Sanggup Beroperasi di Darat dan Udara, US Army Evaluasi Buggy Terbang SkyRunner
SkyRunnerAIRSPACE REVIEW – Korps Lintas Udara XVIII Angkatan Darat AS (US Army) mengevaluasi kendaraan terbang multiperan yang disebut SkyRunner dalam Scarlet Dragon 26-3, sebuah latihan eksperimen yang diadakan di Fort Bragg, Carolina Utara.
Pada evaluasi yang dilaksanakan pada 16 September 2026 ini, para prajurit menguji kemampuan kendaraan tersebut untuk beralih antara mengemudi di darat dan terbang di Holland Drop Zone.
Untuk dapat mengendalikan SkyRunner, dilaporkan setiap pilot baru membutuhkan sekitar 14 jam instruksi penerbangan sebelum menerbangkan kendaraan tersebut sendirian.
Dibekali Dua Mesin Berbeda
SkyRunner menggabungkan sasis kendaraan Buggy off-road dengan sayap parasut ram-air, memungkinkannya melaju di medan yang kasar dan kemudian lepas landas tanpa landasan pacu.
Buggy terbang ini menggunakan dua mesin terpisah, mesin Polaris Prostar 1000 cc untuk penggerak di darat dan mesin Rotax 914 UL untuk memutar baling-baling yang terpasang di belakang saat terbang.
Kendaraan ini membutuhkan sekitar jarak 137 m untuk lepas landas, di area terbuka. Di udara, wahana ini dapat terbang hingga ketinggian maksimum 3.048 m, dengan kecepatan 142 m/menit atau setara 8,5 km/jam.
Jangkauan terbang SkyRunner sekitar 193 km, sedangkan saat berkendara di darat, kendaraan dapat menempuh jarak hingga 386 km.
US Army sendiri belum mengungkapkan apakah mereka berencana untuk membeli SkyRunner atau menetapkan jadwal untuk pengujian lebih lanjut.
Meskipun diungkapkan bila Buggy terbang ini memiliki potensi untuk untuk digunakan dalam misi pengintaian, pengiriman pasokan, dan evakuasi korban di tempat tanpa jalan atau landasan pacu.
Buggy terbang ini diproduksi oleh perusahaan SkyRunner yang lokasi manufakturnya di Shreveport, Louisiana. Mereka menjual kendaraan dengan biaya 140.000 hingga 150.000 dollar AS per unitnya. (RBS)
