Australia Kerahkan Jet Perang Elektronik MC-55A Peregrine ke Laut China Selatan, Ada Apa?

MC-55A Peregrine_L3HarrisL3Harris Technologies
Jet Perang Elektronik MC-55A Peregrine RAAF.

AIRSPACE REVIEW – Australia resmi mengerahkan jet perang elektronik MC-55A Peregrine ke Laut China Selatan (LCS) dalam misi operasional luar negeri pertamanya.

Berdasarkan data pelacakan penerbangan publik, pesawat canggih milik Angkatan Udara Australia (RAAF) ini beroperasi dari Pangkalan Udara Clark di Filipina untuk menjalankan fungsi intelijen, pengawasan, pengintaian, dan perang elektronik (airborne intelligence, surveillance, reconnaissance, and electronic warfare/AISREW) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan.

Data penerbangan dari Flightradar24 menunjukkan bahwa MC-55 dengan nomor seri A51-004 terbang dari markas besarnya di RAAF Base Edinburgh, Australia Selatan, menuju Pangkalan Udara Clark pada 28 Juli.

Seperti dilaporkan Australian Defense Magazine yang dikutip TWZ, pesawat tersebut telah melakukan sedikitnya tujuh misi penerbangan dari Clark antara 30 Juli hingga 7 Agustus.

Dengan durasi penerbangan rata-rata empat hingga sembilan jam, MC-55 sebagian besar mengudara di wilayah udara Filipina dekat Pulau Mindoro dan Palawan.

Namun, dalam empat kesempatan terpisah, pesawat ini menembus lebih jauh ke arah barat menuju LCS sambil mematikan sistem transpondernya (went dark) selama tiga hingga empat jam.

Operasional Jangka Panjang

Angkatan Bersenjata Australia (ADF) menegaskan pengerahan ini merupakan bagian dari komitmen operasional jangka panjang Australia di kawasan Indo-Pasifik, meskipun mereka menolak memberikan rincian operasional lebih lanjut.

Durasi waktu ketika transponder pesawat dimatikan mengindikasikan bahwa area pemantauan utama MC-55 mencakup berbagai gugusan karang dan fitur maritim yang dipersengketakan, termasuk Kepulauan Spratly dan Karang Scarborough (Scarborough Shoal).

Kepulauan Spratly sendiri diklaim oleh China, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam, di mana Beijing telah membangun pangkalan militer kuat berupa pulau-pulau buatan lengkap dengan landasan pacu, hanggar, serta sistem pertahanan rudal dan radar.

Sementara itu, Karang Scarborough, yang berjarak sekitar 100 mil dari Filipina dan 500 mil dari China, juga menjadi titik sengketa sengit antara Beijing dan Manila.

Klaim kedaulatan China yang sangat luas atas LCS rutin disokong oleh patroli militer udara dan laut, yang dibalas oleh Amerika Serikat dan sekutunya melalui operasi kebebasan navigasi (freedom of navigation operations).

Teknologi RC-135 Rivet Joint

Australia selama ini turut serta dalam misi pengawasan maritim di Laut China Selatan menggunakan pesawat patroli maritim P-8A Poseidon serta armada lama AP-3C (EW) Orion yang dioperasikan oleh Skadron No. 10.

Kini, skadron tersebut dipercaya mengoperasikan armada baru MC-55A Peregrine, di mana tiga dari empat unit yang dipesan telah resmi dikirimkan ke Australia sejak awal tahun ini.

Diproduksi dari basis jet bisnis Gulfstream G550 yang dimodifikasi secara intensif oleh L3Harris, MC-55 dilengkapi berbagai sensor canggih untuk mengintegrasikan misi perang elektronik (EW), intelijen sinyal (SIGINT), serta pengawasan dan pengintaian (ISR) dalam satu platform.

Pesawat ini mengadopsi teknologi yang diturunkan langsung dari pesawat intelijen RC-135 Rivet Joint milik AS serta diduga kuat dilengkapi radar active electronically scanned array (AESA) untuk serangan elektronik jarak jauh dan pengumpulan data intelijen pasif.

Baca di Sini: Australia menerima pesawat MC-55A Peregrine pertamanya: Bintang utama baru dalam intelijen udara dan peperangan elektronik di Indo-Pasifik

MC-55 juga mampu berfungsi sebagai hub jaringan data yang menghubungkan jet tempur, kapal perang, dan pasukan darat.

Pengerahan perdana MC-55 ke Pangkalan Udara Clark menandai pergeseran strategi Australia dari yang sebelumnya mengandalkan P-8A untuk pengawasan maritim biasa, menjadi pengoperasian kapabilitas SIGINT/EW terspesialisasi yang bekerja secara berdampingan.

Ke depan, RAAF juga merencanakan pengerahan MC-55 ke Kepulauan Cocos di Samudra Hindia. Langkah ini secara signifikan meningkatkan jangkauan intelijen perang elektronik ADF dan sekutunya dalam memantau radar, komunikasi, pertahanan udara, serta pergerakan militer Tiongkok di seluruh kawasan Indo-Pasifik. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *