USS George Washington Ambil Alih Misi Usai Rekor 200 Hari Tanpa Tepi USS Abraham Lincoln

USS George Washington CVN-73US Navy
Kapal induk AS USS George Washington (CVN-73).

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) merotasi armada tempurnya di kawasan pertahanan strategis Timur Tengah. Kapal induk bertenaga nuklir USS George Washington (CVN-73) dikirim untuk mengambil alih posisi USS Abraham Lincoln (CVN-72), yang baru saja memecahkan rekor operasional setelah berlayar lebih dari 200 hari berturut-turut di laut lepas tanpa sempat singgah di pelabuhan (port call).

Pergantian ini tidak sekadar rotasi kekuatan militer rutin, melainkan juga respons terhadap eskalasi tekanan operasional serta laporan mengenai memburuknya kondisi hidup dan kesehatan mental ribuan prajurit di atas kapal.

USS Abraham Lincoln, yang pertama kali berlayar meninggalkan Pangkalan Angkatan Laut San Diego pada November lalu, dialihkan rutenya ke kawasan Timur Tengah dan Laut Arab sejak awal tahun demi mendukung berbagai operasi militer AS di wilayah tersebut.

Info Lainnya: Selesai misi memburu Maduro dan gempur Iran, kapal induk USS Gerald R. Ford pulang ke Virginia

Selama berbulan-bulan, armada tempur samudra ini menjadi tulang punggung pertahanan udara dan blokade maritim, menjalankan lebih dari 10.000 sorti penerbangan di medan tempur intensif.

Namun, durasi penugasan yang terus diperpanjang tanpa jeda menciptakan dampak signifikan bagi fisik dan mental sekitar 5.000 awak kapal.

Penurunan Moral Prajurit

Anggota Kongres AS, termasuk Senator Richard Blumenthal, menyuarakan keprihatinan mendalam kepada jajaran pimpinan militer terkait minimnya fasilitas kesejahteraan di atas kapal.

Laporan yang masuk ke Kongres menyoroti krisis pasokan barang kebutuhan dasar. Mulai dari kelangkaan makanan segar, kontaminasi pasokan air bersih, kerusakan sistem perpipaan dan sanitasi, keterlambatan pengiriman surat dari keluarga, hingga ancaman keselamatan di atas geladak akibat kelelahan fisik ekstrem.

Isu penurunan moral prajurit ini mendorong desakan agar Pentagon memberikan kejelasan jadwal kepulangan armada.

Meski pejabat US Navy menegaskan bahwa layanan kesehatan medis dan konseling spiritual di atas kapal tetap berjalan, pihak militer menyadari bahwa batas ambang ketahanan prajurit tidak boleh diabaikan demi menjaga kesiapan tempur jangka panjang.

Kehadiran AS di Timur Tengah Tetap Terjaga

Kehadiran USS George Washington, yang sebelumnya disiagakan di Pangkalan Yokosuka, Jepang, dan telah menyelesaikan latihan serta patroli rutin di kawasan Indo-Pasifik, menjadi solusi operasional untuk mengambil alih komando di Laut Arab.

Pergeseran armada bertenaga nuklir kelas Nimitz ini sekaligus memastikan bahwa kehadiran militer dan proyeksi kekuatan AS di perairan strategi Timur Tengah tetap terjaga tanpa terputus.

Di sisi lain, pengalihan USS George Washington dari Asia Timur ke Timur Tengah menjadi sorotan para pengamat geopolitik.

Pergerakan ini berdampak pada penyesuaian postur pertahanan AS di kawasan Pasifik Barat, di mana US Navy kini bersiap menyiapkan kapal induk pengganti lainnya, seperti USS Theodore Roosevelt (CVN-71), guna mengisi kekosongan armada di wilayah Indo-Pasifik.

Baca di Sini: AS kembali kerahkan kapal induk USS Theodore Roosevelt, bersiap menuju Timur Tengah

Bagi ribuan marinir dan prajurit Angkatan Laut di USS Abraham Lincoln, kedatangan USS George Washington menjadi kabar lega yang dinantikan sekian lama.

Setelah menyelesaikan serah terima tugas di laut lepas, USS Abraham Lincoln dijadwalkan segera berlayar kembali menuju pelabuhan asal untuk merapatkan kapal, menjalani perawatan armada berkala.

Selain itu, yang paling utama adalah memberikan kesempatan bagi seluruh prajurit untuk berkumpul kembali bersama keluarga usai menuntaskan misi penuh tekanan di lautan lepas. (RW)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *