Mantan Menhan Ukraina Lobi AS: Tawarkan Teknologi Drone Demi Amunisi Patriot
US Army, IstimewaAIRSPACE REVIEW – Mantan Menteri Pertahanan (Menhan) Ukraina, Mykhailo Fedorov, menawarkan ide pertukaran teknologi kepada pemerintah Amerika Serikat.
Melalui skema ini, Ukraina siap membantu AS membangun armada pesawat nirawak (drone) tempur berbasis pengalaman perang nyata, dengan imbalan pasokan amunisi pencegat rudal Patriot untuk memperkuat pertahanan udara Ukraina menjelang musim dingin.
“Saya siap melakukan pertukaran tersebut,” tegas Fedorov terkait kesediaannya membantu Washington membangun armada drone demi pasokan Patriot dikutip The Kyiv Independent.
Tawaran tersebut disampaikan Fedorov saat melakukan kunjungan independen ke Washington pada 30 Agustus 2026. Kedatangannya ke AS dilakukan setelah ia dicopot dari jabatannya oleh Presiden Volodymyr Zelensky pada Juli lalu.
Pengaruh dan Jaringan Global
Meski tidak lagi menjabat di pemerintahan, Fedorov memanfaatkan pengaruh dan jaringannya untuk menggalang dana dari investor swasta, modal ventura, dan perusahaan teknologi AS.
Dana tersebut rencananya akan dikucurkan ke industri startup pertahanan swasta di Ukraina guna mengembangkan teknologi medan perang, seperti robotika, drone pencegat berkecepatan tinggi, dan rudal murah berbasis kecerdasan buatan.
“Ini bukan sekadar dana ventura klasik. Kami sedang menulis sejarah baru perang,” ungkap Fedorov mengenai inisiatif dana teknologi pertahanannya.
Inisiatif Jalur Swasta
Langkah Fedorov murni merupakan inisiatif jalur swasta untuk membantu krisis amunisi Patriot yang tengah dialami militer Ukraina akibat lonjakan serangan rudal dan drone Rusia.
Ia menekankan urgensi pasokan alutsista canggih tersebut bagi Ukraina. “Kami membutuhkan lebih banyak drone jet, kami membutuhkan rudal murah, kami membutuhkan rudal dengan kecerdasan buatan,” ujar Fedorov.
“Anda tidak bisa melakukan dialog jenis apa pun dengan Putin dengan cara lain. Dia hanya memahami kekuatan,” tambahnya.
Jika lobi teknologi ini berhasil meyakinkan Washington, pasokan amunisi Patriot tersebut nantinya tetap akan diserahkan langsung kepada Pemerintah dan Angkatan Bersenjata Ukraina melalui mekanisme resmi antar-negara.
Bukan Melawan Zelensky
Selain ke AS, Fedorov sebelumnya menyambangi Italia dan menerima tawaran menjadi penasihat independen tak berbayar bagi Menteri Pertahanan Italia, Guido Crosetto.
Di sisi lain, manuver politik Fedorov di luar negeri dan usulannya terkait pemilu masa perang sempat memicu dinamika politik di dalam negeri.
Info Lainnya: Zelensky minta AS izinkan produksi rudal Patriot di negaranya: 65 unit rudal/bulan tidak cukup
Namun, ia mengklarifikasi bahwa dorongan tersebut bukan bentuk perlawanan terhadap kepemimpinan yang ada.
“Ini bukan melawan Zelensky, ini bukan melawan seseorang secara spesifik. Ini tentang fakta bahwa kita perlu memperbarui sistem operasi negara,” kata Fedorov menjelaskan alasannya menyerukan pemilu masa perang.
Jalin Komunikasi dengan Elon Musk
Terkait keterlibatannya dengan tokoh-tokoh kunci, Fedorov mengaku masih menjalin komunikasi erat dengan CEO SpaceX, Elon Musk.
Meskipun ia enggan membeberkan apakah ada agenda pertemuan khusus di AS, hubungan ini tergolong krusial mengingat Ukraina sangat bergantung pada jaringan satelit Starlink untuk koordinasi militer serta operasional drone di garis depan.
Di samping penggalangan dana, Fedorov juga mempertimbangkan tawaran sebagai penasihat teknologi perang modern bagi beberapa negara mitra NATO lainnya, termasuk Prancis.
Pengamat menilai, manuver gerak cepat Fedorov menegaskan ambisinya untuk tetap menjadi aktor utama dalam peta industri pertahanan global, sekaligus memastikan alur inovasi teknologi militer Ukraina terus mendapat dukungan dana dan infrastruktur dari negara-negara Barat. (PN)
