NC212, Si Mungil yang Berusaha Datangkan Hujan di Tengah Kebakaran Hutan Kalimantan
TNI AUAIRSPACE REVIEW – Di balik pekatnya kabut asap yang menyelimuti langit Kalimantan, deru mesin turboprop terdengar membelah angkasa. Tiga pesawat mungil NC212 dari Skadron Udara 4, Lanud Abdulrachman Saleh, dikerahkan TNI AU untuk memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Terbang langsung dari Malang, Jawa Timur sejak Jumat (21/8/2026), armada dari Skadron “Walet” ini bergerak menuju Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur demi menanggulangi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian meluas.
Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispenau) Marsma TNI I Nyoman Suadnyana menegaskan bahwa pengerahan tiga pesawat NC212 tersebut merupakan bentuk dukungan penuh TNI AU dalam pelaksanaan OMC guna mengurangi dampak bencana karhutla di wilayah Kalimantan.
Kehadiran tiga pesawat ini sekaligus menambah kekuatan armada udara yang sudah beroperasi di garis depan.
20 Pesawat Berbagai Jenis
Saat ini, sebanyak 20 pesawat berbagai jenis yang dikerahkan oleh BPBD telah aktif bekerja di langit Kalimantan, terdiri atas lima helikopter, tiga pesawat modifikasi cuaca, serta 12 helikopter besar yang khusus menjalankan misi pengeboman air (water bombing).
Secara keseluruhan, pemerintah dan lembaga terkait telah menyiagakan 42 pesawat di enam provinsi rawan karhutla, yaitu Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.
Dari total armada tersebut, sebanyak 20 pesawat dipusatkan di wilayah Kalimantan, sementara 22 pesawat lainnya disiagakan untuk mengamankan kawasan Sumatra.
Menembus Jarak Panjang Akibat Kabut Asap
Di tengah kepungan puluhan helikopter pemadam berukuran besar, peran NC212 tidak tergantikan dalam misi presisi menjemput hujan.
Melakukan modifikasi cuaca di atas wilayah yang terpapar karhutla membutuhkan kombinasi presisi navigasi, analisis meteorologi cepat, dan keberanian menembus jarak pandang yang minim akibat kabut asap.
Tim meteorologi di darat terlebih dahulu memantau pergerakan awan kumulus yang berpotensi menghasilkan hujan sebelum mengarahkan pesawat ke sasaran.
NC212 kemudian terbang menembus awan pada ketinggian ideal, hingga ketinggian sekitar 10.000 kaki, untuk menyemai bahan semai berupa garam halus khusus (NaCl) yang bertindak sebagai inti kondensasi penarik uap air.
Meski berukuran relatif kecil dibandingkan pesawat angkut militer lainnya, NC212 memiliki keunggulan spesifik yang menjadikannya armada ideal untuk OMC.
Dengan kemampuan lepas landas dan mendarat di landasan pendek (STOL), pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) ini sangat fleksibel beroperasi dari bandara-bandara perintis terdepan yang paling dekat dengan titik api.
Kelincahannya beroperasi di ketinggian relatif rendah juga membuat NC212 sangat efektif menjangkau kelompok awan lokal yang tipis untuk disemai bahan pemicu hujan.
Tentu saja perjuangan para penerbang Skadron Udara 4 di atas Bumi Khatulistiwa tidak bebas dari hambatan.
Pekatnya asap sering kali mengaburkan pandangan pilot, sementara hawa panas ekstrem yang membumbung dari karhutla di darat dapat mengganggu kestabilan atmosfer.
Kendati demikian, setiap kali armada NC212 ini lepas landas, tim penerbang dan ilmuwan terus berpacu dengan waktu sebelum awan potensial hilang terbawa angin.
Kerja keras si mungil ini menjadi bukti nyata kesiapsiagaan prajurit TNI AU dan teknologi penerbangan nasional dalam memadamkan api, melindungi paru-paru dunia, serta membebaskan masyarakat Kalimantan dari cengkeraman bencana asap.
Bukan Perkara Mudah
Mendatangkan hujan di tengah musim kemarau yang panas dan kering memang bukan perkara mudah. Terciptanya hujan sangat diharapkan karena merupakan metode paling efektif untuk memadamkan api yang terus meluas hingga menembus lapisan lahan gambut yang dalam.
Jika pemadaman darat dan water bombing kerap hanya menjangkau permukaan, guyuran hujan alami berintensitas tinggi sanggup membasahi tanah hingga ke dalam perut bumi dan mematikan bara api tersembunyi yang berpotensi memicu kebakaran susulan.
Pelaksanaan OMC oleh TNI AU dilakukan melalui koordinasi dan kerja sama antara TNI AU, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, serta Otorita IKN.
Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan pelaksanaan operasi dapat berlangsung secara tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi cuaca di wilayah yang membutuhkan. (RNS)
