Tiga F-16 Bersejarah Pengawal Ibu Kota AS pada Tragedi 9/11 Dilestarikan Jadi Benda Museum
USAFAIRSPACE REVIEW – Tiga jet tempur F-16 Fighting Falcon yang pernah mengudara membela ibu kota Washington, D.C. saat serangan teror 11 September 2001 (9/11) dipastikan pensiun dan akan dilestarikan menjadi benda museum.
Ketiga pesawat tersebut diselamatkan dari nasib awal yang akan dijadikan sebagai target tembak uji coba rudal.
Biro Pengawal Nasional AS memutuskan ketiga jet legendaris tersebut akan dipreservasi menjadi koleksi museum bertepatan dengan peringatan 25 tahun tragedi fatal 11 September tersebut.
Pesawat dengan nomor ekor 85-1438 yang pernah diterbangkan Jenderal Dan Caine bakal ditempatkan di National Museum of the U.S. Air Force di Ohio.
Kemudian F-16 bernomor ekor 85-1461 yang diterbangkan Letjen (Purn) Marc Sasseville akan dipajang sebagai monumen statis di Joint Base Andrews.
Sementara unit ketiga dengan nomor ekor 86-0255 yang diterbangkan Heather Penney akan diserahkan ke American Heritage Museum di Massachusetts.
Perjuangan Panjang
Penyelamatan jet-jet tersebut membutuhkan perjuangan panjang setelah diketahui beberapa di antaranya sempat dikonversi menjadi drone target tembak QF-16 seharga 5 juta USD (sekitar Rp88 miliar) per unit.
Bahkan, salah satu pesawat yang terlibat pada hari naas tersebut sudah hancur dalam uji tembak rudal sebelum penyelamatan diupayakan.
Angkatan Udara AS akhirnya sepakat menghentikan sisa jam terbang operasional QF-16 tersisa agar dapat diserahkan ke museum.
Misi Bersejarah
Seperti diketahui, misi pada 11 September 2001 tercatat sebagai salah satu momen paling dramatis dalam sejarah penerbangan militer AS.
Saat serangan teror melanda, unit F-16 di Joint Base Andrews harus lepas landas terburu-buru tanpa amunisi perang yang siap.
Jenderal Dan Caine (Ketua Kepala Staf Gabungan AS atau Chairman of the Joint Chiefs of Staff/CJCS, saat itu masih berpangkat mayor) mengenang momen keputusannya saat melihat tayangan menara kembar hancur di televisi.
“Saat itu jelas sekali bahwa Amerika Serikat sedang dalam situasi perang,” kata dia, seperti diberitakan Air & Space Forces Magazine.
Tanpa amunisi rudal maupun peluru tajam pada meriam internalnya, para pilot saat itu menyusun rencana darurat ekstrem.
Letjen (Purn) Marc Sasseville (mantan Wakil Kepala Biro Pengawal Nasional AS, saat itu masih berpangkat mayor) membeberkan instruksi berani yang ia berikan kepada Penney sebelum memasuki kokpit, yaitu menabrakkan jet mereka (ramming) ke pesawat komersial pembajak demi melindungi Washington, D.C.
“Tidak ada seorang pun yang mengajukan pertanyaan, semua orang bergerak atas dorongan adrenalin,” kenang Sasseville.
Heather Penney, yang saat itu merupakan perempuan pilot muda berpangkat letnan satu, mengingat kembali situasi mencekam saat menelusuri Sungai Potomac untuk mencari pesawat pembajak.
“Satu-satunya pilihan kami saat itu adalah menabrakkan pesawat kami ke pesawat penumpang tersebut,” kata Penney.
Sasseville berencana mengarahkan jetnya ke bagian kokpit musuh, sementara Penney menargetkan bagian ekor.
Patroli Tempur Udara 90 Hari
Saat menyisir area penerbangan, pihak otoritas penerbangan FAA memerintahkan seluruh pesawat komersial mendarat.
Tak lama kemudian dipastikan bahwa pesawat United Airlines Flight 93 telah jatuh di Shanksville sebelum berhasil mencapai target serangan para teroris di ibu kota.
Sekembalinya ke Pangkalan Andrews, Penney melihat suasana pangkalan yang mendadak hidup, dipenuhi antrean kendaraan dan personel yang datang secara sukarela.
“Para personel Pengawal Nasional datang ke unit mereka tanpa perlu menunggu perintah atau dokumen resmi,” ujar Penney.
Mereka langsung menyiapkan pesawat, memasang tempat tidur darurat di area operasi, hingga menyediakan logistik makanan.
Para prajurit Pengawal Nasional tersebut langsung menjalankan patroli tempur udara di atas Washington selama 90 hari nonstop.
Kebanyakan dari mereka bergerak atas kesadaran pribadi tanpa menunggu panggilan tugas resmi.
“Mereka hanya bilang ke atasan di tempat kerja mereka, ‘Negaraku memanggil,’ dan mereka langsung berangkat,” tutur Penney.
Jet-jet F-16 ini kini diabadikan sebagai simbol pengabdian dan kewaspadaan tertinggi militer AS. (RW)
