dan anti-drone canggih dari Italia, di tengah meningkatnya konflik regional yang melibatkan Iran, Israel, dan AS.

Terlepas dari semua laporan CENTCOM mengenai keberhasilan pasukan AS dalam Operation Epic Fury, banyak pengamat militer menganalisis bahwa justru AS yang akan kalah dalam perang dengan Iran ini.

AS yang berkoalisi dengan Israel, gagal memprediksi stok rudal dan drone kamikaze Iran yang ternyata jumlahnya lebih banyak daripada yang diperkirakan.

Bertempur di area yang ribuan mil jauhnya dari AS, serta pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah yang berhasil dihancurkan Iran, menjadi penyebab Amerika kedodoran dalam hal logistik dan biaya perang yang sangat mahal.

Pemerintahan Trump kini mulai menghadapi protes dari warga negaranya yang justru tidak menginginkan perang ini terjadi. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *