Indonesia Masuk Daftar Penerima FMS Pentagon untuk Akuisisi Jet Tempur F-15
BoeingAIRSPACE REVIEW – Indonesia resmi masuk dalam daftar negara penerima manfaat skema Penjualan Militer Luar Negeri (Foreign Military Sales/FMS) dari Departemen Perang Amerika Serikat (Pentagon).
Kesepakatan ini menjadi bagian dari pengumuman kontrak raksasa senilai 131,23 miliar USD (sekitar Rp2.099 triliun, asumsi kurs Rp16.000/USD) yang diberikan kepada produsen dirgantara The Boeing Co. untuk program jet tempur F-15.
Dalam rilis resmi Pentagon pada 24 Agustus 2026, kontrak bernilai jumbo dengan skema Indefinite-Delivery/Indefinite-Quantity (IDIQ) ini dicatatkan di bawah program “F-15 Eagle Crest”.
Program tersebut mendukung pengadaan, modernisasi, dan pemeliharaan armada F-15 modern —termasuk varian F-15EX yang diincar Indonesia— guna memperkuat kesiapan tempur Angkatan Udara AS (USAF), Angkatan Udara Garda Nasional, serta negara-negara mitra AS.
Selain Indonesia, beberapa negara lain yang terdaftar dalam penerima skema FMS untuk proyek F-15 ini antara lain Jepang, Israel, Arab Saudi, Korea Selatan, Singapura, dan Polandia. Kesepakatan ini didapatkan Boeing melalui skema pengadaan sumber tunggal (sole-source acquisition).
— Dalam pandangan Airspace Review, dimasukkannya nama negara-negara yang telah mendapatkan persetujuan lisensi FMS (seperti yang diajukan DSCA sebelumnya) ke dalam satu wadah kontrak induk (umbrella contract) Boeing, agar jika sewaktu-waktu pemesanan resmi dieksekusi, payung hukum dan mekanisme anggarannya sudah tersedia.–
Target Penyelesaian Tahun 2037
Lingkup pengerjaan dalam kontrak ini sangat luas, mencakup produksi pesawat baru, integrasi sistem, modernisasi, pembaruan (upgrade), pemeliharaan berkelanjutan (sustainment), hingga pembentukan kemampuan pemeliharaan depot mandiri.
Seluruh proses pengerjaan dipusatkan di fasilitas Boeing di St. Louis, Missouri, dengan target penyelesaian hingga Agustus 2037.
Periode pemesanan awal dijadwalkan berakhir pada 24 Agustus 2031 dan memiliki opsi perpanjangan hingga 24 Agustus 2036.
Sebagai tahap awal pengikatan kontrak, dana riset, pengembangan, pengujian, dan evaluasi tahun anggaran 2026 sebesar USD 343.740 USD (sekitar Rp5,5 miliar) telah dialokasikan di bawah pengawasan Air Force Life Cycle Management Center, Pangkalan Angkatan Udara Wright-Patterson, Ohio.
Boeing Telah Menghentikan Kampenye F-15EX ke Indonesia
Kendati nama Indonesia secara resmi tercantum dalam pengumuman kontrak FMS Departemen Perang AS tersebut, pihak The Boeing Co. sebelumnya telah secara resmi menghentikan kampanye pemasarannya untuk jet tempur F-15EX ke Indonesia.
Baca di Sini: Boeing resmi menghentikan kampanye penjualan F-15EX ke Indonesia, Kemhan: Harganya kemahalan…
Langkah ini menandai pergeseran dinamika negosiasi pengadaan alutsista utama udara yang sebelumnya sempat digadang-gadang menjadi salah satu pilar modernisasi TNI AU.
Penghentian kampanye penawaran tersebut menyulut berbagai spekulasi terkait keberlanjutan rencana akuisisi 24 unit jet tempur generasi 4,5 buatan AS itu oleh Kementerian Pertahanan RI.
Hambatan terkait penyelesaian alokasi anggaran, skema pembiayaan, hingga kalkulasi kompensasi imbal dagang dan alih teknologi diduga menjadi faktor krusial di balik keputusan Boeing menangguhkan promosi aktif F-15EX ke Jakarta. (PN)

Perang Iran jadi pembelajaran, bagusan produksi drone murah daripada F15 mahal, yang pemakaiannya harus di sesuaikan dengan keinginan AS
Ngapain beli pesawat mahal2 sudah ngg sesuai strategi perang masa depan, hanya menguntungkan Amerika, secanggih apapun alurista Amerika, tidak akan efektif digunakan bila berseberangan dengan kepentingan mereka, buang2 duit