Selesai misi memburu Maduro dan gempur Iran, kapal induk USS Gerald R. Ford pulang ke Virginia

USS Gerald R FordUS Navy

AIRSPACE REVIEW – Kapal induk tercanggih dan terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford (CVN-78), dijadwalkan segera kembali ke pangkalan asalnya di Norfolk, Virginia.

Kepulangan ini menandai berakhirnya misi penugasan (deployment) bersejarah selama lebih dari 300 hari yang melibatkan serangkaian operasi militer tingkat tinggi di dua belahan dunia.

New York Post pada Rabu (29/4) memberitakan, kapal induk bertenaga nuklir ini akan meninggalkan perairan Timur Tengah dalam hitungan hari.

Kapal tersebut diperkirakan akan disambut oleh ribuan keluarga pelaut di Naval Station Norfolk pada pertengahan Mei mendatang.

Penugasan USS Gerald R. Ford kali ini dianggap sebagai salah satu yang paling intens dalam sejarah modern Angkatan Laut AS (US Navy).

Pada Oktober lalu, kapal ini dikerahkan ke Laut Karibia sebagai bagian dari armada besar AS. Kehadirannya menjadi kunci dalam operasi militer yang berujung pada penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro.

Tak lama setelah misi di Karibia, CVN-78 diperintahkan bergerak cepat menembus Terusan Suez menuju Timur Tengah.

Kapal ini berada di garis depan selama fase awal konflik bersenjata dengan Iran guna memberikan perlindungan udara dan kekuatan serangan jarak jauh.

Rekor Penugasan Terlama

Dengan durasi mencapai 295 hari di laut hingga saat ini, USS Gerald R. Ford resmi memecahkan rekor penugasan kapal induk terlama di era pasca-Perang Dingin, melampaui rekor USS Abraham Lincoln (CVN-72) pada tahun 2020.

Namun, rekor ini tidak diraih tanpa hambatan. Selama bertugas, kapal sempat mengalami insiden teknis berupa kebakaran di ruang binatu.

Meskipun tidak ada korban jiwa, insiden tersebut sempat memicu kekhawatiran mengenai beban kerja kapal yang dipacu hingga batas maksimal.

Menteri Perang AS Pete Hegseth menyatakan bahwa penarikan USS Gerald R. Ford dilakukan setelah posisinya digantikan oleh USS George H.W. Bush (CVN-77).

Saat ini, AS masih menyiagakan tiga kapal induk di wilayah tersebut sebagai langkah antisipasi selama masa gencatan senjata yang sensitif dengan Iran.

Kepulangan USS Gerald R. Ford menjadi momen yang sangat dinantikan oleh sekitar 4.500 kru kapal yang telah beroperasi di bawah tekanan tinggi selama hampir sepuluh bulan terakhir.

USS Gerald R. Ford merupakan kapal pertama dari kelas terbaru kapal induk AS yang dirancang untuk menggantikan kelas Nimitz secara bertahap.

Sebagai kapal induk tercanggih di dunia, USS Gerald R. Ford mengusung teknologi mutakhir seperti Electromagnetic Aircraft Launch System (EMALS) yang menggantikan sistem ketapel uap tradisional, serta Advanced Arresting Gear (AAG).

Inovasi ini memungkinkan kapal untuk meluncurkan dan mendaratkan berbagai jenis pesawat, mulai dari jet tempur ringan hingga pesawat tanpa awak, dengan tingkat efisiensi yang jauh lebih tinggi dan beban mekanis yang lebih rendah pada badan pesawat.

Selain keunggulan pada sistem penerbangan, kapal induk bertenaga nuklir ini dilengkapi dengan reaktor nuklir generasi terbaru, A1B, yang mampu menghasilkan daya listrik tiga kali lipat lebih besar dibandingkan pendahulunya.

Pasokan daya yang masif ini disiapkan untuk mendukung penggunaan senjata masa depan, seperti sistem pertahanan laser dan senjata energi terarah (directed-energy weapons).

Desain dek penerbangannya juga dibuat lebih luas dengan memindahkan posisi island (menara komando) lebih ke arah belakang, yang bertujuan untuk mempercepat proses pengisian bahan bakar dan persenjataan pesawat (pit stop) di atas kapal.

Meskipun biaya pembangunannya mencapai angka fantastis sekitar 13 miliar dolar AS, kapal ini dirancang untuk memiliki biaya operasional jangka panjang yang lebih rendah karena membutuhkan jumlah kru yang lebih sedikit berkat otomatisasi tingkat tinggi.

Kepulangannya ke Virginia kali ini tidak hanya menjadi akhir dari misi tempur yang melelahkan, tetapi juga menjadi kesempatan penting bagi Angkatan Laut AS untuk mengevaluasi kinerja sistem-sistem barunya setelah diuji secara ekstrem dalam kondisi konflik nyata di Karibia dan Timur Tengah. (RW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *