Uji Jaringan Komando Digital di Medan Ekstrem, US Army Gelar Latihan Nakoa Fleek

US Army melaksanakan latihan Nakoa Fleek 2026DVIDS
US Army melaksanakan latihan Nakoa Fleek 2026.

AIRSPACE REVIEW – Divisi Infanteri ke-25 Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army) menguji coba perangkat lunak komando dan kendali (command-and-control) terbaru dalam kondisi medan tempur yang realistis selama dua minggu di Hawaii.

Uji coba yang berlangsung pada 14-25 September 2026 di Schofield Barracks ini dikemas dalam latihan sertifikasi tingkat brigade bernama Latihan Nakoa Fleek.

Kegiatan ini sekaligus menjadi tahap kelima dari rangkaian eksperimen Lightning Surge untuk mendukung program Next Generation Command and Control (NGC2) US Army.

Tujuan dari latihan ini adalah menyajikan gambaran digital medan tempur secara waktu nyata kepada para komandan melalui integrasi data antarsatuan.

Tiga Fase

Latihan Nakoa Fleek dibagi ke dalam tiga fase utama untuk menguji keandalan teknologi di lingkungan hutan tropis Hawaii.

Pada fase pertama tanggal 14–17 September, para prajurit bersama perwakilan industri menghubungkan radio, sensor, dan pos komando baru di lapangan.

Fase kedua pada 18–21 September menempatkan Brigade Mobil ke-2 (Warrior Brigade) dalam skenario pertempuran bertahan serta manuver melawan pasukan musuh simulasi.

Fase terakhir pada 22–25 September difokuskan pada evaluasi, yang juga diwarnai aksi serangan udara (air assault) oleh Batalion ke-1 Resimen Infanteri ke-27 dan Batalion ke-1 Resimen Infanteri ke-35 untuk menguji koordinasi operasi yang kompleks.

Guna memastikan efektivitas jaringan data di medan ekstrem, para insinyur data divisi berfokus mendorong alir data dari server awan (cloud) hingga ke unit-unit terkecil, bahkan saat koneksi terputus.

Kepala Insinyur Data Divisi, Mayor Rebecca Borrebach, menegaskan bahwa sasaran utamanya adalah menyampaikan data yang tepat kepada pemimpin yang tepat di waktu yang tepat.

Sementara itu, Perwira Inovasi Divisi, Mayor Jay Trexler, menggarisbawahi bahwa evaluasi terpenting dari lapangan menunjukkan bahwa alat tempur digital baru dianggap efektif hanya jika prajurit dapat mengoperasikannya secara cepat dan mudah di bawah tekanan pertempuran. (RW)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *