Dipayungi jaring antidrone, Korsel dan AS daratkan truk-truk jumbo dari feri modular
USMCAIRSPACE REVIEW – Personel militer Korea Selatan dan Amerika Serikat berhasil mendemonstrasikan metode logistik perang laut terbaru dalam latihan gabungan Combined Joint Logistics Over-the-Shore 26 (CJLOTS 26) di Pantai Dogu, Pohang.
Dalam operasi penyeberangan jalur laut ke darat ini, militer Korea Selatan berhasil mendaratkan truk-truk raksasa (jumbo) Korps Marinir AS (USMC) menggunakan sistem feri modular yang dilengkapi dengan jaring pelindung antidrone (anti-drone netting).
Latihan yang berlangsung pada 9 Juli 2026 ini menyimulasikan skenario di mana dermaga atau pelabuhan utama rusak, tidak tersedia, atau berada di bawah ancaman musuh. Sistem logistik mandiri tanpa pelabuhan tetap ini menjadi kunci agar pasukan sekutu tetap bisa menyalurkan pasokan tempur di wilayah konflik.
Menembus Pantai Tanpa Pelabuhan
Operasi logistik canggih ini mengandalkan Improved Navy Lighterage System (INLS), sebuah sistem ponton modular bongkar pasang milik Angkatan Laut AS (US Navy).
INLS bekerja seperti struktur lego raksasa yang fleksibel. Beberapa modul digabungkan menjadi fasilitas transfer terapung di dekat kapal pembawa pasokan, lalu kendaraan militer akan meluncur ke feri modular berukuran panjang sekitar 82 meter yang ditenagai mesin waterjet khusus.
Baca Juga: Kapal pendaratan Matilda 1 pesanan Korps Marinir AS mulai diuji coba, dapat membawa muatan 550 ton
Feri tangguh berkekuatan 300 ton ini kemudian melakukan prosedur “beach stabbing”, yaitu menabrakkan ujung ram penyeberangan langsung ke pasir pantai untuk memberikan jalan keluar yang stabil bagi kendaraan berat.
Dalam uji coba tersebut, feri modular ini sukses mendaratkan Oshkosh LVSR (Logistics Vehicle System Replacement), truk logistik raksasa 10X10 milik USMC dengan bobot kosong mencapai 24 ton.
Tameng Pasif Hadapi Serangan Drone
Hal yang paling mencuri perhatian pengamat militer dalam latihan kali ini adalah bentangan jaring pembungkus berwarna hijau (green mesh) di atas geladak kargo feri. Langkah ini diambil karena Komando Pasukan Gabungan (CFC) mulai memasukkan ancaman pesawat tanpa awak (UAS/drone) ke dalam zona logistik garis belakang.
Jaring yang ditopang oleh tiang-tiang khusus ini berfungsi sebagai barikade pasif. Konsepnya meniru panduan pencegahan dari U.S. Joint Interagency Task Force, di mana jaring udara dan kabel tegang sengaja dipasang untuk menciptakan gangguan fisik bagi baling-baling drone intai atau drone ringan (quadcopter).
Selain mempersulit visualisasi muatan dari udara, jaring ini menjadi benteng mekanis darurat agar drone tidak bisa menabrak langsung kendaraan logistik di bawahnya secara vertikal.
Para analis pertahanan mencatat jaring ini merupakan langkah adaptasi berbiaya rendah dan bersifat pasif. Namun jaring ini tentu tidak dirancang untuk menggantikan sistem pertahanan udara berlapis, terutama dalam menghadapi drone kamikaze (one-way attack drone) berukuran besar atau FPV drone yang menyelinap dari celah samping jaring yang terbuka.
Tantangan Celah Logistik
Penggunaan feri modular juga bukan tanpa risiko. Dengan kecepatan jelajah feri yang hanya 10 knot (18 km/jam), perjalanan logistik dari kapal induk di tengah laut menuju bibir pantai bisa memakan waktu hingga hitungan jam.
Selama transit, feri bergerak di jalur yang dapat diprediksi dengan ruang manuver yang sangat terbatas, serta tanpa persenjataan organik di atas kapal. Oleh karena itu, keselamatan feri sepenuhnya bergantung pada perlindungan tim pertahanan udara lokal dan penguasaan area pantai.
Kendati memiliki tantangan taktis, latihan CJLOTS 26 mencatatkan sejarah penting bahwa untuk pertama kalinya kapal logistik Amerika Serikat dibongkar muat sepenuhnya menggunakan sistem ponton dan feri militer milik Korea Selatan.
Keberhasilan interoperabilitas (kerja sama sistem) kedua negara ini membuktikan bahwa rantai pasokan militer sekutu di Indo-Pasifik tetap dapat bergerak secara fleksibel, tersebar, dan adaptif terhadap gaya perang modern. (PN)
