Kandas di FCAS, Airbus Kini Incar Proyek GCAP BAE Systems, Pengamat: Awas Bentrok Kepentingan Berulang!
EdgewingAIRSPACE REVIEW – Perusahaan dirgantara asal Eropa, Airbus, dijadwalkan akan segera memulai pembicaraan dengan BAE Systems asal Inggris guna membahas potensi keterlibatan Airbus dalam program jet tempur masa depan, Global Combat Air Programme (GCAP).
Berdasarkan laporan dari Financial Times, diskusi intensif antara kedua raksasa dirgantara ini akan berlangsung dalam beberapa minggu ke depan untuk mengeksplorasi berbagai opsi kolaborasi strategis.
Program jet tempur GCAP saat ini dipimpin secara bersama-sama oleh Inggris, Italia, dan Jepang. Namun, proyek ini berpeluang besar menyambut Jerman sebagai anggota baru. Langkah ini mencuat setelah proyek jet tempur gabungan Jerman dan Prancis sebelumnya dilaporkan terhenti awal tahun ini.
Sumber-sumber industri menyebutkan bahwa selain jet tempur berawak utama, pengembangan pesawat nirawak otonom (Collaborative Combat Aircraft/CCA) juga akan menjadi salah satu fokus utama dalam meja perundingan.
GCAP sendiri saat ini melibatkan sejumlah perusahaan pertahanan terkemuka dunia, seperti BAE Systems, Leonardo, Mitsubishi Heavy Industries, Rolls-Royce, MBDA, dan Avio Aero.
Keinginan Peran Krusial
CEO Airbus Defence and Space, Mike Schoellhorn, dalam wawancaranya dengan Handelsblatt bulan ini menegaskan bahwa jika terlibat, Airbus menginginkan peran yang krusial dalam proyek tersebut, dan tidak hanya sekadar memproduksi komponen pendukung kecil seperti sirip atau sayap.
Kendati demikian, beberapa kalangan pengamat industri mengingatkan bahwa keikutsertaan Berlin berisiko menimbulkan gejolak jika mendesak peran desain yang terlalu dominan, sehingga kerja sama ini perlu dikelola secara sangat hati-hati agar bentrok kepentingan tidak terjadi seperti halnya yang mengandaskan proyek FCAS.
Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris Andy Burnham telah menyatakan keterbukaan negaranya terhadap bergabungnya Jerman ke dalam konsorsium GCAP. Hal tersebut disampaikannya pada 8 Oktober 2026 lalu dalam konferensi pers bersama Kanselir Jerman Friedrich Merz, di mana PM Burnham berencana membawa gagasan ini untuk dibahas lebih lanjut bersama Italia dan Jepang.
Selain bergabung dengan GCAP, alternatif lain bagi Jerman dan Airbus adalah menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan asal Swedia, Saab, produsen jet tempur Gripen.
Latar Belakang Pecahnya Kongsi FCAS
Keretakan proyek pesawat tempur masa depan Eropa (Future Combat Air System / FCAS) sebelumnya dipicu oleh perselisihan sengit antara Airbus (mewakili kepentingan Jerman dan Spanyol) dengan pabrikan asal Prancis, Dassault Aviation.
Konflik berkepanjangan berpusat pada hak kekayaan intelektual, pembagian porsi pengerjaan (workshare), hingga perebutan posisi kepemimpinan teknis (lead contractor) dalam merancang jet generasi ke-6 tersebut. Dassault menuntut kendali penuh atas desain utama, sementara Airbus menolak untuk sekadar menjadi mitra junior yang terpinggirkan.
Selain konflik industri, perbedaan kebutuhan militer strategis antara Berlin dan Paris turut menjadi jurang pemisah yang tidak bisa dijembatani. Prancis membutuhkan jet tempur yang mampu beroperasi dari kapal induk dan mengangkut senjata nuklir, sedangkan Jerman menginginkan platform superioritas udara konvensional berjangkauan jauh.
Kegagalan penyelarasan visi ini akhirnya mengakhiri kemitraan bernilai 100 miliar euro (sekitar Rp2.020 triliun) tersebut, yang memaksa Jerman dan Airbus berpaling mencari aliansi baru, salah satunya adalah melalui penjajakan proyek GCAP ini.
Berhasil tidaknya proyek GCAP dengan potensi masuknya Jerman ke dalam konsorsium, akan ditentukan oleh keterbukaan, kerja sama, dan kelapangan masing-masing pihak untuk menerima porsi yang telah dan akan disepakati berikutnya. (RNS)
